Paksa Messenger

Kami Menyediakan Referensi, Kami Membantu, Kami Menolak PLAGIATISME

Sabtu, 20 Februari 2010

Penerapan Metode Pembelajaran Kooperatif Group Investigation (GI) Dalam Meningkatkan Kompetensi Mata Pelajaran Ekonomi

Penerapan Metode Pembelajaran Kooperatif Group Investigation (GI) Dalam Meningkatkan Kompetensi Mata Pelajaran Ekonomi Pada Siswa Kelas VII SMP Negeri 16 Surakarta Tahun Pelajaran 2005/2006

ABSTRAK


xxxxxxxxxxxxxxx, Penerapan Metode Pembelajaran Kooperatif Group Investigation (GI) Dalam Meningkatkan Kompetensi Mata Pelajaran Ekonomi Pada Siswa Kelas VII SMP Negeri 16 Surakarta Tahun Pelajaran 2005/2006. Skripsi, Surakarta: Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan.Universitas Sebelas Maret Surakarta, Desember 2006.

Tujuan penelitian ini adalah untuk meningkatkan: (1) Keaktifan siswa secara keseluruhan siswa kelas VII E SMP Negeri 16 Surakarta tahun pelajaran 2005/2006, (2) Hasil belajar siswa kelas VII E SMP Negeri 16 Surakarta.
Metodologi penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas. Subjek penelitian adalah siswa kelas VII E SMP Negeri 16 Surakarta tahun pelajaran 2005/2006, sejumlah 40 siswa. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan melalui kegiatan berupa: (a) observasi keaktifan siswa selama kegiatan pembelajaran berlangsung; (b) wawancara kepada siswa; (c) ulangan harian. Prosedur pelaksanaan tindakan meliputi: (a) perencanaan tindakan; (b) pelaksanaan tindakan; (c) observasi; (d) analisis dan refleksi.
Hasil penelitian mengalami peningkatan apabila dibandingkan dengan sebelum penerapan metode GI, yaitu pada aspek semangat dalam KBM pada siklus I yaitu indikator BS= 5%; B= 70%; C= 22,5%; K= 2,5% dan pada siklus II indikator BS= 17,5%; B= 67,5%; C= 15%. Pada pengukuran aspek kerjasama antar siswa mengalami peningkatan yaitu pada siklus I indikator B= 22,5%; C= 70%; K= 7,5% dan pada siklus II indikator BS= 2,5%; B= 32,5%; C= 60%; K= 5%. Pengukuran aspek mengeluarkan pendapat untuk memecahkan masalah mengalami peningkatan yaitu pada siklus I indikator B= 20%; C= 47,5%; K= 32,5% dan pada siklus II indikator BS= 7,5%; B= 22,5%; C= 57,5%; K= 12,5%. Pengukuran aspek memberikan pertanyaan juga mengalami peningkatan yaitu pada siklus I indikator BS= 2,5%; B= 5%; C= 67,5%; K= 15% dan pada siklus II indikator BS= 7,5%; B= 22,5%; C= 57,5%; K= 12,5%. Rata-rata ulangan harian siswa siklus II juga mengalami peningkatan sebesar 1,05 (siklus I= 6,31; siklus II= 7,36). Sehingga dapat disimpulkan bahwa metode pembelajaran kooperatif Group Investigation dapat meningkatkan keaktifan siswa dan hasil belajar siswa

DAFTAR PUSTAKA

Arends, R.I. 1997. Classroom Instruction and Management. New Jersey: The Mc.Graw Hill Companies, Inc.
A. Suhaenah Suparno. 2001. Membangun Kompetensi Belajar. Jakarta: Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan Nasional.
Balitbang Depdiknas. 2002. Penilaian Berbasis Kelas. Jakarta: Depdikbud.
Enco Mulyasa. 2003. Kurikulum Berbasis Kompetensi: Konsep, Karakteristik, dan Implementasi. Bandung: Remadja Rosda Karya.
Elliott, Stephen.N. 2000. Educational Psychology: Effective Teaching, Effective Learning. Boston: Mc Graw Hill.
H.B. Sutopo. 2002. Metodologi Penelitian Kualitatif. Surakarta: Sebelas Maret University Press.
(http://www.naskahakademik.net, 23 April 2006).
Joyce, Bruce.R. 2000. Models of Teaching. Boston: Allyn and Bacon.
Kagan, Spencer. 1985. “Dimension of Cooperative Classroom Structure” dalam Slavin, R.E. Learning to Cooperate, Cooperate to Learn. 72-73. London: Plenum Press.
Kasihani Kasbolah. 2001. Penelitian Tindakan Kelas. Malang: Universitas Negeri Malang.
Kessler, Carolyn. 1992. Cooperative Language Learning: A Teacher’s Resource Book. New Jersey: Prentice Hall Regents.
Lexy. J. Moleong. 2004. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.
Lie, Anita. 2004. Cooperative Learning: Mempraktikkan Cooperative Learning di Ruang-ruang Kelas. Jakarta: PT. Gramedia Widia Sarana Indonesia.
Muhibbin Syah. 1995. Psikologi Pendidikan. Bandung: Remadja Rosda Karya.
Nurhadi. 2004. Kurukulum 2004 (Pertanyaan dan Jawaban). Jakarta: PT. Gramedia Widia Sarana Indonesia.
Roestiyah N.K 2001. Strategi Belajar Mengajar (Salah Satu Unsur Pelaksanaan Strategi Belajar Mengajar : Teknik Penyajian). Jakarta: Rineka Cipta.
Suhaida Abdul Kadir. 2002. Perbandingan Pembelajaran Kooperatif dan Tradisional Terhadap Prestasi, Atribusi Pencapaian, Konsep Kondisi Akademik dan hubungan Sosial Dalam Pendidikan Perakaunan. Malaysia: Universiti Putra Malaysia.
Usman H.B. 2001. Jurnal Ilmu Pendidikan (meningkatkan Pemahaman Mahasiswa Tentang Konsep Limit Fungsi Satu Variabel real Melalui Pembelajaran Kooperatif). Malang: Universitas Negeri Malang.
W. Gulo. 2002. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: PT. Gramedia Widia Sarana Indonesia.
Zainal Arifin. 1990. Evaluasi Instruksional. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.

Untuk mendapatkan file lengkap (Ms.Word / Pdf) hubungi : 08572 8000 963

KTSP DAN PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA

KTSP DAN PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA


1. Pendahuluan

Dunia pendidikan Indonesia dalam beberapa tahun terakhir ini diramaikan oleh isu pergantian kurikulum. Kurikulum yang berlaku sampai tahun 2006 adalah Kurikulum 1994. Kurikulum ini mengalami penyempurnaan dan hasil penyempurnaan ini adalah Kurikulum 2004 atau juga dikenal dengan sebutan KBK (Kurikulum Berbasis Kompetensi). Ketika KBK ramai dibicarakan dan muncul buku-buku pelajaran yang disusun berdasarkan kurikulum ini, muncul KTSP atau Kurikulum 2006 yang merupakan penyempurnaan dari KBK. KTSP mulai diberlakukan secara berangsur-angsur pada tahun ajaran 2006/2007.

Adanya tiga macam kurikulum yang berlaku paling tidak pada awal pemberlakuan KTSP sangat membingungkan. Situasi ini diperparah dengan munculnya kesimpangsiuran informasi tentang KBK dan KTSP yang beredar di masyarakat. Guru sebagai orang yang berhubungan langsung dengan pelaksanaan kurikulum merupakan pihak yang paling dibingungkan dengan situasi ini. Tulisan ini akan membahas beberapa hal yang dapat dilakukan guru dalam menghadapi KTSP.

2. KTSP

KTSP atau Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan adalah kurikulum operasional yang disusun, dikembangkan, dan dilaksanakan oleh setiap satuan pendidikan dengan memperhatikan standar kompetensi dan kompetensi dasar yang dikembangkan Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP). Kurikulum ini juga dikenal dengan sebutan Kurikulum 2006 karena kurikulum ini mulai diberlakukan secara berangsur-angsur pada tahun ajaran 2006/2007. Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah harus sudah menerapkan kurikulum ini paling lambat pada tahun ajaran 2009/2010.

KTSP merupakan penyempurnaan dari Kurikulum 2004 atau yang juga dikenal dengan KBK (Kurikulum Berbasis Kompetensi). Seperti KBK, KTSP berbasis kompetensi. KTSP memberikan kebebasan yang besar kepada sekolah untuk menyelenggarakan program pendidikan yang sesuai dengan (1) kondisi lingkungan sekolah, (2) kemampuan peserta didik, (3) sumber belajar yang tersedia, dan (4) kekhasan daerah. Dalam program pendidikan ini, orang tua dan masyarakat dapat terlibat secara aktif.

Pengembangan dan penyusunan KTSP merupakan proses yang kompleks dan melibatkan banyak pihak: guru, kepala sekolah, guru (konselor), dan komite sekolah. Berikut ini akan dibahas beberapa hal yang dapat dilakukan guru dalam menghadapi KTSP.

3. Bahan Ajar

Karena KTSP dikembangkan dan disusun oleh satuan pendidikan atau sekolah sesuai dengan kondisinya masing-masing, setiap sekolah mempunyai kurikulum yang berbeda. Dengan demikian, bahan ajar yang digunakan juga mempunyai perbedaan. Tidak ada ketentuan tentang buku pelajaran yang dipakai dalam KTSP. Buku yang sudah ada dapat dipakai. Karena pembelajaran didasarkan pada kurikulum yang dikembangkan sekolah, bahan ajar harus disesuaikan dengan kurikulum tersebut. Oleh karena itu, guru dapat mengurangi dan menambah isi buku pelajaran yang digunakan.

Dengan demikian, guru harus mandiri dan kreatif. Guru harus menyeleksi bahan ajar yang digunakan dalam pembelajaran sesuai dengan kurikulum sekolahnya.Guru dapat memanfaatkan bahan ajar dari berbagai sumber (surat kabar, majalah, radio, televisi, internet, dsb.). Bahan ajar dikaitkan dengan isu-isu lokal, regional, nasional, dan global agar peserta didik nantinya mempunyai wawasan yang luas dalam memahami dan menanggapi berbagai macam situasi kehidupan.

Untuk pelajaran membaca, misalnya, bahan bacaan dapat diambil dari surat kabar. Di samping surat kabar yang berskala nasional yang banyak menyajikan isu-isu nasional, ada surat kabar lokal yang banyak menyajikan isu-isu daerah. Kedua jenis sumber ini dapat dimanfaatkan. Bahan bacaan yang mengandung muatan nasional dan global dapat diambil dari surat kabar berskala nasional, sedangkan bahan bacaan yang mengandung muatan lokal dapat diambil dari surat kabar daerah. Berdasarkan bahan bacaan ini, guru dapat mengembangkan pembelajaran bahasa Indonesia yang kontekstual. Peserta didik diperkenalkan dengan isu-isu yang menjadi perhatian masyarakat di sekitarnya dan masyarakat yang tatarannya lebih luas.

Bahan ajar yang beragam jenis dan sumbernya ini tentu juga dapat digunakan untuk pelajaran-pelajaran yang lain (menulis, mendengarkan, dan berbicara).

Mengingat pentingnya televisi dan komputer (internet) dalam kehidupan sekarang ini, guru perlu memanfaatkan bahan ajar dari kedua sumber ini. Televisi dan komputer juga dapat dapat dipakai sebagai media pembelajaran yang menarik.

4. Metode Pembelajaran

Dalam KTSP guru juga diberi kebebasan untuk memanfaatkan berbagai metode pembelajaran. Guru perlu memanfaatkan berbagai metode pembelajaran yang dapat membangkitkan minat, perhatian, dan kreativitas peserta didik. Karena dalam KTSP guru berfungsi sebagai fasilitator dan pembelajaran berpusat pada peserta didik, metode ceramah perlu dikurangi. Metode-metode lain, seperti diskusi, pengamatan, tanya-jawab perlu dikembangkan.

Pembelajaran yang dilakukan melalui diskusi, misalnya, dapat melibatkan partisipasi dari semua peserta didik. Semua peserta didik dapat berbicara, mengemukakan pendapatnya masing-masing. Guru dalam hal ini hanya mengarahkan bagaimana diskusi berjalan. Isu diskusi perlu dikaitkan dengan lingkungan sekitar (sekolah, daerah) hingga lingkungan global.

Kegiatan pembelajaran tidak selalu berlangsung di dalam kelas. Kegiatan dapat dilakukan di luar kelas (perpustakaan, kantin, taman, dsb.), di luar sekolah (mengunjungi lembaga bahasa, stasiun radio/televisi, penerbit, dsb.). Beragamnya tempat pembelajaran dapat membuat suasana belajar yang tidak membosankan.

Kegiatan pembelajaran dapat juga melibatkan orang tua dan masyarakat. Sekolah dapat mengundang orang yang mempunyai profesi tertentu atau ahli dalam bidang tertentu untuk berbicara dan berdialog dengan peserta didik. Sebagai contoh, dalam pelajaran menulis dan berbicara (wawancara), kalau ada orang tua peserta didik yang berprofesi sebagai wartawan, guru dapat mengundang orang yang bersangkutan untuk berbicara dan berdiskusi tentang pekerjaannya denga peserta didik. Kegiatan seperti ini akan berguna untuk peserta didik, guru, dan orang tua. Mereka dapat saling belajar dan proses pembelajaran menjadi menarik dan bersifat kontekstual.

Dalam lingkungan sekolah, staf sekolah juga dapat dimanfaatkan. Misalnya, untuk pelajaran menulis surat resmi guru bisa meminta staf administrasi untuk berbicara tentang penulisan surat. Di samping berguna sebagai sumber pembelajaran, kegiatan ini juga berguna untuk membentuk lingkungan sekolah yang kondusif, yaitu adanya hubungan dan kerja sama yang baik di antara peserta didik, guru, dan staf.

Kalau memungkinkan, kegiatan pembelajaran dapat dilakukan dengan kunjungan peserta didik kepada orang dengan profesi tertentu (misalnya penyunting bahasa atau penterjemah) atau ke lembaga tertentu (misalnya lembaga bahasa atau penerbit) untuk menggali informasi tentang bahasa Indonesia. Kegiatan ini akan membuka wawasan peserta didik dan guru akan profesi yang berkaitan dengan bahasa Indonesia dan akan pentingnya bahasa Indonesia sehingga diharapkan muncul sikap positif terhadap bahasa Indonesia.

5. KTSP: Peluang dan Tantangan

Pemberlakuan KTSP pada dasarnya dimaksudkan untuk meningkatkan mutu pendidikan melalui kemandirian sekolah. KTSP merupakan kurikulum yang sesuai dengan dinamika kehidupan di Indonesia sekarang ini dikaitkan dengan isu-isu seperti globalisasi dan otonomi daerah. Akan tetapi, pelaksanaan KTSP menuntut banyak hal dari sekolah dan masyarakat seperti profesionalisme, kreativitas, kemandirian guru dan kepala sekolah, serta keterlibatan masyarakat. Pelaksanaan KTSP juga menuntut banyak hal dari pemerintah seperti perencanaan pendidikan yang baik dan terarah, penyediaan sarana dan prasarana yang memadai, dan birokrasi/prosedur administrasi yang sederhana. KTSP juga menuntut partisipasi dan kepedulian masyarakat. Dengan persiapan yang matang dan suasana yang kondusif, KTSP berpeluang besar untuk menghasilkan peserta didik yang memiliki kompetensi yang diharapkan.

Tantangan bagi semua yang terlibat dalam penyelenggaraan pendidikan adalah meningkatkan profesionalisme. Dalam kaitannya dengan pembelajaran bahasa Indonesia, guru perlu terus meningkatkan kemampuannya dalam bidang pembelajaran dan berbahasa Indonesia.

6. Penutup

Pembelajaran bahasa Indonesia pada dasarnya bertujuan membekali peserta didik kemampuan berkomunikasi secara efektif dan efisien dalam bahasa Indonesia lisan dan tulis. Perubahan atau pergantian kurikulum selalu menimbulkan masalah dan kebingungan bagi semua yang terlibat dalam kegiatan pendidikan, terutama guru. Apa pun kurikulumnya, guru bahasa Indonesia harus tetap berpegang pada tujuan pembelajaran bahasa Indonesia. Guru perlu terus berusaha meningkatkan kemampuannya dan terus belajar untuk memberikan yang terbaik bagi peserta didik. Karena kurikulum yang akan berlaku dalam beberapa tahun mendatang adalah KTSP, guru perlu mengenal, mempersiapkan diri, dan menyiasati kurikulum ini. Dengan demikian, guru akan dapat menghadapi dan menanggulangi masalah-masalah yang muncul.

DAFTAR PUSTAKA

Alwasilah, A. Chaedar. 2006. “Kurikulum Bahasa Berbasis Sastra.” Makalah untuk Seminar Nasional Kondisi Bahasa Indonesia Masa Kini, Akademi Jakarta Taman Ismail Marzuki, Jakarta.

Drost, J. 2006. Dari KBK sampai MBS. Jakarta: Buku Kompas.

Mulyasa, E. 2002. Kurikulum Berbasis Kompetensi. Bandung: Remaja Rosdkarya.

Mulyasa, E. 2006. Kurikulum Satuan Pendidikan: Sebuah Panduan Praktis. Bandung: Remaja Rosdakarya.

_________. 2006. Kurikulum yang Disempurnakan. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Tilaar, H.A.R. 2006. Standarisasi Pendidikan Nasional: Statu Tinjauan Kritis. Yakarta: Rineka Cipta.

di copas dari blog tetangga sebelah

Senin, 15 Februari 2010

Prestasi Belajar Fisika Pokok Bahasan Getaran dan Gelombang

Prestasi Belajar Fisika Pokok Bahasan Getaran dan Gelombang

ABSTRAK

xxxxxxxxxxx. 2005. Prestasi Belajar Fisika Pokok Bahasan Getaran dan Gelombang melalui Pendekatan Problem Posing Berbasis Aktivitas di SMUN I Banjarmasin. Skripsi, Program Studi Pendidikan Fisika Jurusan Fisika FMIPA Unlam. Pembimbing (1), (II).

Kata kunci: Prestasi belajar, Problem Posing.

Pembelajaran IPA (sains) saat ini masih menggunakan sistem pembelajaran yang bersifat konvensional yaitu pembelajaran terpusat pada guru (teacher centered). Sistem pembelajaran tersebut juga diterapkan di SMUN I Lawang, hal itu akan dapat menyebabkan siswa menjadi pasif.
Tujuan dari penelitian ini yaitu (1) mengetahui prestasi belajar fisika manakah yang lebih tinggi antara siswa yang diajar melalui pendekatan problem posing berbasis aktivitas dibandingkan dengan siswa yang diajar dengan pendekatan konvensional, (2) mengetahui kemampuan siswa dalam merumuskan soal pada kelas yang diajar dengan pendekatan problem posing berbasis aktivitas.
Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas 1 SMUN I BJM tahun ajaran 2002/2003. Diantara 10 kelas yang ada dilakukan pengambilan sampel secara acak. Penelitian ini bersifat eksperimental semu, yang melibatkan variabel perlakuan berupa model pembelajaran dengan menggunakan pendekatan problem posing berbasis aktivitas yang dikenakan pada kelas eksperimen dan pada kelas kontrol menggunakan pendekatan konvensional untuk pokok bahasan getaran dan gelombang. Rancangan ini melibatkan dua kelas sampel, maka desain penelitian yang digunakan adalah Pre-test dan Post-test Control Group Desain. Kerangka rancangan dimulai dari uji coba instrumen dan pengambilan data, analisis uji instrumen dan analisis data serta uji hipotesis menggunakan uji-t satu pihak.
Hasil penelitian ini menunjukkan: (1) prestasi belajar fisika bagi siswa yang diajar melalui pendekatan problem posing berbasis aktivitas lebih tinggi dibandingkan dengan prestasi belajar fisika bagi siswa yang diajar melalui pendekatan konvensional, yang terlihat dari nilai rata-rata prestasi untuk kelas eksperimen adalah 84,47 sedangkan nilai rata-rata prestasi untuk kelas kontrol adalah 68,50 dan juga dilihat dari thitung > ttabel yaitu diperoleh thitung = 7,426 sedangkan ttabel (72; .05) = 2,647 (2) kemampuan merumuskan soal bagi kelas yang diajar melalui pendekatan problem posing berbasis aktivitas tergolong sangat baik yaitu mencapai 84,7 %.


DAFTAR RUJUKAN


Arikunto, Suharsimi. 1999. Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara.
Arikunto, Suharsimi. 2002. Prosedur Penelitian. Jakarta: PT. Rineka Cipta.
Depdikbud. 1995. Kurikulum Sekolah Menengah Umum Tingkat Atas GBPP Fisika. Jakarta: Dirjend Dikdasmen.
Foster, Bob. 1997. Terpadu Fisika SMU. Jakarta: PT. Erlangga.
Gita, Nyoman. 1999. Pengembangan Strategi Pengajuan Masalah dalam Pembelajaran Matematika di SMU. Aneka Widya STIKIP Singaraja, I: 23.
Hakim, Lukman. 1995. Pengantar Metodologi Penelitian Pendidikan. Malang: FMIPA IKIP MALANG.
Hudojo, Herman.1988. Mengajar dan Belajar Matematika. Jakarta: Depdikbud.
Hudojo, Herman.1998. Pembelajaran Matematika Menurut Pandangan Konstruktivistik. Makalah disajikan dalam Seminar Nasional; Upaya-upaya Meningkatkan Peran Pendidikan Matematika dalam Menghadapi Era Globalisasi. PPS. IKIP Malang: Tanpa penerbit.
Isparjadi.1988. Statistik Pendidikan. Jakarta: Depdikbud.
Kusairi, Sentot. 2000. Pembelajaran dengan Pendekatan Konstruktivis dan Kendala-kendala Implementasinya. FMIPA UM.
Najoan, Roeth Amerlin Ochressiati. 1999. Analisis Problem Posing Siswa Sekolah Dasar Negeri II Kecamatan Tomohon Kabupaten Minahasa pada Konsep Operasi Hitung Bilangan Cacah. Tesis tidak diterbitkan. Malang: Program Pasca Sarjana Universitas Negeri Malang.
Nasoetion, S. 1992. Berbagai Pendekatan dalam Proses Belajar dan Mengajar. Jakarta: Bina Aksara.
Ponder, Sarah Nixon. 1992. Teacher to Teacher: Using Problem Posing-
Posing Dialogue In Adult Literacy Education, (online), (http://Literacy.kent. Edu/Oasis/Pubs/0300-8.htm, diakses 8 Juni 2003).
Rahayuningsih, F. 2002. Perbandingan Penguasaan Konsep Getaran, Gelombang, Bunyi dan Penerapannya dalam Kehidupan Sehari-hari Siswa yang Diajar dengan Pendekatan Problem Posing dan Pendekatan Ceramah di SMK Pekerjaan Umum Malang. Skripsi tidak diterbitkan. Malang: Fakultas MIPA Universitas Negeri Malang.
Siegel, sidney.1986. Statistik Nonparametrik untuk Ilmu-ilmu Sosial. Jakarta: Gramedia.
Soedjadi, R. 2000. Kiat Pendidikan Matematika di Indonesia. Depdiknas.
Sudjana, Nana. 1990. Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar. Bandung: Remaja Rosdakarya.
Sudjana. 1996. Metode Statistik. Bandung.
Sungkowo, Bambang Tahan . 1997. Statistik Sebagai Alat analisis Data Penelitian. Malang: Jurusan Pendidikan Fisika FMIPA IKIP MALANG.
Suparno, Paul. 1997. Filsafat Konstruktivisme dalam Pendidikan. Yogyakarta: Kanisius.

Sutawidjaja. 1998. Pemecahan Masalah dalam Pembelajaran Matematika. Makalah disajikan dalam Seminar Nasional; Upaya-upaya Meningkatkan Peran Pendidikan Matematika dalam Menghadapi Era Globalisasi. PPS. IKIP Malang: tanpa penerbit.
Sutiarso, Sugeng. 1999. Pengaruh Pembelajaran dengan Pendekatan Problem Posing Terhadap Hasil Belajar Aritmetika Siswa Kelas II SMPN 18 Malang. Tesis tidak diterbitkan. Malang: Program Pasca Sarjana Universitas Negeri Malang.
Tim Penyusun. 1999. PR Fisika Dilengkapi dengan Latihan Soal-soal Ujian Akhir Nasional dan Seleksi Penerimaan Mahsiswa Baru (SPMB). Jakarta: PT. Intan Pariwara.
Winkel, W. S. 1991. Psikologi Pengajaran. Jakarta: PT. Gramedia.

Untuk medapatkan file lengkap (pdf/ms.Word) hubungi : 085728000963

Sabtu, 13 Februari 2010

PTK SMP 52 Upaya Perbaikan Prestasi Belajar Matematika Pada Materi Pokok Garis dan Sudut dengan Menggunakan Metode Demonstrasi dan Penggunaan Alat Peraga pada Kelas VII


Upaya  Perbaikan  Prestasi  Belajar  Matematika  Pada Materi Pokok Garis dan Sudut  dengan  Menggunakan Metode Demonstrasi dan Penggunaan Alat Peraga pada Kelas VII D SMP Negeri 2 Randublatung Kabupaten Blora Semester II Tahun Pelajaran 2008/2009


ABSTRAK

 
            Dalam pembelajaran matematika di SMP Negeri 2 Randublatung Blora ditemukan permasalahan rendahnya prestasi belajar matematika siswa kelas VII D pada materi pokok Garis dan Sudut yang ditunjukkan hanya 11 siswa yang tuntas dari 34 siswa. Untuk itu dilakukan Penelitian Tindakan Kelas menggunakan metode demonstrasi dan penggunaan alat peraga. Tujuan dalam penelitian ini adalah untuk meningkatkan prestasi belajar matematika dalam konsep Garis dan Sudut dengan menggunakan metode demonstrasi dan penggunaan alat peraga pada siswa kelas VII D SMP Negeri 2 Randublatung Blora semester II tahun pelajaran 2008/2009.
            Setting penelitian ini adalah di SMP Negeri 2 Randublatung Blora kelas VII D dengan jumlah siswa 34 anak. Data penelitian yang dikumpulkan berupa informasi tentang prestasi belajar siswa dalam pelajaran matematika pada konsep Garis dan Sudut, serta kemampuan guru dalam melaksanakan proses pembelajaran.  Alat Pengumpul Data berupa : lembar observasi; pedoman wawancara dan daftar nilai siswa. Untuk meningkatkan pemahaman terhadap materi Garis dan Sudut diterapkan pada siswa dengan menggunakan metode observasi, dokumentasi dan wawancara divalidasi datanya melalui Triangulasi Data. Teknik analisis data yang digunakan adalah teknik deskriptif komparatif dan teknik analisis kritis. Prosedur penelitian dilakukan dengan prosedur Penelitian Tindakan Kelas menggunakan pembelajaran dua siklus yaitu siklus I dan siklus II.
            Hasil dari Penelitian Tindakan Kelas ini adalah: Pada pra siklus sebanyak siswa yang tuntas 32,4% atau 11 dari 34 siswa dan siswa yang tidak tuntas adalah 23 dari 34 siswa atau 67,6%. Pada siklus I, siswa yang tuntas adalah 19 dari 34 siswa atau 55,9% dan siswa yang tidak tuntas adalah 15 dari 34 siswa atau 44,1%. Perbaikan pembelajaran pada siklus II  adalah: siswa yang tuntas 32 dari 34 siswa atau 94,1%. Terdapat peningkatan 38,2% dari siklus I dan siswa yang tidak tuntas adalah 2 dari 34 siswa atau 5,9%.Dengan adanya peningkatan ketuntasan siswa dari siklus I ke siklus II, maka hipotesa yang mengatakan “Penggunaan metode demonstrasi dan alat peraga dapat meningkatkan prestasi belajar matematika pada materi pokok Garis dan Sudut siswa kelas VII D SMP Negeri 2 Randublatung Blora semester II Tahun Pelajaran 2008/2009” terbukti kebenarannya.




BAB I
PENDAHULUAN

A.   Latar Belakang Masalah

            Keberhasilan dari suatu kegiatan sangat ditentukan oleh perencanaannya. Apabila perencanaan suatu kegiatan dirancang dengan baik, maka kegiatan akan lebih mudah dilaksanakan, terarah serta terkendali.
            Menurut Winarno (2003:6), perencanaan pembelajaran berperan sebagai acuan bagi guru untuk melaksanakan kegiatan pembelajaran agar lebih terarah dan berjalan efisien dan efektif. Dengan perkataan lain perencanaan pembelajaran berperan sebagai skenario proses pembelajaran. Oleh karena itu perencanaan pembelajaran hendaknya bersifat luwes (fleksibel) dan memberi kemungkinan bagi guru untuk menyesuaikannya dengan respon siswa dalam proses pembelajaran sesungguhnya.
            Kegiatan mengajar merupakan upaya kegiatan menciptakan suasana yang mendorong inisiatif, motivasi dan tanggung jawab pada siswa untuk selalu menerapkan seluruh potensi diri dalam membangun gagasan melalui kegiatan belajar sepanjang hayat. Gagasan dan pengetahuan ini akan membentuk ketrampilan, sikap dan perilaku sehari-hari sehingga siswa akan berkompeten dalam bidang yang dipelajarinya.
            Ada kalanya dalam memberikan materi pelajaran kepada anak didik tidak selalu berjalan lancar sesuai dengan perencanaan atau gagal. Banyak faktor yang menyebabkan kegagalan dalam memberikan materi pelajaran. Dari faktor anak, tingkat intelegensi dan latar belakang anak didik yang berbeda-beda menyebabkan hasil pembelajaran yang tidak sama pula. Sedangkan penyebab lain dari pihak guru adalah cara penyampaian materi yang dianggap anak didik sulit memahaminya, kurangnya media pembelajaran, metode pembejaran yang salah, sehingga tujuan pembelajaran kepada anak didik tidak mengenai sasaran, dan masih banyak lagi sebab-sebab kegagalan siswa untuk mencapai tujuan pendidikan.
            Dengan adanya kegagalan dalam memberikan materi pelajaran kepada anak didik, penulis menggunakan hal ini sebagai dasar dalam usaha memperbaiki pembelajaran. Penulis mencoba memperbaiki pembelajaran melalui prosedur Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Sesuai dengan karakteristik PTK yaitu adanya masalah dalam PTK dipicu oleh kesadaran pada diri guru bahwa praktek yang dilakukan di kelas mempunyai masalah yang harus diselesaikan dan ditindaklanjuti agar terjadi perubahan pada keberhasilan anak didik. Penulis melakukan PTK yang diawali dengan refleksi diri, mengidentifikasi permasalahan pembelajaran dengan bantuan teman sejawat.
            Menurut Hardjodipuro dalam Basuki Wibawa (2003 : 7) berpendapat bahwa PTK adalah suatu pendekatan untuk memperbaiki pendidikan melalui perubahan, dengan mendorong para guru untuk memperbaiki pendidikan melalui perubahan.
            Seperti halnya penulis melakukannya pada mata pelajaran Matematika dengan materi pokok Garis dan Sudut. Kegagalan penulis dalam pembelajaran mata pelajaran Matematika  ini ditandai dengan rendahnya nilai yang diperoleh siswa pada akhir pembahasan materi.     Pada mata pelajaran Matematika, dari 34 siswa kelas VII D yang tuntas dalam materi ini sebanyak 11 siswa apabila dipersentase adalah 32,4%, sedangkan yang belum tuntas sebanyak 23 siswa atau 67,6%.
            Beban tanggung jawab untuk menuntaskan keberhasilan pembelajaran siswa, penulis menindaklanjuti dari refleksi dan menentukan fokus perbaikan untuk mata pelajaran Matematika dengan materi pokok Garis dan Sudut. Sebelum diadakan evaluasi pada masa pra siklus penulis dalam menjelaskan materi garis dan sudut dengan menggunakan metode ceramah dan penugasan saja, sehingga siswa dalam memahami materi kurang maksimal. Karena kegagalan penulis pada pembelajaran matematika dengan materi pokok garis dan sudut, penulis berangan-angan bagaimana supaya siswa mudah menangkap materi melalui demonstrasi pengukuran garis dan sudut oleh guru dengan menggunakan alat peraga yang berhubungan dengan garis dan sudut yaitu penggaris dan sudut.
            Berdasarkan angan-angan tersebut, penulis kemudian menindaklanjuti dengan perencanaan perbaikan pembelajaran dengan menggunakan siklus I, siklus II dan apabila belum berhasil akan dilanjutkan sampai siklus III dan seterusnya. Pada siklus I adalah dengan menggunakan alat peraga berupa penggaris dan busur derajat. Pada siklus II lebih dikembangkan lagi itu dengan mendemonstrasikan alat peraga yang lain yang berhubungan dengan garis dan sudut selama proses pembelajaran berlangsung serta dengan memberikan permasalahan untuk dipecahkan secara bersama. Pada akhir pertemuan diberikan soal untuk dijawab secara individu. Hal ini untuk mengukur seberapa jauh tingkat pemahaman anak terhadap materi yang diberikan melalui dua siklus perbaikan dalam pembelajaran.
            Berdasarkan hal tersebut maka dalam tugas Pemantapan Kemampuan Profesional penulis mengambil judul: “UPAYA PERBAIKAN PRESTASI BELAJAR MATEMATIKA PADA MATERI POKOK GARIS DAN SUDUT DENGAN MENGGUNAKAN METODE DEMONSTRASI DAN PENGGUNAAN ALAT PERAGA PADA KELAS VII D SMP NEGERI 2 RANDUBLATUNG KABUPATEN BLORA SEMESTER II TAHUN PELAJARAN 2008/2009”

B.   Identifikasi Masalah

     Berdasarkan kajian latar belakang masalah tersebut di atas, maka dapat disusun identifikasi masalah sebagai berikut:

1.      Prestasi belajar matematika siswa kelas VII D SMP Negeri 2 Randublatung Blora pada materi pokok Garis dan Sudut masih tergolong rendah.
2.      Pelajaran matematika masih dianggap sebagai pelajaran yang sulit, sehingga siswa merasa takut dengan pelajaran matematika dan menghindarinya.
3.      Pembelajaran matematika yang dilaksanakan oleh guru masih bersifat konfensional hanya dengan metode ceramah dan penugasan.
4.      Minimnya guru dalam proses pembelajaran menggunakan metode demonstrasi dan penggunaan alat peraga.

C.   Pembatasan Masalah

            Mengingat banyaknya masalah yang muncul dan karena keterbatasan peneliti, maka permasalahan yang akan dipecahkan dalam penelitian ini adalah:

1.      Prestasi matematika siswa SMP Negeri 2 Randublatung Blora khususnya kelas VII D masih tergolong rendah.

2.      Dalam proses pembelajaran, guru belum menggunakan metode demonstrasi dan penggunaan alat peraga dengan benar.


D.   Rumusan Masalah

            Berdasarkan uraian pada latar belakang masalah dan identifikasi masalah dapat dibuat suatu rumusan masalah sebagai berikut:
“Apakah dengan metode demonstrasi dan penggunaan alat peraga dapat meningkatkan prestasi belajar matematika pada materi pokok Garis dan Sudut siswa kelas VII D SMP Negeri 2 Randublatung Blora semester II Tahun Pelajaran 2008/2009?”

E.   Tujuan Penelitian

            Tujuan dalam penelitian ini adalah untuk meningkatkan prestasi belajar matematika dalam konsep Garis dan Sudut dengan menggunakan metode demonstrasi dan penggunaan alat peraga pada siswa kelas VII D SMP Negeri 2 Randublatung Blora semester II Tahun Pelajaran 2008/2009.

F.    Manfaat Penelitian

            Hasil pelaksanaan penelitian penerapan kelompok belajar dalam pembelajaran matematika kelas VII D, khususnya pada materi pokok Garis dan Sudut ini akan memberikan manfaat yang berarti bagi perorangan/instansi di bawah  ini:
1.      Bagi Guru
Dengan dilaksanakannya penelitian tindakan kelas menggunakan metode demonstrasi dan penggunaan alat peraga dalam pembelajaran matematika, guru sedikit demi sedikit mempunyai keinginan untuk meningkatkan prestasi belajar siswa. Permasalahan-permasalahan yang dihadapi baik oleh guru maupun siswa sedikit demi sedikit dapat diatasi dengan penanaman konsep yang benar.
2.      Bagi Siswa
Penelitian ini sangat bermanfaat bagi siswa yang bermasalah di kelas            VII D dalam meningkatkan pemahamannya terhadap konsep penyelesaian Garis dan Sudut. Keberhasilan peningkatan pemahaman tersebut dapat meningkatkan prestasi belajar siswa.
3.      Bagi Sekolah
Setelah keberhasilan penelitian ini yaitu penerapan metode demonstrasi dan penggunaan alat peraga dalam pembelajaran matematika khususnya Garis dan Sudut, akan memberikan sumbangan yang baik pada sekolah untuk meningkatkan prestasi belajar siswa di dalam kegiatan belajar di kelas.



 
DAFTAR PUSTAKA


Arifin Zaenal. (1990). Evaluasi Instruksional Prinsip Teknik Prosedur. Bandung : Remadja Rosda Karya

Choiriyah, Siti (2006). Acuan Pengayaan Matematika. Solo : Sindhunata

Elizabeth B. Hurlock. 1990. Psikologi Perkembangan. Jakarta: Penerbit Gelora Aksara Pratama.

Gredler, Margaret E. Ball, (1991). Belajar dan Membelajarkan, Jakarta : Rajawali

Suryadi, Didi. (1997). Alat Peraga dan Pengajaran Matematika. Jakarta : Ditjen Dikdasmen D2 Karunika UT

Tim Penulis. (2008). Dimensi Matematika. Surakarta : CV. Ar-Rahman.

UU No. 2 Tahun 1989. Tentang Sistem Pendidikan Nasional

Winkel. W.S (1987). Psikologi Pengajaran. Jakarta : Gramedia 



Untuk mendapatkan file skripsi / Thesis / PTK / PTS lengkap (Ms.Word),
hubungi : 08572 8000 963

Jumat, 12 Februari 2010

PTK SMP 59 UPAYA MENINGKATKAN PENGUASAAN KONSEP MATERI PENDIDIKAN KEWARNEGARAAN MELALUI METODE BERMAIN PERAN DAN DISKUSI


UPAYA MENINGKATKAN PENGUASAAN KONSEP  MATERI PENDIDIKAN KEWARNEGARAAN  MELALUI METODE BERMAIN PERAN  DAN DISKUSI  PADA SISWA KELAS IX-B SMPN 3 NGUNUT  KABUPATEN TULUNGAGUNG


ABSTRAK

…………………….., 2005,  “Upaya Meningkatkan Penguasaan Konsep Materi Pendidikan Kewarganegaraan Melalui Metode Bermain Peran dan Diskusi Pada Siswa Kelas IX-B SMP Negeri 3 Ngunut, Kabupaten Tulungagung”.

Kata Kunci :  Metode Bermain Peran dan Diskusi, Penguasaan Konsep, dan Pendidikan Kewarganegaraan

Pendidikan Kewarganegaraan merupakan salah satu mata pelajaran yang dapat menghasilkan manusia Indonesia seutuhnya, sehingga menumbuhkan dan  memiliki mental yang baik untuk dapat melaksanakan kegiatan pembangunan.
Tujuan penelitian tindakan kelas ini adalah untuk meningkatkan penguasaan konsep Pendidikan Kewarganegaraan pada siswa kelas IX-B SMP Negeri 3 Ngunut Kabupaten Tulungagung dengan menggunakan metode Bermain peran dan diskusi.
Penelitian tindakan kelas ini dilaksanakan di SMP negeri 3 Ngunut Kabupaten Tulungagung pada siswa kelas IX-B pada semester ganjil tahun pelajaran 2005/2006.  Jumlah siswa ada 35 orang.
Hasil evaluasi menunjukkan terdapat kenaikkan yang tuntas belajar dari 23 siswa (65,71%) pada pra tindakan menjadi 27 siswa (77,14  %) pada siklus I, dan menjadi 30 siswa (85,71%) pada siklus II.  Sedangkan yang belum tuntas belajar mengalami penurunan dari 12 siswa (34,29 %) pada pra tindakan menjadi 8 siswa (22,86 %) pada siklus I, dan menjadi 5 siswa (14,29 %) pada siklus II.
Hipotesis tindakan yang menyatakan bahwa “jika metode bermain peran dan diskusi digunakan, maka penguasaan konsep pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan pada siswa kelas IX-B SMPN 3 Ngunut, Kabupaten Tulungagung akan meningkat”, dapat diterima.
Penelitian ini juga memberikan rekomendasi kepada para guru agar semakin aktif dan kreatif dalam memilih metode dalam kegiatan belajar mengajar agar dapat meningkatkan prestasi belajar siswa. Kepada Kepala Sekolah hendaknya dapat mengambil kebijakan tentang perlunya melaksanakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) bagi setiap guru, agar motivasi belajar siswa juga semakin meningkat. Selain itu kepada Kepala Sekolah hendaknya dapat mengusahakan agar ketersediaan sarana bagi para guru dalam melaksanakan PTK terus ditingkatkan.


BAB  I
PENDAHULUAN

1.1     Latar Belakang Masalah
Setiap sekolah selalu berharap bahwa penyelenggaraan pendidikan yang dilakukan dapat berhasil dengan baik. Secara umum keberhasilan ini dapat diukur dengan tingkat prestasi yang diperoleh. Sebenarnya pernyataan tersebut sangat keliru. Tolok ukur keberhasilan pendidikan seharusnya diukur dari ‘in-put’ dan ‘out-put’. Seberapa besar peningkatan dari prestasi yang dicapai oleh siswa pada saat dia masuk sekolah tersebut dan pada saat dia keluar dari sekolah tersebut.
Upaya-upaya yang dilakukan misalnya dengan mengirim para guru untuk mengikuti kegiatan Kelompok Kerja Guru (KKG) di tingkat kepengawasan.  Pengetahuan  para guru dapat lebih meningkat, sehingga penyelenggaraan belajar-mengajar dapat lebih baik lagi. Penggunaan metode mengajar yang bervariasi juga merupakan salah satu cara yang dilakukan oleh guru untuk dapat meningkatkan prestasi belajar siswa.
Pendekatan pembelajaran yang paling sesuai adalah pembelajaran yang berorientasi pada kepentingan siswa atau siswa sentris. Hal ini sesuai dengan pendekatan pembelajaran diskaveri/inkuiri yang menunjukkan dominasi peserta didik selama proses pembelajaran, sedangkan guru sebagai fasilitator. Selaras dengan uraian di atas adalah penggunaan pendekatan pembelajaran Contextual Teaching and Learning (CTL), yaitu konsep pembelajaran yang membantu guru menghubungkan mata pelajaran dengan situasi dunia nyata dan membantu siswa untuk menghubungkan pengetahuannya dengan kehidupan sehari-hari sebagai anggota keluarga dan masyarakat di mana dia berada.
Bermain peran merupakan salah satu metode mengajar yang dapat menumbuhkan motivasi pada siswa untuk lebih aktif dalam mengikuti kegiatan belajar mengajar. Metode bermain peran mengajak siswa untuk berperan menjadi orang tertentu dalam masyarakat. Pembelajaran ini membutuhkan pengalaman yang luas dari siswa. Dengan metode bermain peran yang dilaksanakan dengan baik, maka siswa dapat lebih mudah untuk dapat memahami materi pelajaran yang disajikan, sehingga dapat meningkatkan prestasi belajarnya.
Selain itu, kegiatan diskusi juga dapat melatih siswa untuk berani mengungkapkan pendapatnya. Dengan metode diskusi juga dapat membantu siswa untuk dapat menghargai pendapat orang lain dan menerima pendapat orang lain. Kondisi ini dapat menjadi bekal bagi siswa untuk menghadapi kenyataan hidup di masyarakat, dengan segala macam kemajemukannya.
Dengan kedua metode di atas, yang dilaksanakan secara sinergis, diharapkan akan mampu membangkitkan minat belajar siswa sehingga penguasaan konsep materi pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan akan semakin meningkat.
Berdasarkan uraian di atas, maka kami mengadakan penelitian tindakan kelas dengan judul " Upaya Meningkatkan Penguasaan Konsep Materi Pendidikan Kewarganegaraan Melalui Metode Bermain Peran dan Diskusi Pada Siswa Kelas IX-B SMP Negeri 3 Ngunut, Kabupaten Tulungagung ".

1.2  Fokus Penelitian
Setiap guru selalu berusaha agar dapat meningkatkan prestasi belajar peserta didik. Berbagai cara dilakukan, salah satu diantaranya adalah penggunaan metode mengajar secara tepat. Dengan metode bermain peran dan diskusi yang dikombinasikan secara tepat akan dapat meningkatkan prestasi belajar siswa. Oleh karena itu, maka permasalahan dalam penelitian tindakan kelas ini dapat dirumuskan sebagai berikut: "Apakah penggunaan metode bermain peran dan diskusi dapat meningkatkan penguasaan konsep materi Pendidikan Kewarganegaraan pada siswa kelas  Kelas IX-B SMP Negeri 3 Ngunut, Kabupaten Tulungagung 

1.3  Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka tujuan utama dalam penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan penguasaan tentang konsep materi Pendidikan Kewarganegaraan  pada siswa kelas I SDN Merjosari V, Kecamatan Lowokwaru, Kota Malang, melalui metode bermain peran dan diskusi.

1.4  Hipotesis Tindakan

Hipotesis tindakan dalam penelitian tindakan kelas ini adalah “Jika metode Bermain Peran dan diskusi digunakan dalam pembelajaran, maka penguasaan konsep materi Pendidikan Kewarganegaraan siswa  Kelas IX-B SMP Negeri 3 Ngunut, Kabupaten Tulungagung akan meningkat”.

1.5     Manfaat Penelitian
Berdasarkan uraian di atas, hasil dari penelitian ini  diharapkan  dapat  memberikan kontribusi secara positif dalam kegiatan pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan. Kontribusi tersebut dapat dirumuskan sebagai berikut:
1.5.1           Bagi siswa, penggunaan metode bermain peran dan diskusi dalam kegiatan pembelajaran dapat lebih meningkatkan pemahaman konsep bahan ajar Pendidikan Kewarganegaraan, sehingga dapat meningkatkan prestasi belajarnya.
1.5.2           Bagi guru, hasil penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan dalam memilih metode dan mengembangkan model pembelajaran yang sesuai dengan kondisi tertentu yang dialami oleh siswa, sehingga dapat meningkatkan penguasaan materi pelajaran sesuai dengan tujuan yang diharapkan.
1.5.3           Bagi Kepala Sekolah, hasil penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai bahan masukan untuk merumuskan kebijakan yang mengarah pada peningkatan prestasi belajar siswa khususnya di lingkungan SD.


DAFTAR PUSTAKA

Arikunto, Suharsimi, Suhardjono, Supardi.  2006. Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta: PT Bumi Aksara.

Departemen Pendidikan Nasional. 2005. Materi Pelatihan Terintegrasi Pendidikan Kewarganegaraan, Buku 2. Jakarta: Direktorat Pendidikan Lanjutan Pertama

Hisyam Zaini, Bermawy Munthe, Sekar Ayu Aryani. 2004. Strategi Pembelajaran Aktif. Yogyakarta: CTSD.

Ketetapan MPR RI No. IV/MPR/1999, Tentang GBHN. Surabaya: Penabur Ilmu.

Miarsa, Yusufhadi. 1995. Peningkatan Mutu Pendidikan, Jurnal Teknologi Pembelajaran. Malang: IPTPI.

Mulyasa, E.. 2005. Menjadi Guru Profesional, Menciptakan Pembelajaran Kreatif dan Menyenangkan. Bandung: PT Remaja Rosdakarya Offset.

Nazir, Moh.  1988. Metode Penelitian. Jakarta: Ghalia Indonesia.

Oemar Hamalik. 1992. Psikologi Belajar dan Mengajar. Bandung: Sinar Baru.

Saiful Rachman, Yoto, Syarif Suhartadi, Suparti. 2006. Penelitian Tindakan Kelas dan Penulisan Karya Ilmiah. Surabaya: SIC Bekerjasama Dengan Dinas P dan K Provinsi Jawa Timur.

Slameto. 1991. Proses Belajar Mengajar Dalam Sistem Kredit Semester (SKS). Jakarta: Bumi Aksara.

Soetomo. 1993. Dasar-dasar Interaksi Belajar Mengajar. Surabaya: Usaha Nasional.


Untuk mendapatkan file skripsi / Thesis / PTK / PTS lengkap (Ms.Word),
hubungi : 08572 8000 963

Rabu, 10 Februari 2010

PTK SMP 53 Penggunaan model pembelajaran TGT (Team Games Tournament) untuk meningkatkan prestasi belajar Matematika pada pokok bahasan Operasi Pada Bentuk Aljabar bagi siswa kelas VIII


Penggunaan model pembelajaran TGT (Team Games Tournament) untuk meningkatkan prestasi belajar Matematika pada pokok bahasan Operasi Pada Bentuk Aljabar bagi siswa kelas VIII B Matematika SMP Negeri 2 Randublatung Semester I Tahun Pelajaran 2008/2009

BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
      Pembangunan nasional yang sedang dilaksanakan bertujuan untuk membangun manusia Indonesia yang seutuhnya. Ini berarti bahwa pembangunan mempunyai jangkauan yang luas dan jauh. Berhasil tidaknya program pembangunan faktor manusia memegang peranan yang sangat penting. Untuk pembangunan ini diperlukan manusia yang berjiwa pemikir, kreatif dan mau bekerja keras, memiliki pengetahuan dan ketrampilan serta memiliki pengetahuan dan ketrampilan serta memiliki sifat positif terhadap etos kerja.
                  Sekolah sebagai tempat proses belajar mempunyai kedudukan yang sangat penting dan menonjol dalam dunia pendidikan. Oleh karena itu pendidikan di sekolah memegang peranan penting dalam rangka mewujudkan tercapainya pendidikan nasional secara optimal dalam rangka mewujudkan tercapainya pendidikan nasional secara optimal seperti yang diharapkan.
Menurut Syah (1998) ditemukan bahwa penguasaan guru tentang metode pengajaran masih berada  dibawah standar. Maka guru merasa tergugah untuk memperbaikinya melalui peningkatan penguasaan metode mengajar.
Pendidikan merupakan suatu upaya untuk meningkatkan sumber daya manusia. Menciptakan manusia yang cerdas dan maju perlu diimbangi dengan peningkatan mutu pendidikan. Proses belajar mengajar merupakan inti dari proses pendidikan. Dalam proses belajar mengajar tersebut guru menjadi pemeran utama dalam menciptakan situasi interaktif yang edukatif, yakni interaksi antara guru dengan siswa, siswa dengan siswa dan dengan sumber pembelajaran dalam menunjang tercapainya tujuan belajar.
Mutu pendidikan sangat erat kaitannya dengan mutu guru. Kunci keberhasilan pelaksanaan sangat ditentukan oleh faktor guru sebagai pengelola kegiatan pembelajaran. Namun semua juga tidak terlepas dari kemampuan siswa dari proses pembelajaran berlangsung, dari proses belajar mengajar ini harus kerja sama antara guru dengan murid ini akan menghasilkan hasil yang maksimal dengan meminimalkan kendala yang ada dengan memaksimalkan keunggulan dari keduanya.
Untuk mencapai tujuan ini peranan guru sangat menentukan. Menurut Wina Sanjaya (2006 : 19), peran guru adalah: “Sebagai sumber belajar, fasilitator, pengelola, demonstrator, pembimbing, dan evaluator”. Sebagai motivator guru harus mampu membangkitkan motivasi siswa agar aktivitas siswa dalam proses pembelajaran berhasil dengan baik. Salah satu cara untuk membangkitkan aktivitas siswa dalam proses pembelajaran adalah dengan mengganti cara / model pembelajaran yang selama ini tidak diminati lagi oleh siswa, seperti pembelajaran yang dilakukan dengan ceramah dan tanya-jawab, model pembelajaran ini membuat siswa jenuh dan tidak kreatif. Suasana belajar mengajar yang diharapkan adalah menjadikan siswa sebagai subjek yang berupaya menggali sendiri, memecahkan sendiri masalah-masalah dari suatu konsep yang dipelajari, sedangkan guru lebih banyak bertindak sebagai motivator dan fasilitator. Situasi belajar yang diharapkan di sini adalah siswa yang lebih banyak berperan (kreatif).
           Matematika sebagai salah satu bidang studi yang memiliki tujuan membekali siswa untuk mengembangkan penalarannya di samping aspek ilmu pasti banyak memuat materi bersifat hitungan sehingga pengetahuan dan informasi yang diterima siswa lebih banyak dengan menggunakan perhitungan. Sifat materi pelajaran Matematika tersebut membawa konsekuensi terhadap proses belajar mengajar yang didominasi oleh pendekatan ekspositoris, biasanya guru menggunakan metode ceramah maupun tanya  jawab terjadi dialog imperatif. Padahal dalam proses belajar mengajar keterlibatan siswa secara totalitas, artinya melibatkan pikiran, penglihatan, pendengaran dan psikomotor (keterampilan, salah satunya sambil menulis). Jadi dalam proses belajar mengajar, seorang guru harus mengajak siswa untuk mendengarkan, menyajikan media yang dapat dilihat, memberi kesempatan untuk menulis dan mengajukan pertanyaan atau tangapan, sehingga terjadi dialog kreatif yang menunjukkan proses belajar mengajar yang interaktif. Situasi belajar ini dapat tercipta melalui penggunaan “pendekatan Teams Games Tournaments (TGT)
           Pada SMP Negeri 2 Randublatung sejak peneliti mengajar, dalam pembelajaran Matematika, peneliti sering menggunakan model pembelajaran ceramah. Model pembelajaran ini tidak dapat membangkitkan aktivitas siswa dalam belajar. Hal ini tampak dari perilaku siswa yang cenderung hanya mendengar dan mencatat pelajaran yang diberikan guru. Siswa tidak mau bertanya apalagi mengemukakan pendapat tentang materi yang diberikan.
Sebagai seorang guru yang professional hendaknya dapat memilih dan menerapkan metode yang efektif agar materi yang dipelajari oleh siswa dapat dMatematikahami dengan baik serta dapat meningkatkan prestasi belajar. Lebih menarik lagi jika pada pembelajaran ditemukan metode dan cara-cara yang baru agar dapat terjadi interaksi yang menarik antara siswa dengan guru. Diantara cara dan metode yang digunakan dengan menggunakan sarana yang ada di sekolah diantaranya TGT (Teams Games Tournaments) dengan menggunakan turnamen games akademik yang mana siswa bersaing sebagai perwakilan home team (tum rumah) dengan anggota tim lain. TGT hampir sama dengan STAD adalah model cooperative learning (CL) yang diciptakan Yang diciptakan oleh Robert E. Sulevin dan koleganya dari Universitas John Hopkins Amerika Serikat, titik berat pada pengajaran ini adalah siswa dituntut aktif belajar dengan cara berkelompok. Perbedaan dengan model STAD adalah pada tes dan sistem perbaikan skor individu diganti dengan turnamen  game akademik ini diharapkan siswa dapat meningkatkan prestasinya.

B.     Identifikasi Masalah
          Dalam proses belajar mengajar di sekolah, siswa kelihatan belum serius dalam mengikuti pelajaran, motivasi belajar Matematika masih kurang, kurang memiliki bekal yang cukup untuk mengikuti kegiatan belajar di sekolah hal ini dapat dibuktikan dengan sering guru memberi pertanyaan pada akhirnya guru sendiri yang menjawab. Hal tersebut terlihat bahwa pelajaran didominasi oleh guru dan penjelasan guru kurang didukung dengan alat peraga yang sesuai dan menarik perhatian siswa. Dari kondisi ini perlu mendapatkan perhatian yang serius dari guru, perbaikan pembelajaran itu dapt dimulai dari diri guru yaitu dengan melakukan perbaikan dengan memperbaiki metode belajar, media, dan system belajar mengajar. Dari diri siswa dengan menumbuhkan motivasi belajar siswa.
Banyak siswa kurang berminat terhadap mata pelajaran Matematika karena dianggap sebagai pelajaran yang kurang menyenangkan, akibatnya materi yang sebenarnya mudah menjadi sulit untuk siswa. Berdasarkan latar belakang masalah, dapat diidentifikasi kendala – kendala yang ada di lapangan dalam proses pembelajaran, sehingga prestasi belajar Matematika  masih masuk dalam kategori rendah. Dari kendala – kendala tersebut dapat diidentifikasi sebagai berikut :
a.       Siswa kurang memperhatikan dalam pembelajaran.
b.       Siswa kurang berani dalam mengemukakan pendapat.
c.       Siswa beranggapan bahwa dalam belajar kelompok tidak perlu semua bekerja.
d.      Adanya siswa yang suka membicarakan hal lain, yang tidak berhubungan dengan tugas kelompok.
e.       Tanggung jawab siswa terhadap kewajiban masih rendah.
f.        Anggapan bahwa pelajaran Matematika itu sulit.
g.       Nilai pelajaran matematika cenderung rendah.
h.      Guru mendominasi pelajaran
i.        Guru belum menggunakan metode dan alat peraga yang sesuai.
Berangkat dari masalah – masalah yang sangat mengganggu dan menghambat siswa yang bersangkutan untuk meraih prestasi yang lebih tinggi, maka penulis mengadakan perbaikan pembelajaran untuk meningkatkan penguasaan terhadap mata pelajaran Matematika  pada diri siswa. 

C.    Perumusan masalah
Dari identifikasi masalah, diketahui faktor-faktor yang menyebabkan siswa kurang menguasai materi pelajaran yang diberikan oleh guru. maka dapat dikemukakan analisis pemasalahan sebagai berikut :
1.      Metode yang digunakan guru tidak tepat sehingga diperlukan metode yang baru untuk menumbuhkan motivasi belajar siswa.
2.      Pembelajaran berpusat pada guru,  siswa kurang bisa menginterprestasikan kemampuannya. Sehingga perlu metode yang dapat mengembangkan kemampuan individu maupun kelompok.
3.      Guru sangat dominan sehingga keberhasilan siswa pada saat belajar sangat tergantung kemampuan guru dalam memberikan materi pelajaran. Pada pembelajaran selanjutnya siswa diharapkan untuk lebih aktif baik secara individu maupun kelompok.
4.      Kurangnya perhatian siswa ketika pembelajaran berlangsung, perlu metode interaktif yang mampu menumbuhkan kreatifitas siswa.

          Berdasarkan identifikasi dan analisis masalah yang menjadi fokus perbaikan maka dapat dirumuskan sebagai berikut : “Penggunaan model pembelajaran TGT (Team Games Tournament) untuk meningkatkan prestasi belajar Matematika pada pokok bahasan Operasi Pada Bentuk Aljabar bagi siswa kelas VIII B Matematika SMP Negeri 2 Randublatung Semester I Tahun Pelajaran 2008/2009”.


D.    Tujuan Penelitian
Dari latar belakang yang telah dikemukakan maka penelitian ini bertujuan untuk :
1.      Mendapatkan metode yang tepat dalam membelajarkan Matematika pada materi Gelombang Bunyi.
2.      Meningkatkan kualitas pembelajaran Matematika pada materi Gelombang Bunyi melalui penggunaan Metode TGT.
3.      Meningkatkan prestasi belajar siswa pada pelajaran Matematika
4.      Membangkitkan motivasi belajar siswa pada pembelajaran Matematika

E.     Manfaat Penelitian
                  Dari hasil perbaikan ini diharapkan agar dapat dimanfaatkan oleh guru dan merupakan masukan bagi sistem pengajaran sehingga dapat :
1.      Meningkatkan prestasi belajar siswa.
2.      Menambah pengetahuan tentang metode belajar yang digunakan oleh guru.
3.      Membangkitkan motivasi belajar khususnya pelajaran Matematika dan umumnya semua mata pelajaran.
4.      Membangun kerjasama antar kelompok siswa.


DAFTAR PUSTAKA


Andi Hakim Nasution. 1982. Landasan Matematika. Jakarta : Bharata Karya Aksara.

Daniel Muijs dan David Reynolds 2008. EffectiveTteaching Teori dan Aplikasi (Edisi ke -2 ) Yogyakarta : Pustaka Pelajar.

Hisyam Zaini, Bermawy Munthe & Sekar Ayu Aryani, 2007, Strategi Pembelajaran Aktif, CTSD,IAIN Sunan Kalijaga. Yogyakarta.

Gagne, Robert M and Leslie J. Briggs, 1978. Principles of Instructional Design. 2nd Ed, New York : Holt Rinehart and Winstons.

Russeffendi 1988. Pengantar kepada membantu guru mengembangkan kompetensinya dalam pengajaran matematika untuk meningkatkan CBSA. Bandung : Tarsito

Nana Sudjana. 1995. Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar. Bandung : PT Remaja Rosdakarya.

Sudirman, 2007. Cerdas Aktif Matematika. Jakarta : Ganeca Exact.


Untuk mendapatkan file skripsi / Thesis / PTK / PTS lengkap (Ms.Word),
hubungi : 08572 8000 963

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites