Paksa Messenger

Kami Menyediakan Referensi, Kami Membantu, Kami Menolak PLAGIATISME
Tampilkan postingan dengan label Thesis. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Thesis. Tampilkan semua postingan

Selasa, 26 Februari 2013

Thesis

Thesis

Kami menyediakan Thesis sebagai referensi Anda :
Judul Thesis :

  1. Analisis Sumber-sumber Kesenjangan Upah Pekerja Produksi-Non Produksi Antar Industri Di Indonesia
  2. Dekonstruksi Metodologi Menurut Paul Feyerabend
  3. Tinjauan Tindak Pidana Human Trafficking Dalam Hukum Positif Di Indonesia (Studi Kasus di Lembaga Swadaya Masyarakat) *)
  4. Analisis Faktor Karakteristik Kerja, Situasi Kerja Dan Karakteristik Individual Terhadap Kinerja Pegawai Pada Lingkungan Kantor Kecamatan Jebres Surakarta
  5. Analisis Kinerja Jalan Wirun-Palur Kabupaten Sukoharjo *)
  6. Pendidikan Islam Dalam Prespektif Kesetaraan Jender
  7. Eksperimentasi Pembelajaran Matematika Realistik Terhadap Kemampuan Kognitif Dan Efetif Siswa Ditinjau Dari Kemampuan Awal Siswa Kelas V SD Negeri Di Kecamatan Polokarto Sukoharjo
  8. Strategi Pemasaran Pariwisata Di Kab Dati II Karanganyar
  9. Pemujaan Tathagata Di Jawa Pada Abad Sembilan
  10. Analisis Peningkatan Biaya Pengobatan Perusahaan Di PT Madu Baru
  11. Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Student Teams Achievements (STAD) Untuk Meningkatkan Motivasi dan Hasil Belajar Siswa Pada Mata Pelajaran Geografi SMA Muhammadiyah Wonosari (Penelitian Tindakan Kelas) *)
  12. Kaji Numerik Dan Eksperimental Kinerja Saluran Talang Tembolok Tekuk
  13. Analisis Kesulitan Keuangan (Finansial Distress) (Studi Kasus Terhadap Industri Perbankan Indonesia) *)
  14. Studi Agama-Agama Dalam Pandangan Al-Qur'an *)
  15. Pengaruh Iklim Organisasi Terhadap Produktivitas Pegawai PT. Banka BPD Jateng Cabang Klaten *)
  16. Hubungan Gaya Kepemimpinan, Motivasi Dan Kualitas Komunikasi Terhadap Kinerja Karyawan Dinas Kebersihan Kota Semarang
  17. Pengaruh Tekanan Internal Terhadap Kekuatan Desak Silinder Metal Berdinding Tipis
  18. Sintesis Senyawa Turunan Karbamat ((4-Alil-2-Metoksi) Fenil-N-Fenil Karbamat Dan (4-Alil-2-Metoksi) Fenil-N-Metil Karbamat) Dengan Menggunakan Eugenol Sebagai Bahan Dasar
  19. Tanggungjawab Profesi Notaris Sebagai Pejabat Pembuat Akta Tanah Dalam Pembuatan Akta *)
  20. Prespektif Yuridis Dan Sosiologis Tentang Perkawinan Antar Pemeluk Agama Di Kabupaten Wonogiri *)

Minggu, 16 Desember 2012

T-181 PROXIMITY DAN KANDUNGAN SOSIOEMOSI ISI PESAN ELECTRONIC MAIL (E-MAIL) di MAILING LIST UNHAS-ML


PROXIMITY DAN KANDUNGAN SOSIOEMOSI ISI PESAN ELECTRONIC MAIL (E-MAIL)
di MAILING LIST UNHAS-ML

ABSTRAK

            Mailing list merupakan penggunaan e-mail untuk forum diskusi yang besar, selanjutnya menjadi aplikasi dasar utama dalam pembentukan berbagai komunitas cyber. Mailing list UNHAS-ML, merupakan mailing list yang sangat beragam kandungan sosioemosinya, mulai dari sosioemosi musibah, ketegangan, pengurangan ketegangan, persetujuan, pemberian dan permintaan informasi.
Penelitian ini bertujuan untuk menjawab masalah-masalah yang telah dirumuskan. Secara rinci tujuan yang dicapai dalam penelitian ini adalah (1) menjelaskan topik-topik yang dominan menjadi topik perdebatan di mailing list UNHAS-ML (2) mengkaji pengaruh dan faktor proximity yang dominan mempengaruhi minat para anggota grup dalam menanggapi suatu pesan dan (3) mengkaji jenis-jenis proximity yang mempengaruhi keberpihakan anggota grup terhadap isi pesan.
Populasi penelitian ini adalah keseluruhan e-mail yang terposting di mailing lsit UNHAS-ML kurun waktu 1 September 1999 – 31 Desember 2002, populasi survei pendapat adalah seluruh anggota mailing list UNHAS-ML yang turut mengirimkan pesan yang mengandung sosioemosi ketegangan dan menunjukkan keberpihakan mereka pada anggota yang lain selama kurun waktu yang diteliti.
Untuk menjawab masalah-masalah yang telah dirumuskan, digunakan metode analisis isi terhadap keseluruhan e-mail yang menjadi sampel penelitian, kemudian mengelompokkan isi e-mail yang memiliki pembahasan yang sama. Kandungan sosioemosi ketegangan untuk setiap e-mail didasarkan pada teks atau isi e-mail yang memiliki makna emosi negatif yang tecermin dari diksi yang digunakan. Terhadap hasil kuesioner anggota mailing list UNHAS-ML untuk mengetahui pengaruh faktor proximity dilakukan dengan menghitung jawaban responden menurut tingkat mempengaruhi dan tidak mempengaruhi.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa peristiwa-peristiwa, isu-isu yang banyak menjadi topik perdebatan dan mengandung sosioemosi ketegangan di mailing list UNHAS-ML adalah topik-topik yang menyangkut citra dan pengembangan UNHAS, sedangkan jenis kedekatan yang dominan melatarbelakangi dan mempengaruhi anggota grup dalam menanggapi pesan dan menunjukkan keberpihakan mereka terhadap anggota lain yaitu kedekatan sosial dan kedekatan psikologi.

BAB I
PENDAHULUAN

Pada bab I diuraikan mengenai latar belakang yang mendasari dilakukannya penelitian, rumusan masalah serta tujuan dan kegunaan yang diharapkan dari penelitian ini.
 
A. Latar Belakang
Perkembangan teknologi komunikasi dan informasi yang semakin pesat dewasa ini telah membuat bola dunia terasa makin kecil dan ruang seakan menjadi tak berjarak lagi. Mulai dari wahana teknologi komunikasi yang paling sederhana berupa perangkat radio dan televisi hingga internet dan telepon genggam dengan protokol aplikasi tanpa kabel, informasi mengalir dengan sangat cepat dan menyeruak ruang kesadaran banyak orang. Perubahan informasi kini tidak lagi dalam skala minggu atau hari bahkan jam melainkan sudah berada dalam skala menit dan detik dan ini dapat diperoleh melalui sumber informasi yang disebut dengan internet.
Internet merupakan kumpulan atau jaringan komputer yang ada diseluruh dunia. Melalui teknologi ini, kita dapat merekam dan mendokumentasikan informasi melalui chip yang ada di komputer kemudian digabungkan dengan telepon, komputer, dan modem. Perkembangan internet yang begitu pesat dengan pemakai yang terus bertambah menjadikan aktivitas komunikasi data dan informasi semakin mudah dan cepat. Dewasa ini, diperkirakan ada lebih dari 30.000 jaringan dengan alamat lebih kurang 30 juta diseluruh dunia (http://www.rad.net.id/homes/edward/intnasic/1.htm). Data statistik yang diperoleh menunjukkan bahwa pada tahun 1995 terdapat 30 juta populasi pengguna dan 100 juta pengguna pada tahun 1998. Diperkirakan tahun 2010 semua orang akan terhubung ke internet dengan asumsi pertumbuhan setiap bulan sebesar 10% (http://www.ai3.itb.ac.id/news/sejarah_networklain.html).
Di Indonesia, pengguna internet menurut data asosiasi penyelenggara jasa internet di Indonesia (APJIT) tahun 1996 hanya 110.000 orang dan tahun 2002 meningkat menjadi 220.000 orang. Hasil survei pengguna internet tahun 1999 menunjukkan karakter pengguna internet di Indonesia berdasarkan jenis kelamin di dominasi oleh kaum laki-laki dengan persentase hampir 90% sedangkan kaum wanita hanya lebih kurang 10% (majalah internet, 25 Juli 2002). Hadirnya penggunaan internet secara massal melalui sistem komunikasi yang bermediasi komputer disebut oleh Rogers “teknologi media komunikasi baru” (1986) 
Lahirnya teknologi komunikasi baru ternyata menggiring kita untuk menyebut abad ini sebagai abad komunikasi massa karena setiap orang dapat berkomunikasi dengan jutaan orang secara serentak dan serempak. Berlo (1975) dalam Fisher (1986) menamakan ledakan informasi dan revolusi teknologi yang terjadi dewasa ini sebagai “revolusi” dalam komunikasi. Dofivat  (1967) dalam Rahmat (1999) berpendapat bahwa teknologi komunikasi mutakhir telah menciptakan apa yang disebut “publik dunia”. Liliweri (2003) menyebut gejala ini dengan istilah masa budaya elektronik. Beberapa ciri dari budaya elektronik yang dikemukakannya antara lain: (1) membagi informasi dengan sangat cepat; (2) proses penggandaan dan banyak copy diperoleh dengan cara yang mudah; (3) satu copy dapat diakses oleh orang banyak; (4) pelajaran baru kini disebut sebagai membaca linier; (5) ada semacam konsensus yang berjangka waktu lama, tetapi dengan partisipasi yang lebih seimbang; (6) menekan status dan tatanan sosial melalui tanda-tanda tertentu; (7) etiket tidak terlalu kuat sehingga individu bebas memperluas norma-norma yang dipertukarkan; (8) kerja kolaboratif bisa tepat pada waktunya dan jaraknya lebih besar; (9) komunikasi dapat membagi aspek-aspek bidang lisan maupun tulisan; (10) memberi sumbangan pada pembaharuan dan pemanfaatan organisasi baru; (11) alat-alat khusus sangat diperlukan sebagai syarat untuk berpartisipasi; (12) telah terjadi pengayaan informasi disatu pihak dan terjadi jurang kemiskinan di pihak lain.
Teknologi komunikasi baru ternyata juga memberi pengaruh terhadap meningkatnya bidang penelitian komunikasi. Isu-isu yang dikaji telah dipengaruhi oleh perubahan yang terjadi. Salah satu bidang penelitian baru yaitu penelitian terhadap isi pesan e-mail (electronik mail) yang merupakan salah satu fasilitas yang paling banyak digunakan di internet. Hal ini karena e-mail merupakan alat komunikasi paling murah dan cepat. Melalui e-mail kita dapat berhubungan dengan siapa saja yang terhubung ke internet di seluruh dunia.  Dalam berbagai survei Internet yang dapat dilihat di http://dir.yahoo.com/computers and_internet/statistics_and_Demograpgics/surveys, maupun dalam berbagai kesempatan seminar dan diskusi, ternyata aplikasi tama yang digunakan pengguna internet untuk berkomunikasi dan bersilaturrahmi bukan sekedar akses web. Survei yang dilakukan oleh GVU (http://www.gvu.gatech.edu/user_surveys/) terlihat bahwa 84% responden memilih e-mail sebagai aplikasi yang paling penting di internet (Onno:2003).
Salah satu kegunaan unik dari fasilitas e-mail ini yaitu terdapatnya pengguna yang berada pada grup tertentu.  Penggunaan e-mail untuk forum diskusi kelompok yang besar dikenal dengan teknik atau aplikasi mailing list. Selanjutnya mailing list menjadi aplikasi dasar utama dalam pembentukan berbagai komunitas cyber. Anggota grup akan menerima pesan-pesan yang terkirim ke alamat group secara serentak.
 Mailing list ini memberi setiap pribadi suatu wewenang untuk mengirimkan berbagai pesan yang berisi aneka ragam pikiran kepada ribuan orang tanpa disunting. Mailing list di sini berperan sebagai sebuah laporan pelanggan berkesinambungan karena setiap orang tak henti-hentinya menyumbangkan pandangan, pengalaman, peringatan melalui e-mail mereka.
Berawal dari hal inilah kemudian muncul apa yang disebut dengan istilah “demokratisasi informasi” yang memandang fasilitas ini benar-benar suatu forum demokratis karena pada jaringan ini komunikasi setiap orang ditangani secara merata. Ditambahkan lagi fasilitas komunikasi baru ini menjadi media diskusi antara pihak-pihak dengan ideologi dan kepentingan yang berbeda-beda.   
Demikian  halnya  yang terjadi di mailing  list UNHAS-ML yang sejak 1 September 1999 telah dipenuhi berbagai pesan yang beraneka ragam kandungan sosioemosinya, juga menjadi forum diskusi bagi anggotanya.
Namun sayangnya dari hasil pengamatan awal yang dilakukan, forum ini telah menjadi arena perang simbolik untuk beberapa topik tertentu. Para anggota grup pada umumnya telah terjebak beropini secara emosional dalam menonjolkan kerangka pemikiran, perspektif, konsep dan interpretasi masing-masing dalam memaknai suatu objek pesan. Akibatnya, lahirlah deskripsi atau eksplanasi yang bersifat tendensius. Perdebatan yang terjadi pun menyiratkan tendensi untuk melegitimasi diri sendiri dan mendelegitimasi pihak lawan. Terjadi pro dan kontra dan masing-masing pihak memberi argumentasi pembenaran, bahkan sangat jelas siapa dan bagaimana anggota-anggota grup mendukung atau menolak pemikiran anggota-anggota lain.
Gejala komunikasi seperti ini dapat dilihat dari beberapa kutipan e-mail dari anggota mailing list UNHAS-ML berikut ini:
“Visi ozpek Setiap tahun akademi baru zenior-zenior menyambut maba dan meneruskan visi yang telah terbentuk (jangan tanya saya siapa yang membentuk visi yang sudah terbangun…..karena saya harus mengontak sejumlah beliau-beliau dan meminta mereka bercerita). Beberapa visi itu misalnya menumbuhkan rasa percaya diri maupun rasa kebersamaan bagi mhs baru untuk menempuh kuliah, yang katanya lebih berat dari masa sekolah menengah. Dan metode pemasukan visi ini adalah ozpek, yang sebagian orang bilang in-doktrinasi ?
Metode ozpek karena saya lulusan teknik, jadi pernah merasakan ozpek, maka bolehlah saya bercerita sedikit tentang ozpek.
……………………………………………………………………………………………….Visi agar memiliki kemauan kuat “ we are the champion” ini didasarkan pada kenyataan bahwa kuliah  di teknik memang berat. Dan  sedapatnya harus mengalahkan beban kuliah ini…………………..Kemudian visi kebersamaan, agar anak daerah tidak minder terhadap anak kota maka visi kebersamaan dicecoki kedalam kepala maba (kalau sekarang mungkin fasilitas daerah tidak kalah dengan Makassar…?. (4657)
                                                                                                                                         
“Pak Tjaronge
“We are the champion” mungkin memang benar. Tapi dalam soal belajar, tidak ada sama sekali orientasi juara. Sejak masa belajarnya Aristoteles hingga ada Unhas secara konseptual, yang dibutuhkan bukan juara. Yang ada hanyalah “berhasil” atau “sukses”, seperti bapak hendak capai di negeri rantau. Tapi kalau Pak Tjaronge mau “the champion” silakan saja. Tapi menurut saya, untuk komunitas ilmiah, terlalu kampungan memuja “the champion”. Saya kira, kalau mahasiswa teknik hendak “the champion”, mestinya dalam hal-hal yang berkaitan dengan bidang studinya. Bukan ‘the champion’ memasang umbul-umbul tengkorak sepanjang pintu I Unhas, atau mengecet dinding kampus dengan warna hitam-merah.……………...……………….. (4686)
                                                                                                                                         
……………., kita juga bisa bertanya apa syarat perlunya “We Are The Champion”. Sebab kalo diklaim saja itu nda’ benar. Tentu ada pembenarannya, dan saya kira disinilah intinya pada saatnya pada saat klaim itu diindoktrinasi. Mari kita tanya pada saudara-saudara kita, “Why you klaim your self to be the champion”. Sebelum dijawab, sebenarnya perlu disorot tentang keberadaan champion. Kalo menurutSaudara W. Tjaronge, ini khan hanya untuk mahasiswa FT, saya kira ini ndak sepenuhnya benar, sebab dengan menyebut diri ‘We Are The Champion’, implisit ada “they”. They itu ndak champion. Implisist lagi, “We defeat them in match”. Makanya dibilang macthnya kan nda’ ada. Kalo menurut sdr Maqbul Halim, adopsi kata “champion’ implikasinya seolah-olah kita memandang proses belajar sebagai pertandingan. Thus, ada pihak juara dan ada pihak ndak juara. Sebab menyebut diri “We Are The Champion” secara tidak langsung bahwa “ I am better than others”. (4689)
………………………………………………………………………………...
Saya yang memilih dan memberikan pertama kali lagu “We Are The Champion” di Opspek angjatan 1989, ini memang doktrin untuk mengukuhkan tekad JUARA dalam pergulatan melawan sikap sombong, arogan (wakti itu saya membaca ada kecenderungan sikap superior dari mahasiswa Teknik), huga juara intelektualitasnya, tekad melawan ketidakadilan di kampus, KKN Di Kampus, dosen-dosen yang bermental feodalis. Kami orang-orang dari fakultas teknik BUKAN BINATANG tasrief, yang mengajarkan hukum rimba pada adik-adik. Kami juga mendalami AGAMA. Ekses adalah konsekuensi yang mungkin terjadi dalam implementasi suatu konsep. (4657) 

Penelitian yang berkaitan dengan isi pesan e-mail telah dilakukan oleh para ahli. Rogers (1986) melakukan penelitian terhadap pesan-pesan yang terposting di beberapa computer bulletin board California.  Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui topik-topik apa saja yang banyak melibatkan diskusi yang panjang sepanjang musim gugur tahun 1984.  Penelitian Rogers tersebut menunjukkan bahwa topik tentang keadilan dalam kinerja Presiden Reagen, agama dan undang-undang di Amerika Serikat dan kegagalan beberapa satelit yang diluncurkan oleh beberapa kapal angkasa Amerika Serikat merupakan topik-topik yang menjadi bahan diskusi yang panjang.
Love dan Rice dalam Rogers (1986) juga melakukan penelitian terhadap kandungan sosioemosi isi pesan e-mail. Menurut Love dan Rice dalam penelitiannya terhadap kelompok pengguna mailing list yang berprofesi sebagai dokter, terdapat 30 persen dari 2347 kalimat yang diambil dari 388 pesan yang dijadikan sampel penelitian, memiliki masing-masing persentase yang berbeda untuk setiap jenis kandungan sosioemosinya. Jenis kandungan sosioemosi yang paling banyak yaitu yang menunjukkan sosioemosi solidaritas (18%) dari seluruh kalimat yang dijadikan sampel kemudian pemberian informasi pribadi (8%).
Fenomena di mailing list inilah yang menurut penulis menarik untuk diteliti. Mewakilkan opini melalui perangkat elektronik menjadi suatu bidang penelitian yang patut diperhitungkan dan mendorong penulis untuk mencoba mengangkatnya menjadi kajian peneltian.

         B. Rumusan masalah

            Uraian gejala-gejala pada latar belakang di atas, menunjukkan adanya permasalahan dalam proses komunikasi yang berlangsung pada mailing list UNHAS-ML yaitu dilibatkannya emosi negatif yang tecermin melalui pemilihan kata yang kurang “simpatik” untuk dibaca.
 Penelitian ini akan mencoba mengaitkan hal tersebut di atas dengan jenis-jenis proximity. Jenis-jenis proximity yang akan dibahas adalah kedekatan budaya, kedekatan psikologis, kedekatan sosial, dan kedekatan politis.  
            Berdasarkan identifikasi masalah di atas, penulis mengkonsentrasikan penelitian pada tiga pertanyaan terpilih yaitu :
  1. Peristiwa dan isu-isu apa sajakah menjadi topik perdebatan yang mengandung sosioemosi ketegangan di mailing list UNHAS-ML?
  2. Seberapa besarkah faktor proximity dan faktor apakah yang dominan mempengaruhi minat anggota grup dalam menanggapi suatu pesan?
  3. Seberapa besarkah faktor proximity mempengaruhi keberpihakan seorang anggota grup dalam menanggapi isi e-mail anggota yang lain?

            C. Tujuan dan Kegunaan Penelitian
             
Penelitian ini bertujuan untuk :
1. Menjelaskan topik-topik yang dominan menjadi topik perdebatan                               di mailing list UNHAS-ML.
2.   Menggambarkan pengaruh dan faktor proximity yang dominan mempengaruhi  minat  para  anggota grup menanggapi suatu pesan.
3.   Menggambarkan faktor-faktor proximity yang mempengaruhi  keberpihakan  para anggota grup terhadap isi pesan. 
Penelitian ini juga diharapkan memiliki kegunaan :
1. Secara teoretis.
a. Diharapkan dapat menambah dan memperluas wawasan keilmuan   khususnya dalam kajian teknologi komunikasi
b.    Pengembangan ilmu komunikasi pada umumnya dan penelitian dimasa depan.
2.  Secara praktis :
Diharapkan dapat  memberi masukan yang bermanfaat bagi mailing list Unhas yang berperan sangat besar sebagai sarana komunikasi dan informasi.  


DAFTAR PUSTAKA

Achmad, AS. 1990. Manusia dan Informasi. Lembaga Penerbitan Universitas Hasanuddin, Ujung Pandang
Bulaeng. Andi. 2000. Metode Penelitian Komunikasi Kontemporer. Hasanuddin University Press, Makassar
Bulaeng, Andi. 2002. Teori Manejemen Riset Komunikasi. Narendra, Jakarta
B.S.Gill. 2001. Pengetahuan Komputer dan Internet (on line),             (http://.www.putera.com/artikel/umum, diakses 10 Mei 2002)
Cangara, H. 2000. Pengantar Ilmu Komunikasi. PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta
Curran, J, Gurevitch, M. 1994. Mass Media and Society. Chapmar and Hall. Inc.
Eriyanto. 2003. Analisis Wacana: Pengantar Analisis Teks Media. LKis Yogyakarta
Ecip, S. Sutiono. 1990. Studi Proximity dalam Relevansinya dengan Proses Keredaksian Surat Kabar Indonesia 1990/1991. Fakultas Pascasarjana Unhas
Fisher, Aubrey.b. 1986. Perspective on Human Communication (Translation edition). CV. Remaja Karya, Bandung
Hasmadi. Apakah Internet (on line), (http://www.geocities.com/Heartland/Prairie/ 6892/internet.htm,  diakses 10 Mei 2002)
Herbert, John. 2000. Journalism in The Digital Age. Reed Educational  and Professional  Publishing Ltd
Kim, Yun, Young dan B. Gudykunst, W. 1992. Communicating With Strangers: An Approach to Intercultural Communication. McGraw-Hill. Inc. All Right reserved. Printed in USA
Little John, S.W. 1995. Theories of Human Communication (fifth edition).  Wadsworth publishing Company, Belmont California
LaQuey, Tracy. Pedoman Bagi Pemula Untuk Memasuki Jaringan Global. (On line)
Lorimer, Rowland. 1994. Mass Communication: A Comparative Introduction. RedwoodBooks, Tronbridge
Mahpuddin, 2002. Pengaruh Media Massa Terhadap Kedasaran Integratif Khalayak di Makassar (Thesis). Program Pascasarjana Unhas
McQuail, Dennis. 1996. Teori Komunikasi Massa. Diterjemahkan oleh Agus Darma dan Aminuddin Ram. Erlangga, Jakarta
Moleong, L.J. 2000. Metode Penelitian Kualitatif. PT. Remaja Rosdakarya. Bandung
Mulyana, D dan Rahmat, J. 2000. Komunikasi Antar Budaya. PT. Remaja Rosdakarya.  Bandung
Nugroho, Y. 2000. Globalisasi, Teknologi Informasi dan Perubahan Sosial (On line),  (http://www.elsppat.or.id/26-artikel02.htm, diakses 22 April  2002
Onno.W.Purbo.2003. Filosofi Naif Kehidupan Dunia Cyber. Penerbit Republika
Program Pascasarjana Universitas Hasanuddin, 2001. Pedoman Penulisan Tesis dan Disertasi. Makassar
Rahmat, J. 1999. Metode Penelitian Komunikasi. PT. Remaja Rosdakarya, Bandung
Ruben D, Brent, 1992. Communication and Human Behaviour. Third Edition. Prentice- Hall, Inc A Simon Schuster Company, New Jersey
Rogers, M. Everett. 1986. Communication Techonology; The New Media in Society. New York. The Free Press
Shoemaker, J. Pamela dan Stephen D. Reese. 1996. Mediating The Message; Theories of  Influences on Mass Media Content. Longman Publishers USA
Singarimbun , M. dan Effendi, S (Ed). 1995. Metode Penelitian Survai. LP3S, Jakarta
Sudibyo, A. 2001. Politik Media dan Pertarungan Wacana. LkiS. Yogyakarta
Sugiono. 2000. Statistik Untuk Penelitian. CV. Alfabeta, Jakarta
Sunaryo, S. Doejarsih. 1990. Pengantar Ilmu Komunikasi. Liberty. Yogyakarta
Supratikaya, A. 1995. Komunikasi Antar Pribadi. Kanisius. Yogyakarta
Susanto, S. Astrid. 1980. Komunikasi Massa 2. Binacipta, Jakarta

Suyanto, Agus. 1991. Psikologi Kepribadian. Bumi Aksara. Jakarta

Wilson, Stan Le Roy. 1992. Mass Media/Mass Culture. New York Times Company


Untuk mendapatkan file skripsi / Thesis / PTK / PTS lengkap (Ms.Word),
hubungi : 08572 8000 963


T-004 ANALISIS FAKTOR KARAKTERISTIK KERJA, SITUASI KERJA DAN KARAKTERISTIK INDIVIDUAL TERHADAP KINERJA PEGAWAI PADA LINGKUNGAN KANTOR


ANALISIS FAKTOR KARAKTERISTIK KERJA, SITUASI KERJA DAN KARAKTERISTIK INDIVIDUAL TERHADAP KINERJA PEGAWAI PADA LINGKUNGAN KANTOR KECAMATAN JEBRES SURAKARTA

INTISARI

Tujuan penelitian ini adalah untuk menguji pengaruh faktor-faktor motivasi yang berupa Karak-teristik kerja, Situasi kerja dan Karak-teristik Individual terhadap Kinerja pegawai pada Lingkungan Kantor Kecamatan Jebres Surakarta. Sampel dalam penelitian ini adalah para pegawai pada Lingkungan Kantor Kecamatan Jebres Surakarta. Data yang dipergunakan adalah data primer dengan cara mengirimkan kuesioner kepada pegawai sebagai sampel. Untuk mengetahui pengaruh variabel Independen terhadap variabbel dependennya, alat analisis yang digunakan adalah regresi berganda.
Hasil analisis menunjukkan bahwa variabel Karakteristik kerja, Situasi kerja dan Karakrteristik Individual mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap kinerja pegawai di Lingkungan Kantor Kecamatan Jebres Surakarta. Koefisien parameternya mempunyai arah positif artinya usaha peningkatan Karakteristik kerja, Situasi kerja dan Karakteristik Individual dapat menaikkan kinerja pegawai. Nilai probabilitas F menunjukkan hasil yang signifikan.
Dibandingkan dengan penelitian-penelitian sebelumnya, hasil penelitian mi ada kemungkinan berbeda karena ada perbedaan variabel-variabel independen yang digunakan. Pada penelitian yang selanjudnya diharapkan dapat dikembangkan secara meluas dan area yang lebih besar lagi.
Kata kunci : Kinerja pegawai, peningkatan Karakteristik kerja, Situasi kerja, Karakteristik Individual, Regresi Linier Berganda.

 BAB I
PENDAHULUAN


A.    Latar Belakang Masalah
Suatu instansi dalam proses operasinya mempunyai beberapa tujuan, di antaranya adalah tujuan untuk mengembangkan instansi. Di dalam mencapai tujuan tersebut instansi berusaha untuk meningkatkan kualitas kinerja. Hal ini dilakukan untuk dapat memberikan kontribusi yang memadai. Bertambahnya kualitas tersebut salah satunya dipengaruhi oleh tinggi rendahnya kinerja pegawai. Kinerja pegawai adalah sebagai suatu konsep yang menunjukkan adanya kaitan antara hasil kerja dengan waktu yang dibutuhkan untuk menghasilkan produk dari seorang pegawai. Seorang pegawai dinilai produktif jika ia mampu menghasilkan output atau produk yang lebih besar dari tenaga kerja lain untuk satuan waktu yang sama (Ravianto, 1985: 11).
Kinerja pegawai dipengaruhi oleh motivasi kerja pada diri pribadi pegawai dari instansi tersebut. Motivasi ialah konsep yang menguraikan tentang kekuatan-kekuatan yang ada dalam diri pegawai yang memulai dan mengarahkan perilaku. (Gibson, 1989:94).
Motivasi yang ada pada diri seseorang merupakan kekuatan pendorong yang akan mewujudkan suatu perilaku guna mencapai tujuan kepuasan dirinya (Handoko; 1995:94). Suatu hal yang perlu digaris bawahi bahwa untuk menumbuhkan motivasi kerja tersebut perlu dicari penyebab yang dapat menumbuhkan motivasi tersebut. Motivasi dapat ditimbulkan oleh faktor internal dan faktor eksternal, tergantung dan mana suatu kegiatan dimulai. Motivasi internal berasal dari pribadi seseorang. Motivasi eksternal menjelaskan kekuatan-kekuatan yang ada di dalam individu yang dipengaruhi faktor-faktor intern yang dikendalikan oleh manajer yang meliputi suasana kerja, kondisi kerja, kebijaksanaan instansi dan hubungan kerja, seperti penghargaan, kenaikan pangkat dan tanggung jawab (Reksohadiprodjo; 1990:258). Kebutuhan dan keinginan yang ada dalam diri seseorang akan menimbulkan motivasi internalnya. Kebutuhan ialah kekurangan yang dirasakan seseorang pada suatu saat tertentu. Jadi secara singkat dapat dikatakan dengan pemenuhan kebutuhan pegawai oleh pimpinan, merupakan salah satu hal yang dapat mendorong pegawai untuk dapat melaksanakan pekerjaan yang menjadi tanggung jawabnya dengan baik.
Segala macam kebutuhan yang dapat dinilai dengan uang kita masukkan dalam kebutuhan mateial, sedangkan segala macam kebutuhan yang tidak dapat dinilai dengan uang kita masukkan dalam kebutuhan non material. (Manullang; 1992:125). Mengingat kebutuhan dikelompokkan ke dalam dua golongan, maka pemenuhan kebutuhan juga dapat dikelompokkan menjadi dua golongan yaitu material dan non material.
Semakin diperhatikan tujuan-tujuan perseorangan dalam suatu instansi, akan semakin giat masing-masing perseorangan/pegawai melakukan pekerjaannya, yaitu berarti semakin mudah untuk mencapai tujuan instansi.
Kalau dihubungkan dengan masalah kinerja, bagian yang mendasar pada manajemen adalah anggapan bahwa kinerja karyawan dapat diperbaiki bila para karyaxvan mengetahui apa yang diharapkan dari mereka, kapan mereka diperbolehkan berperan serta dalam proses menetapkan harapan-harapan tersebut, dan kapan mereka dinilai hasil-hasilnya. Apabila karyawan gagal berperan secara wajar, seorang pimpinan harus menilai penyebab masalah tersebut. Prestasi karyawan di bawah standar mungkin disebabkan sejumlah, faktor, mulai dari ketrampilan kerja yang buruk hingga lingkungan keija yang buruk. Wahyusumidjo (1984) dalam bukunva Kepemimpinan dan Motivasi mengatakan bahwa motivasi kerja adalah dorongan kerja yang timbul pada diri seseorang untuk berperilaku dalam mencapai tujuan yang telah ditentukan.
Terdapat tiga faktor variabel karakteristik yang mempengaruhi timbulnya motivasi kerja karyawan di lingkungan organisasi, yaitu karakteristik individu, karakteristik pekerjaan dan situasi kerja (Porter dan Miles dalam Stoner dan Freeman, 1989). Karakteristik individu, terdiri dari minat, sikap dan kebutuhan yang dibawa seseorang ke dalam situasi kerja. Karal.-teristik pekerjaan adalah sifat dan tugas karyawan dan meliputi jumlah tanggung jawab, macam tugas, dan tingkat kepuasan yang seseorang peroleh dari karakteristik pekerjaan itu sendiri. Karakteristik situasi kerja adalah faktor-faktor, dalam lingkungan kerja seseorang.
Kinerja adalah tingkat keberhasilan seorang karyawan di dalam menyelesaian pekerjaan. Ada enam faktor yang menentukan tingkat kerja (prestasi kerja) seorang karyawan. Faktor penentu ini adalah lingkungan, perilaku manajemen, desain jabatan, penilaian kinerja, umpan balik, dan sistem penggajian. Beberapa penelitian telah menunjukkan bahwa suatu lingkungan kerja yang menyenangkan mendorong tingkat kinerja karyawan yang paling produktif. Dalam banyak kasus, uraian jabatan merupakan penyumbang kinerja yang jelek. Definisi-definisi tugas yang tidak jelas dengan mudah dapat mengikis tingkat kinerja. Menurut pendapat Porter dan Miles (dalam Stoner dan Freeman, 1989), ada tiga hal yang mempengaruhi kinerja seseorang yaitu motivasi, kemampuan clan persepsi peran.
Penilaian kinerja yang efektif melibatkan komunikasi dua arah. Dalam komunikasi ini, atasan dan bawahan berbagi peluang untuk saling bertukar pikiran yang bersifat konstruktif dan akan meningkatkan kontribusi karyawan dalam proses pengambilan keputusan.
Kinerja sebuah instansi merupakan akumulasi kinerja semua individu yang ada di dalamnya. Perusahaan yang mampu bersaing adalah perusahaan yang senantiasa berusaha meningkatkan kinerja bisnisnya dengan cara meningkatkan kinerja semua individu yang ada di dalam perusahaan.
Lingkungan Kantor Kecamatan sebagai salah satu kantor pelayanan publik pada era reformasi ini dituntut memberikan pelayanan yang baik bagi penggunanya atau masyarakat.
Suatu tantangan bagi instansi tersebut untuk dapat mewujudkan strategi tersebut. Seiring dengan berkembangnya tuntutan masyarakat tersebut maka seluruh aparat atau perangkat, diharapkan untuk terus meningkatkan profesionalisme baik pada pengembangan kegiatannya, manajemen intern, maupun sumberdaya manusia.
Bertitik tolak dari uraian di atas, penulis tertarik untuk mengadakan penelitian pada Lingkungan Kantor Kecamatan Jebres Surakarta. Walaupun motivasi bukanlah satu-satunya determinan yang mempengaruhi kinerja pegawai, tetapi penulis ingin membuktikan apakah ada pengaruh faktor-faktor motivasi kerja yang berupa Krakteristik kerja, situasi kerja clan karakteristik individual terhadap kinerja pegawai pada Lingkungan Kantor Kecamatan Jebres Surakarta.
B.     Perumusan Masalah
Oleh karenanya dalam penelitian ini, penulis mencoba untuk mengidentifikasi masalah utama dalam penelitian adalah :
Apakah faktor motivasi kerja yang berupa karakteristik pekerjaan dan situasi kerja berpengaruh signifikan terhadap kinerja pegawai pada Lingkungan Kantor Kecamatan Jebres baik secara individual maupun bersama-sama ?
C.    Batasan Masalah
Banyak faktor motivasi kerja yang mempengaruhi kinerja pegawai, tetapi penulis membatasi hanya pada faktor motivasi kerja yang berupa motivasi kerja yang berasal dari karakteristik pekerjaan dan situasi kerja.
D.    Tujuan Penelitian
Untuk mengetahui secara lebih jelas pengaruh antara faktor-faktor motivasi kerja yang berupa karakteristik pekerjaan dan situasi kerja terhadap kinerja pegawai pada Lingkungan Kantor Kecamatan Jebres Surakarta.
E.     Manfaat Penelitian
1.       Bagi Penulis
Untuk menerapkan ilmu pengetahuan teoritis, ke dalam situasi nyata, serta menambah pengetahuan praktis di bidang SDM terutama mengenai motivasi kerja yang berkaitan dengan kinerja pegawai.
2.      Bagi Instansi
Dapat memberikan sumbangan pemikiran kepada Lingkungan Kantor Kecamatan Jebres Surakarta terutama mengenai masalah-masalah personalia yang dihadapi oleh instansi dalam rangka pengambilan keputusan.
F.     Hipotesis
Berdasarkan pengertian motivasi kerja dan kinerja pegawai, maka penulis merumuskan hipotesa adalah : Diduga ada pengaruh yang positif dan signifikan antara faktor-faktor motivasi kerja yang berupa karakteristik pekerjaan, situasi kerja dan karakteristik individual terhadap kinerja pegawai pada Lingkungan Kantor Kecamatan Jebres Surakarta.

DAFTAR PUSTAKA


Arief, Sritua, 1992. Metodologi Penelitian Untuk Ekonomi, Ghalia, Jakarta Damodar Gujarati. (1995). Ekonometrika Dasar. Penerbit Erlangga. Jakarta.

Drucker, Peter, 1985, Inovation and Entrepreneurship, (Alih bahasa oleh Rusydi Naib), Erlangga, Jakarta.

Edwin Flippo, 1976, Personal Management, Edisi ke lima, Mc. Grow Hill Inc, Singapore.

Frederick Herzverg, 1966. Motivation in Work, Harvard Business Review.

Heidjrachman Ranupandojo dan Suad Husnan, Manajemen Personalia, Bagian Satu, BPFE UGM, Yogyakarta, 1990.

J. Ravianto, 1985, Productivitas dan Manusia Indonesia, Lembaga SIUP, Jakarta John Soeprihanto, 1984, Manajemen Personalia, BPFE, Yogyakarta. Koeswara, Motivasi, Teori dan Penelitian, Angkasa, Bandung, 1989.

Manullang, Manajemen Personalia, Cetakan Ketiga, Aksara Baru, Yogyakarta, 1972.

Riyanto, Produktivitas dan Mutu Kehidupan Seri Produktivitas I, 1985.

Saiffudin Azwar, Reabilitas dan Validitas, Interprestasi, dan Komputasi, Liberti, Yogyakarta, 1986.

Siagian, Sondang P, Teori Motivasi dan Aplikassinya, Bina Aksara, Jakarta, 1989.

Sukanto Resohadiprojo, M Com Phd dam Drs. T. Hani Handoko, Organisasi Instansi, Teori, Struktur dan Perilaku, BPFE, Yogyakarta, 1988.

Sutrisno Hadi, Analisa Regresi, Andi Offset, Cetakan Ketiga, 1985. Sutrino Hadi, 1993. Metodologi Research. Andi Offset. Yogyakarta.

Steers, Richard, 1980, Efektivitas Organisasi Kaidah Tingkah Laku, Alih Bahasa Magdalena Jamin, Erlangga, Jakarta.

T. Hani Handoko, Manajemen, BPFE, Yogyakarta, 1985.

 Untuk mendapatkan file skripsi / Thesis / PTK / PTS lengkap (Ms.Word),
hubungi : 08572 8000 963

T-003 TINJAUAN TINDAK PIDANA HUKUM TRAFFIDKING DALAM HUKUM POSITIF DI INDONESIA


TINJAUAN TINDAK PIDANA HUKUM TRAFFIDKING DALAM HUKUM POSITIF DI INDONESIA

BAB I
PENDAHULUAN


A.    Latar Belakang
Pelaksanaan ketenagakerja yang terjadi di berbagai instansi melibatkan berbagai aspek hukum, baik hukum perjanjian maupun hukum pidana. Salah satu bentuk pelanggaran pidana yang diakui secara internasional adalah yang disebut sebagai human trafficking.
Human trafficking dalam arti sempit diartikan sebagai perdagangan manusia. Akan tetapi, The Trafficking Victims Protection Act (TVPA) of 2000 memberikan definisi secara lengkap yang disepakati di United States tentang human trafficking, yaitu meliputi bentuk-bentuk:
1.      Sex trafficking, yaitu merupakan tindakan komersialisasi sex pada manusia yang dilakukan dengan cara ancaman, penipuan, paksaan atau perekrutan pada anak usia dibawah 18 tahun.
2.      Perekrutan, penyekapan, pemindahan, atau perolehan tenaga kerja yang dilakukan dengan pemaksaan, penipuan atau ancaman untuk kepentingan pribadi, yang mengarah pads praktik perbudakan yang tak
disengaja, kerja paksa, serta perbudakan hutang (yang dilakukan dengan menjerat hutang), atau perbudakan dalam arti nyata. Paksanaan berarti alat ancaman yang mengarah pada tindak kekerasan fisik atau pemberian sanksi fisik terhadap seseorang yang melanggar ketentuan yang dibuat pelaku, atau penyalah gunaan peraturan-peraturan (perundang-undangan) yang telah ada. Praktek paksaan dapat mengarah pada kegiatan perbudakan yang tak disengap, yaitu suatu kondisi dimana tenaga kerja terpaksa mengikuti kemauan pemberi kerja karna adanya ancaman fisik. Bentuk-bentuk yang lain dapat berupa perbudakan hutang, yaitu kondisi munculnya hutang pada tenaga kerja terhadap layanan-layanan yang dibenkan pemberi kerja, yang besarnya tidak sesuai dengan layanan yang diberikan atau tidak jelas dan waktu habis hutang jugs ttidak jelas, sehingga tenaga kerja tidak mengetahui kapan hutang tersebut dapat dilunasinya. Bentuk lainnya adalah praktik kerja rodi, yaitu kerja paksa yang dilakukan tenaga kerja guns melunasi hutang-hutangnya yang tidak jelas besamya atau tidak sesuai yang timbul dari layanan pemberi kerja yang nilainya jauh lebih kecil daripada hutang yang ditimbulkan pada tenaga kerja.
TVPA memberikan penjelasan bahwa human trafficking tidak selalu dilakukan dengan proses pengangkutan. Pada umumnya, trafficking hanya dlidentifikasi pada proses yang melibatkan kegiatan pengangkutan tenaga keda keluar kota. TVPA menjelaskan bahwa pokok permasalahan trafficking adolah pada:
1.      Proses perekrutan atau penyediaan tenaga kerja yang menyalahi peraturaran yang dilakukan dengan penipuan, ancaman maupun paksaan.
2.      Ketidaksesuaian terhadap kesepakatan awal yang dibuat oleh tenaga kerja dan pemberi kerja. Ketidaksesuaian tersebut dapat berupa upah yang sangat kecil serta perlakuan fisik yang tidak manusiawi. Tenaga kerja di eksploitasi dengan cara-cara yang melanggar hak asasi manusia dalam berbagai bentuk eksploitasi sepeti untuk sex komersil maupun pada praktik-praktik perbudakan. Bentuk ketidak sesuaian terhadap kesepakatan ini jugs termasuk pemberlakuan jam kerja yang melebihi batas yang ditetapkan, sehingga tenaga kerja hampir tidak memiliki waktu istiraliat. Hal ini termasuk bentuk eksploitasi tenaga manusia.
Berdsarkan penjelaan tersebut, maka human trafficking dapat dikaji dari konteks hukum pidana, yaitu hukum yang menentukan perbuatan-perbuatan apasajakah yang dapat dipidana dan serta sanksi­sanski apa saja yang dapat diberikan berdasarkan hukum (Mertokusumo, 1991: 112). Hukum pidana dibagi menjadi hukum pidana material dan hukum pidana formal. Hukum pidana materiil menunjukkan peristiwa­peristiwa pidana (yaitu peristiwa yang dikenai hukum) beserta hukumannya (Apeldoorn, 1980: 336). Peristiwa pidana adalah Peristiwa yang dapat dikenai hukuman, yaitu peristiwa yang secara tegas oleh undang-undang dapat dikenai hukuman. Suatu tindakan hanya dapat dikenai hukuman apabila didahului oleh ancaman hukuman dalam undang-undang. Berdasarkan Kitab Undang-Undang Hukum Pidana pasal I bahas 1 dinyatakan bahwa suatu peristiwa tak dapat dikenai hukuman, selain atas kekuatan peraturan pemdang-undangan pidana yang mendahuluinya. Peristiwa pidana mimiliki dua segi, yaitu segi onyektif dan subyektif. Ditinjau dari segi onyektif, peristiwa pidana adalah satu tindakan yang bertentangan dengan hukum positif, yang bersifat tanpa hak, yang menimbulkan akibat yang oleh hukum dilarang dengan ancaman hukuman. Unsur yang sangat penting adalah sifat tanpa hak (onreichimatigheid), yaitu sifat melanggar hukum. Ditinjau dari segi subyektif, peristiiwa pidana adalah aspek kesalahan (schuldzidje), yaitu adanya akibat yang tidak diharapkan dalam undang-undang, yang dilakukan oleh pelaku, yang dapat dikenakan padanya. Dalam hukum terdapat suatu pengecualian bagi orang-orang yang tidak dapat dikenakan sanki seperti berotak lemah dan gangguan jiwa atau gila.
Sampai saat ini, pemerintah Indonesia belum mengemukakan tentang deftnisi trajjicking yang dirancang secara khusus untuk konteks Negara Indonesia. Dalam rencana pemerintah untuk tindakan memerangi  trafficking terhadap perempuan dan anak, pemerintah menggunakan definisi dari protocol PBB.
Lembaga Swadaya Masyarakat merupakan lembaga yang berbadan hukum yang bertujuan untuk melakukan pemberdayaan masyarakat guna meningkatkan kemampuan masyarakat dalam menghadapi kemajuan zaman. Lembaga swadaya masyarakat merupakan lembaga yang tidak didirikan untuk mencari keuntungan (non profit), tetapi didirikan untuk kegiatan yang bersifat social.
Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) merupakan lembaga yang didirikan guna meningkatkan taraf hidup, kemandirian, dan kemampuan masyarakat Indonesia dalam berbagai aspek seperti aspek ekonomi, kesehatan, lingkungan hidup, kesehatan, pendidikan, dan lainnya. LSM pada umumnya mempeker akan banyak tenaga kerja baik tenaga kerja kontrak maupun tenaga kerja tetap. Dalam mempekerjakan tenaga kerja. tersebut, banyak terjadi perbenturan kepentingan antar lembaga dengan tenaga kerja, sehingga dapat menimbulkan adanya pihak-pihak van- merasa dirugikan. Khususnya dalam kajian. kepentingan para tenaga kerja, sering muncul adanya kondisi dimana berdasarkan tuntutan proyek tenaga kerja hares menyelesaikan suatu peker aan dengan cepat dan efektif, sedangkan pelaksanaan tersebut dapat merugikan tenaga kerja akibat merasa dipertakukan kurang manusiawi. Banyak tenaga kerja terkadang merasa diperbudak secara ringan oleh suatu mekanisme tertentu dalam lembaga. Dengan adanya Tatar belakang ini, maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian yang berjudul TINJAUAN TINDAK, PIDANA HUMAN TRAFFICKING DALAM HUKUM POSITIF DI INDONESIA
Adapun alasan pemillhan terra dan lokasi penelitian adalah selama ini lemabag-lembaga penelitian, pemerintah dan penegak hukum masih memfokuskan pada kasus-kasus human trafficking yang tedadl pada anak dan wanita yang mengalami kekerasan secara fisik atau kasus-kasus yang melibatkan pemindahan tenaga kerja keluar daerah saja, dan masih jarang yang menyoroti kasus-kasus trafficking dalam arti yang lebih luas.

B.     Lingkup Penelitian
Ketenaga kerjaan dan aspek-aspek yang berkaitan dengangannya merupakan suatu kondisi yang sangat erat hubungannya dengan hukum perdata. Sebagaimana dalam peraktik human trafficking, sangat berkaitan dengan perjanjian-perjanjian ketenaga kerjaan dan berhubungan dengan pelanggaran-pelanggaran dari petaksanaan ketenaga kerjaan. Dalam penelitian ini, peristiwa human trafficking dikaji dalam aspek yang berkaitan dengan hukum pidana. Penelitian tidak dilakukan pada bagaimana mengkaji suatu perjanjian kerja dan pelaksanaannya, akan tetapi lebih pada maksud-maksud yang mengamh pada tindak pidana. Apabila yang dikaji adalah suatu perjanjian kerja, maka lebih ditekankan pada maksud dalam merumuskan suatu perjanjian yang dapat dilator belakangi oleh maksud untuk menguntungkan diri sendiri (instansi) dan merugikan tenaga kerja dalam bentuk eksploitasi tenaga dan fikiran. Penelitian ini juga menkaji tentang mekanisme-mekanisme cerdik yang dapat mengandung unsur eksploitasi.
Atas dasar kondisi yang berupa dekatnya human trafficking tentang eksploitasi tenaga kerja dengan hukum perdata, maka penelitian ini terkadang akan menkaji aspek perdata untuk menemukan masalah pidana didalamnya, seperti mengkaji maksud yang tidak dibenarkan dalam hukum pidana dalam merumuskan suatu perjanjian atau dalam perkara perdata.

DAFTAR PUSTAKA


Bungin, Burhan (2003), Metodologi Penelitian Kuafitatif, Jakarta: PT. Raja Grfindo Perkasa

Team (2005), Human Trafficking in Indonesia, Geneva, Swiss: International Catolic Migration Commission

Sanusi, Achmad (1999), Pengantar Ilmu Hukum clan Tata Hukum Indonesia, Bandung: Tarsito

Kosidin, Koko ( 1999), Perjanjian Kerja, Perjanjian Perburuhan clan Peraturan Perburuhan, Bandung: CV. Mandan Maju.

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 13 Tahun 2003 Tentang
Ketenagakerjaan, Jakarta:


Soepomo, Imam (1990), Pengantar Hukum Perburuhan, Jakarta:

Djambatan Setiawan, Pokok-pokok Hukum Perikatan, Bandung: Bima Cipta

Subekti, R, ( 1977), Aneka Perjanjian, Bandung: Alumni

Stark, C. and Hodgson, C. (2003). Sister Oppressions: A Comparison of Wife Battering and Prostitution.  

U.S. Department of Justice (2004). Report to Congress from Attorney General John Ashcroft on U.S. Efforts to Combat Trafficking in Persons in Fiscal Year 2003. Washington, DC.

Estes, R.j, & Weiner, N.A. (2001). The commercial sexual exploitation of children in the U.S., Canada and Mexico. Philadelphia., University of Pennsylvania.

Deputy. Secretan, of State Richard Armitage in a presentation at a conference entitled tied Pathbreaking Strategies in the Global Fight Against Sex Trafficking on February 25, 2003 in Washington D.C.

U.S. Department of State. (2004, June) Trafficking in Persons Report. Washington D.C.

Untuk mendapatkan file skripsi / Thesis / PTK / PTS lengkap (Ms.Word),
hubungi : 08572 8000 963

T 001 - ANALISIS SUMBER-SUMBER KESENJANGAN UPAH PEKERJA PRODUKSI-NON PRODUKSI ANTAR INDUSTRI DI INDONESIA


ANALISIS SUMBER-SUMBER KESENJANGAN UPAH PEKERJA PRODUKSI-NON PRODUKSI ANTAR INDUSTRI DI INDONESIA

INTISARI

Keyword: Industry fixed effect, rents sharing, wage determination, wage gap.

Penelitian ini bertujuan mengungkap kesenjangan upah antar pekerja dan antar industri. Penelitian lebih memfokuskan pada kesenjangan yang diakibatkan oleh perbedaan efek tetap industri atas upah kelompok pekerja produksi dan pekerja non produksi.
Penelitian didasarkan pada data mentah survai industri BPS secara cross section dengan teknik regresi dua tahap dan model GLS (generalized least square). Model berisi variabel karakteristik individu dan karakteristik industri.
Keseluruhan penelitian memperkuat hipotesis bahwa walaupun situasi ketenagakerjaan dalam keadaan surplus tenaga kerja, sektor industri tetap membagikan rente ekonominya. Hal ini menyebabkan upah industri lebih tinggi dari upah rata-rata di luar industri. Hal tersebut terbukti dari pengaruh positif dan signifikan variabel nilai tambah, kapital, modal asing dan tingkat konsentrasi.
Tetapi industri juga mengambil kesempatan terhadap lemahnya posisi pekerja wanita; dan persaingan ekspor yang ketat tetap tidak menyebabkan impak posistif terhadap upah. Namun demikian keseluruhan keberadan industri modern (menengah dan besar) tetap menunjukkan perannya sebagai alat perbaikan pendapatan pekerja. Dengan demikian di samping misi pertumbuhan, keberadaan industri menengah dan besar ternyata juga merupakan alat perbaikan upab pekerja (yang merupakan tujuan program pemerataan).
Kedua kelompok pekerja terlihat memiliki determinan upah yang berbeda baik dilihat dari besarnya parameter, arah, dan signifikansi suatu variabel. Variabel yang mengukur keunggulan komparatif upah dan ketenagakerjaan (Ekspor, Size dan Frakwan) memperlihatkan pola di mana jika pilihan kebijakan industri berdampak pada diskonto upah, diskonto itu cenderung dialokasikan kepada pekerja produksi.
Pemilahan sumber kesenjangan menunjukkan bahwa efek industri ternyata menjadi sumber kesenjangan upah yang sangat berarti di samping perbedaan modal manusia. Peran industri sebagai sumber kesenjangan upah pekerja non produksi - pekerja produksi diestimasi sekitar 44 % bersumber pada perbedaan efek tetap industri atas upah kedua kelompok pekerja. Kesenjangan tersebut diperbaiki dengan - 7 % disebabkan oleh distribusi kedua kelompok pekerja antar industri (yang mengalami ketimpangan lebih besar cenderung memiliki pangsa pekerja makin kecil).
Penelitian membuktikkan adanya pengaruh efek tetap industri yang menyebabkan ketegaran upah sektor industri walaupun berada dalam kondisi surplus tenaga kerja. Baik pengusaha pada industri berupah tinggi maupun industri berupah rendah diramalkan tidak mengambil keputusan baru dengan adanya informasi perbedaan upah yang mereka bayarkan.


BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang Masalah
Sebagaimana disimpulkan oleh Manning (1994) studi mengenai upah di Indonesia masih kurang memadai. Meskipun disadari pentingnya data upah untuk analisis ekonomi, perencanaan dan kesejahteraan tetapi ternyata sangat sedikit studi mengenai upah selama ekonomi Orde Baru. Studi mengenai pasar tenaga kerja umumnya hanya tertarik pada kuantitas dan kualitas tetapi bukan pada harga (upah).
Dari kesimpulannya itu, Manning (1994) selanjutnya mendorong beberapa riset mengenai upah. Satu di antaranya adalah masalah perbedaan upah yang disebutnya sebagai subyek yang besar dan penting baik perbedaan upah antar tingkat pendidikan, antar daerah, antar fender dan antar sektor. Berangkat dari pemikiran itu, penelitian ini memusatkan perhatian pada tiga hal, yaitu pertama, meneliti perbedaan upah antar industri dengan melihat peran kelompok variabel karakteristik pekerja dan variabel karakteristik industri. Kedua, penelitian dikembangkan untuk melihat perbedaan pola determinasi upah dua kelompok pekerja utama, yaitu pekerja produksi dan pekerja non produksi. Terakhir, studi ini berusaha mengestimasi peran industri dan peran non industri (terutama perbedaan pendidikan) sebagai sumber kesenjangan pendapatan antara kelompok pekerja produksi dan pekerja non produksi yang meliputi pimpinan perusahaan, staf direksi, pegawai administrasi, dan sebagainya. Perbandingan pangsa kedua kelompok ini adalah 84 persen dan 16 persen.
Studi upah sektor industri merupakan studi upah yang penting, karena industri pengolahan adalah sektor paling besar yang menggunakan sistem upah secara reguler (terikat kontrak). Upah yang diberikan secara reguler itu sendiri merupakan sumber pendapatan yang relatif baru dalam perkembangan industrialisasi Indonesia. Jika dibandingkan dengan upah sektor pertanian, maka upah sektor industri berada 1,9 kali sampai 1,7 , kali dari tahun 1977 sampai 1990. Upah sektor pertanian juga tidak bersifat ajeg, melainkan bersifat labil karena variasi upah uang yang berfluktuasi dari bulan ke bulan dan dari desa ke desa (Mazumdar dan Sawit, 1986). Para ahli bahkan mengambil kesimpulan yang berbeda apakah tren upah riil pada sektor produksi padi di Jawa meningkat atau menurun. Penggunaan deflator dan periode waktu yang digunakan ternyata menghasilkan arah yang berbeda terhadap upah riil pada sektor produksi padi tersebut (Naylor, 1990).
Penelitian upah industri pengolahan menjadi lebih penting karena peran industri pengolahan yang semakin meningkat dalam proses industrialisasi. Pertumbuhan industri pengolahan dalam menyediakan lapangan pekerjaan terlihat meningkat, pada tahun 1971 menyerap 2,5 juta atau 6,84 persen pekerja dan pada tahun 1996 menjadi 10,77 juta atau 12,6 persen (tumbuh rata-rata 5,8 persen setahun). Sumbangan sektor industri pada produk domestik bruto tumbuh lebih cepat, pada tahun 1971 menyumbang PDB sebesar 9,38 persen dan pada tahun 1996 menjadi 24,6 persen (BPS: 1995; BPS 1996). Sejak tahun 1990 sumbangan industri pengolahan pada PDB sudah melebihi sektor pertanian.
Sumbangan sektor industri terhadap PDB ternyata timpang di mana industri kecil dan rumah tangga yang menyerap 56 persen tenaga kerja hanya menyumbang sebesar 8,5 persen dari total nilai tambah sektor industri. Dengan demikian industri menengah dan besar menyumbang 91,5 nilai tambah sektor industri tetapi hanya menyerap 44 persen tenaga kerja (Suhartono, 1988). Bagaimanapun juga obyek penelitian ini berada pada sektor inti (core) yaitu sektor yang umumnya merupakan tujuan utama angkatan kerja (Williams, 1996).

B.     Posisi penelitian
Berbeda dengan kecenderungan studi mengenai upah di Indonesia yang umumnya tertarik pada ukuran-ukuran atau estimasi mengenai besamya kesenjangan pendapatan, studi ini bertujuan untuk mengungkap sumber kesenjangan upah antar industri dan antar pekerja dengan cara menganalisis perbedaan penentu upah pekerja produksi dan non produksi serta memilah kesenjangan atas sumber industri dan non industri (khususnya kapital manusia).
Taraf industrialisasi dewasa ini juga memperlihatkan semakin pentingnya mencermati masalah perburuhan khususnya masalah upah baik untuk menunjang kebijaksanaan maupun perencanaan. Studi mengenai penentuan upah di Indonesia di samping sangat kurang, pemanfaatan survai BPS untuk studi seperti ini juga belum dilakukan oleh peneliti lain.
Dari sisi akademik studi penentuan upah sangat menarik karena adanya dua perspektif teori yaitu teori upah neoklasik (teori upah kompetitif) dan teori upah non kompetitif yang salah satunya adalah teori upah efisiensi. Perbedaan dasar dua teori tersebut adalah bahwa teori upah neoklasik meramalkan harga (upah) bisa berbeda dalam jangka pendek tetapi dalam jangka panjang pelaku ekonomi akan mendekati harga yang sama pada tingkat keseimbangan. Sebaliknya teori upah efisiensi meramalkan bahwa dalam jangka panjang upah akan tetap berbeda-beda antar industri dan pengusaha tidak berusaha untuk melakukan penyesuaian menuju kesamaan harga.
Perbedaan yang lain adalah neoklasik menganggap bahwa harga tenaga kerja tidak terkait dengan keuntungan pengusaha (penentuan harga input tenaga kerja sama dengan harga input yang lain) sedangkan teori upah efisiensi menganggap terdapat korelasi antara besarnya upah yang dibayarkan dengan kemampuan membayar (laba) pengusaha. Dengan demikian teori upah efisiensi meramalkan

DAFTAR PUSTAKA


Akerlof, George, A. 1982. Labor Contract as Partial Gift exchange. Ouarterly Journal of economics, Vol. 97, pp. 543-69.
Akerlof, George A., and Janet, L.Yellen, 1988. Fairness and Unemployment American Economic Review, Vol. 78, No.2, pp. 44-49.
Allen, Steven G. 1995. Updated Notes on The Interindustry Wage Structure, 1890 -1990. Industrial and Labor Relations Review, Vol. 48, No. 2, pp. 305 - 321
Anderson, Deborah and David Shapiro, 1996. Racial Differences in Access To High­Paying Jobs and The Wage Gap Between Black and White Women. Industrialand Labor Realtion Review, Vol. 49, No.2, pp. 273-286.
Arief, Sritua, 2000. Dialectics of Industrialization in Indonesia. Journal of Contemporary Asia, Vol. 30, No.].
Arndt, HW. 1994. Pembangunan Ekonomi Indonesia.Yogyakarta: Gadjah MadaUniversity Press.
Barth, Erling and Josef Zweim u ller, 1995. Relative Wages under Decentralized and Corporatist Bargaining Systems. Scandinavian Journal of Economics Vol. 93, No.3, pp.369-384.
Behrman, Jere R. and Anil B. Deolalikar, 1995. Are There Differential Returns to Schooling By Gender ? The Case of Indonesian Labor Market. Oxford Bulletin of Economics and Statistics, Vol. 57, No. 1, pp. 97-117.
Bernhard, Gahlen and George Licht, 1990. The Efficiency Wage Theories and Inter­ Industry Wage Differentials An Empirical investigation for The Manufacturing Sector of The Federal Republic of Germany. in Konig, Heinz (Ed.), Economics of Wage Determination, Springer-Verlag.
Biro Pusat Statitik, 1992. Statistik Dalam 50 Tahun Indonesia Merdeka. Jakarta.
Biro Pusat Statitik,1993. Indikator Tingkat Hidup Pekerja. Jakarta. Biro Pusat Statitik, 1996 a). Statistik Indonesa. Jakarta. Biro Pusat Statitik,1996 b). dan 1998. Statistik Upah. Jakarta.
Biro Pusat Statitik, 1997 a). Indikator Industri Besar dan Sedang. Jakarta. Biro Pusat Statitik, 1997 b). Statistik Industri Besar dan Sedang. Jakarta. Biro Pusat Statitik, 1998.           Indikator Ekonomi_ Berbagai edisi. Jakarta.
Blackaby, D.H. and P.D. Murphy, 1991. Industry Characteristics and Inter-Regional Wage Differences. Scottish Journal of Political Economy, Vol. 38, No.2, pp. 142-161.
Blanchflower, David G. Oswald, A and P. Sanfey, 1996. Wages, Profit and Rent Sharing. Quarterly Journal of Economics, Vol. CXI No. l, pp.227-25 1.
Blau, Francine D. and Lawrence M. Kahn, 1995. The Gender Earning Gap: Some International Evidence. Dalam Freeman, Ricahrd B. and Lawrence F. Katz, Differences and Changes in Wage Structure. Chicago and London: The University of Chicago Press.
Boal, William M and John Pencapel, 1994. The Effect of Labor Unions on Employment, Wages, and Days of Operation: Coal Mining in West Virginia. Quarterly Journal of Economics, Vol. CIX, pp. 267-298.
Bradbaart, Okke, 1992. Rural Employment Effects of Export Industry Growth: A Case Study in The Greater Bandung Region. Bandung: Akatiga Foundation, Centre for Social Analysis.
Budd, John W. 1996. Union Wage Determination in Canadian and U.S. Manufacturing, 1964-1990: A Comparative Analysis. Industrial and Labor Relations Review, Vol. 49, No.4, pp. 673-689.
Calvo, Guillermo, A. 1985. The Inefficiency of Unemployment The Supervision Perspective. The Quarterly Journal of Economics, Vol. 100 (May), pp. 373­387.
Campbell III, Carl M. and Kunal S. Kamlani, 1997. The Reasons For Wage Rigidity: Evidence From A Survey of Firms. Quarterly Journal of Economics. Vol. CXILNo.3. pp. 759-189.
Card, David 1996. The Effect of Unions on The Structure of Wages: A Longitudinal Analysis. Econometrica, Vol. 64, No.4, pp. 957-979.
Card, David and Craig A. Olson, 1995. Bargaining Power, Strike Duration, and Wage Outcomes: An Analysis of Strikes in The 1880s. Journal of Labor Economics, Vol.13. No.], pp. 32-61.
Chamberlain, Neil W., Donald E. Cullen and David Lewin, 1980. The Labor Sector New York: McGraw-Hill.
Christensen, Sandra and Dennis Maki, 1983. The Wage Effect of Compulsory Union Membership. Industrial and Labor Relations Review, Vol.36, No.l, pp. 230­ 238.
Christofides Louis N. and Andrew J. Oswald, 1992. Real Wage Determination and Rent-Sharing in Collective Bargaining Agreement. Quarterly Journal of Economics, Vol. 107 (3), pp. 985-1002.
Craig, Lee, A. and Robert M. Fearn, 1993. Wage Discrimination and Occupational Crowding in a Competitive Industry: Evidence From The American WhalingIndustry. The Journal of Economic History, Vol. 53,  No. l, pp. 123-138:
Currie, Janet and Sheena McConnel, 1992. Firm-Specific Determinants of Real wage, 1992. The Review of Economics and Statistics, Vol. 74 (2), pp. 297-304
Dickens, Willam T. and Lawrence F. Katz, 1987. Inter-Industry Wage Differences and Industry Characteristics. in Lang, K. and J.S. Leonard (eds.) Unemployment and The Structure of Labor Markets, New York: Basil Blackwell. Inc.
Dinardo, John and T. Lemieux, 1997. Diverging Male Wage Inequality in The United States and Canada, 1981-1988: Do Institutions Explain The Difference ?. Industrial and Labor Relations Review, Vol. 50, No. 4, pp. 629-651.
Dunlop, John, T. 1964. The Theory of Wage Determination. London: Macmillan & Co. Ltd.
Eatwell, J., Murray Milgate, Peter Newman, 1991. The New Palgrave a Dictionary of Economics. London and Basingstoke: The Macmillan Press Ltd.
Elliot, Robert, F. 1991. Labor Economics: A Comparative Text. London-New York: McGraw-Hill.
Ehrenberg, Ronald G and Robert S. Smith. 1996. Modern Labor Economics. Massachusetts: Addison Wesley.
Fack, Fritz Ullrich, 1977. The Social Market Economy An Introduction. (Trans. To English). Bonn: Ludwig Erhard.
Feldman, Allan M. 1980. Welfare Economics and Social Choice Theory. Kluwer : Nijhoff Publishing.
Fields, Judith and Edward N. Wolff, 1995. Interindustry Wage Differentials and Gender Wage Gap. Industrial and Labor Relations Review, Vol. 49, No.], pp. 105-120.
Freeman, Richard B and James L. Medoff, 1981. The Impact of The Percentage Organized on Union and Nonunion Wages. The Review of Economics and Statistics, Vol.63, pp. 561-572.
Fryer, MJ and JV Greenman. 1987. Optimization Theory. London: Edward Arnold Ltd.
Fudenberg, Drew and Jean Tirole, 1991. Game Theory. Cambridge: The MIT Press.
Gujarati, Damodar, N. 1995. Basic Econometric, 3rd ed. New York: McGraw-Hill, Inc.
Hashimoto, Masanori and John Raisian, 1985. Employment Tenure and Earnings Profiles in Japan and The United States. American Economic Review. Vol. 75. No.4, pp. 722-735.
Hasibuan, Nurimansjah, 1993. Ekonomi Industri: Persaingan, Monopoli, Regulasi. Jakarta: PT Pustaka LP3ES.
Hasibuan, Nurimansjah, 1984. Pembagian Tingkat Penghasilan Tenaga Kerja Pada Industri-industri Oligopolistik di Indonesia. Disertasi Doktor, Fakultas Ekonomi Universitas Gadjah Mada.
Haworth, C.T. and D. Rasmussen, 1971. Human Capital and Inter-Industry Wages in Manufacturing. The Review of Economics and Statistics, Vol. 53. No.4, pp. 376-380.
Henderson James, M. and Richard E. Quandt, 1980. Microeconomic Theory, A Mathematical Approach 3rd ed. McGraw-Hill Book Company.
Heywood, John S. 1986. Labor Quality and The Concentration-Earnings Hypothesis. The Review of Economics and Statistics, Vol. 68. No.2, pp. 342-358.
Hilhorst, J. 1989. Dynamics in West java's Industry and City Size Distribution. Netherlands: Publications Office-Institute of Social Studies.
Holmlund and J.Zetterberg, 1991. Insider Effect in Wage Determination Evidence From Five Countries. European Economic Review, Vol. 35, pp. 1009-1034.
H u bler, Olaf and Knut Gerlach, 1990. Sectpral Wage Patterns, Individual Earnings and The Efficiency Wage Hypothesis. in Heinz K o nig (ed), Economics of Wage Determination. Springer-Verlag Berlin.
Hill, Hal. 1998. Indonesia's Industrial Transformation. Singapore. Institute of Southeast Asian Studies.
Insukindro, 1992. Pembentukan Model Dalam Penelitian Ekonomi. JEBI Th. VII. No. l.
Insukindro, 1991. Regresi Linier Lancung Dalam Analisis Ekonomi: Suatu Tinjauan Dengan Satu Studi Kasus Di Indonesia. JEBI Th. VI. No. 1.
Insukindro, 1998. Sindrum R2 Dalam Analisis Regresi Linear Runtun Waktu. Jurnal Ekonomi dan Bisnis Indonesia. Vol. 13, No.4, 1-11.
Intriligator, Michael D. 1978. Econometric Models, Techniques, & Applications. Prentice Hall, Inc, Englewood Cliffs, New Jersey
Islam, Inayatul, 1989. Industrial Restructuring and Industrial Relations in ASEAN - A Firm-level Cronical. Dalam Gus Edgren, Restructuring, Employment and Industrial Relations: Adjustment Issues in Asian Industries. ILO-ARTEP
Karseno, A.R., 1991. Advertising, Market Share and Profitability: An Experimental Study With Application to Indonesia Manufacturing. Ph.D. Thesis. University of Colorado.
Kerseno, A.R. 2000. Pengaturan Kehidupan Perekonomian Bangsa Dalam UUD 1945. Yogyakarta: Seminar Diselenggarakan oleh Panitia Ad Hoc I Badan Pekerja MPR Bekerja Sama Dengan Ikatan Sarjana Ekonomi (ISEI).
Knight, J.B. and R.H. Sabot, 1983. The Role of The Firm in Wage Determination: An American Case Study. Oxford Economic Papers, Vol. 35 (1), pp.45-66.
Konings, Jozef and Patrick P. Walsh, 1994. Evidence of Efficiency Wage Payment in Uk Firm Level Panel Data. The Economic Journal, 104 (May), pp. 542-555.
Koutsoyiannis, A.1985. Modern Microeconomics. 2nd Eds. Hampshire: Macmillan. Koutsoyiannis, A. 1985. Theory of Econometrics. 2°d Eds. Macmillan.
Kreps, David M., 1990. A Course In Microeconomic Theory. Princeton: Princeton University Press.
Krueger, Alan B. and Lawrence H. Summers, 1987. Reflection on The Inter-Industry Wage Structure. In Lang, K and J.S. Leonard, Unemployment and The Structure of Labor Market. New York: Basil Blackwell Inc.
Krueger, Alan B. 1988. Efficiency Wages and Inter-Industry Structure. Econometrica, Vo1.56.No.2, pp. 259-293.
Kumar, P. 1972. Differentials in Wage Rates of Unskilled Labor in Canadian Manufacturing Industries. Industrial and Labor Relations Review. Vol. 26, pp. 631-645.                                      •
Kwoka, Jr. J. E., 1983. Monopoly Plant and Union Effects on Workers Wages. Industrial an Labor Relation Review, Vo1.36, No.2, pp. 251-257. -
Kennedy Peter, 1992. A Guide to Econometrics. 3rd Eds. The MIT Press Cambridge, Massachusetts.
Lee, Byung-Ju. 1994. Determination of Inter-Industry Wage Differential: A Case of The Korean Labor Market. Ph.D. Dissertation Univ. of Hawaii.
Lever, Marcel H.C. and Wessel A. Marquering, 1996. Union Coverage and Sectoral Wages: Evidence from Netherlands. Empirical Economics, Vo1.21, pp. 483­499.
Long, James E. and Albert N. Link, 1983. The Impact of Market Structure on Wages, Fringe Benefits, and Turnover. Industrial and Labor Relations Review, Vo1.36, Na2, pp. 239-250.

Untuk mendapatkan file skripsi / Thesis / PTK / PTS lengkap (Ms.Word),
hubungi : 08572 8000 963


Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites