Paksa Messenger

Kami Menyediakan Referensi, Kami Membantu, Kami Menolak PLAGIATISME
Tampilkan postingan dengan label PTK Tata Busana. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label PTK Tata Busana. Tampilkan semua postingan

Rabu, 19 Desember 2012

PTK SMP 179 IMPLEMENTASI MODEL PEMBELAJARAN INQUIRY BERBASIS TEKNOLOGI INFORMASI UNTUK MENINGKATKAN PRESTASI BELAJAR TATA BUSANA

IMPLEMENTASI MODEL PEMBELAJARAN INQUIRY BERBASIS TEKNOLOGI INFORMASI UNTUK MENINGKATKAN PRESTASI BELAJAR
TATA BUSANA SISWA KELAS VIII A
  
BAB I
PENDAHULUAN

A.      Latar Belakang Masalah
Peningkatan kualitas pendidikan merupakan suatu proses uatama dalam peningkatan kualitas sumber daya manusia Indonesia. Menyadari pentingnya proses peningkatan kualitas sumber daya manusia, maka pemerintah bersama kalangan swasta sama-sama telah dan terus berupaya mewujudkan amanat tersebut melalui berbagai usaha pembangunan pendidikan yang lebih berkualitas antara lain melalui pengembangan dan perbaikan kurikulum dan sistem evaluasi, perbaikan sarana pendidikan, pengembangan dan pengadaan materi ajar, serta pelatihan bagi guru dan tenaga kependidikan lainnya. Akan tetapi, pada kenyataannya upaya pemerintah tersebut belum cukup berarti dalam meningkatkan kuailtas pendidikan. Menurut Direktur Pendidikan Menengah dan Umum, Umaedi (1999: 1), salah satu indikator kekurang berhasilan ini ditunjukkan antara lain dengan NEM siswa untuk berbagai bidang studi pada jenjang SD, SLTP dan SLTA yang tidak memperlihatkan kenaikan yang berarti bahkan boleh dikatakan konstan dari tahun ke tahun, kecuali pada beberapa sekolah dengan jumlah yang relatif sangat kecil. Indikator lainnya adalah banyak siswa yang telah lulus dari lembaga pendidikan atau sekolah menjadi pengangguran, tidak siap untuk menjadi warga negera yang bertanggung jawab dan produktif, sehingga menjadi beban keluarga, masyarakat, bangsa dan negara serta akhirnya mendorong terjadinya instabilitas nasional, baik dalam bidang ideologi, politik, ekonomi, sosial, budaya, pertahanan dan keamanan. Kondisi tersebut, permasalahan pokoknya adalah para siswa yang merupakan produk sistem pendidikan yang diselenggarakan tidak berfokus pada mutu (Nurochim, 2007: 1).
Salah satu faktor yang dapat menjelaskan mengapa upaya perbaikan mutu pendidikan selama ini kurang atau tidak berhasil adalah strategi pembangunan pendidikan selama ini lebih bersifat input oriented. Strategi yang demikian merupakan strategi yang lebih bersandar kepada asumsi bahwa bilamana semua input pendidikan telah dipenuhi, seperti penyediaan buku-buku (materi ajar) dan alat belajar lainnya, penyediaan sarana pendidikan, pelatihan guru dan tenaga kependidikan lainnya, maka secara otomatis lembaga pendidikan (sekolah) akan dapat menghasilkan output (keluaran) yang bermutu sebagai mana yang diharapkan. Ternyata strategi input-output yang diperkenalkan oleh teori education production function (Hanushek, 1981) tidak berfungsi sepenuhnya di lembaga pendidikan (sekolah), melainkan hanya terjadi dalam institusi ekonomi dan industri (Umaedi 1999: 2).
Selama ini proses pembelajaran tata busana di SMP Negeri 3 Nguter masih dikembangkan secara konvensional, yaitu dengan pendekatan yang berbasis pada aktifitas guru, dimana siswa hanya pasif mendengarkan dan menerima pengetahuan dari guru. Strategi ceramah dilaksanakan secara monotone, sehingga dianggap menjenuhkan bagi siswa. Dominasi guru dalam proses pembelajaran menyebabkan siswa lebih banyak menunggu sajian dari guru daripada mencari dan menemukan sendiri pengetahuan, keterampilan, serta sikap yang mereka butuhkan. Hasil belajarpun masih sangat rendah. Nilai penguasaan materi tata boga rata-rata dibawah 7,0., dengan  ketuntasan belajar yang juga masih dibawah 70%, sedangkan target KKM yang ditetapkan guru adalah 75% siswa tuntas belajar. Hasil wawancara yang dilakukan kepada sejumlah siswa menunjukkan bahwa mayoritas siswa jenuh dengan proses pembelajaran tata busana, lebih banyak mengantuk, dan kurang berminat dengan pembelajaran tata busana. Hal ini menunjukkan bahwa diperlukan adanya inovasi proses pembelajaran yang bersifat mampu meningkatkan antusias siswa, serta efektif dalam  penyampaian pengalaman dan pengetahuan dalam rangka meningkatkan prestasi belajar siswa.
Berdasarkan atas uraian tersebut, maka dianggap perlu untuk dilaksanakannya penelitian tindakan kelas yang berjudul “Implementasi Model Pembelajaran Inquiry Berbasis Teknologi Informasi Untuk Meningkatkan Prestasi Belajar Tata Busana Siswa Kelas VIII A.

B.       Identifikasi Masalah
Berdasarkan atas latar belakang masalah yang telah diuraikan, dapat diidentifikasi adanya permasalahan sebagai berikut:
1.    Selama ini proses pembelajaran tata busana di SMP Negeri 3 Nguter masih dikembangkan secara konvensional, yaitu dengan pendekatan yang berbasis pada aktifitas guru, dimana siswa hanya pasif mendengarkan dan menerima pengetahuan dari guru.
2.    Siswa banyak mengalami kejenuhan dalam proses pembelajaran tata busana didalam kelas.
3.    Penguasaan materi tata boga rata-rata dibawah 7,0., dengan  ketuntasan belajar yang juga masih dibawah 70%, sedangkan target KKM yang ditetapkan guru adalah 75% siswa tuntas belajar.

C.      Pembatasan Masalah
Pelaksanaan penelitian ini terbatas pada masalah-masalah sebagai berikut:
1.      Proses pelaksanaan pembelajaran tata busana dengan model pembelajaran inquiry berbasis teknologi informasi internet pada siswa kelas VIII A SMP Negeri 3 Nguter.
2.      Peningkatan prestasi belajar siswa yang dicapai setelah dikembangkan model pembelajaran inquiry berbasis teknologi informasi internet pada siswa kelas VIII A SMP Negeri 3 Nguter.

D.      Rumusan Masalah
Berdasarkan atas latar belakang masalah, identifikasi masalah, dan pembatasan masalah yang telah diuraikan, dibuat rumusan masalah penelitian sebagai berikut:
1.      Bagaimanakan proses pelaksanaan pembelajaran inquiry berbasis teknologi informasi internet dalam pembelajaran tata busana untuk siswa kelas VIII A SMP Negeri 3 Nguter?
2.      Seberapa besarkah peningkatan prestasi yang dicapai siswa kelas VIII A SMP Negeri 3 Nguter dalam pembelajaran tata busana setelah dikembangkan proses pembelajaran inquiry berbasis teknologi informasi internet dalam pembelajaran tata busana?

E.       Tujuan dan Manfaat Penelitian
1.      Tujuan Penelitian
Tujuan dari pelaksanaan penelitian ini adalah untuk mengetahui hal-hal sebagai berikut:
a.       Deskripsi tentang proses pelaksanaan pembelajaran inquiry berbasis teknologi informasi internet dalam pembelajaran tata busana untuk siswa kelas VIII A SMP Negeri 3 Nguter.
b.      Deskripsi tentang besarnya peningkatan prestasi yang dicapai siswa kelas VIII A SMP Negeri 3 Nguter dalam pembelajaran tata busana setelah dikembangkan proses pembelajaran inquiry berbasis teknologi informasi internet dalam pembelajaran tata busana.
2.      Manfaat Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberi manfaat dalam dua aspek sebagai berikut:
1)      Manfaat Teoretis
Hasil penelitian diharapkan mampu meningkatkan khasanah pengetahuan dibidang teknologi kependidikan, khususnya terkait dengan pengembangan model pembelajaran inquiry untuk bidang studi tata busana.
2)      Manfaat Praktis
a)      Bagi guru
Hasil penelitian diharapkan dapat menjadi masukan bagi guru untuk terkait dengan sistematika proses pembelajaran inquiry yang sesuai dengan kondisi guru dan siswa di kelas.
b)      Bagi siswa
Hasil penelitian yang dilaksanakan di sekolah diharapkan dapat meningkatkan efektifitas belajar siswa, meningkatkan minat belajar siswa, dan meningkatkan prestasi belajar siswa dalam bidang studi tata busana.
c)      Bagi sekolah
Hasil penelitian diharapkan dapat memberi masukan pada sekolah untuk dikembangkannya teknologi pembelajaran yang efektif dan efisien serta berhasil guna dalam pelaksanaan pendidikan di sekolah, dalam rangka meningkatkan kualitas output sekolah.

F.       Cara Pemecahan Masalah
Dalam rangka meningkatkan perbaikan proses pembelajaran tata busana dimana selama ini siswa masih kurang secara aktif terlibat dalam kegiatan berfikir saat proses pembelajaran dan siswa mengalami kejenuhan karena hanya mendengarkan ceramah guru, maka hal ini dapat disisasati dengan penggunaan pendekatan inkuiri berbasis teknologi informasi internet yang diyakini mampu meningkatkan aktivitas dan keterlibatan siswa saat proses pembelajaran dan meningkatkan minat siswa dalam mengikuti proses pembelajaran.
Guna menemukan langkah pelaksanaan model pembelajaran inkuiri yang terbaik, dilakukan dengan prosedur siklus, yang dalam penelitian ini dilaksanakan 2 siklus, yaitu siklus I dan siklus II. SIklus 1 merupakan pelaksanaan proses pembelajraan inkuiri tahap awal sebagai bentuk perbaikan atas  proses pembelajaran sebelumnya, sedangkan siklus 2 merupakan tahap perbaikan atas siklus 1 yang dilaksanakan dengan cara mempertahankan aspek-aspek yang menguntungkan selama pelaksanaan siklus 1 dan menghilangkan aspek-aspek yang merugikan selama pelaksanaan siklus 1, serta dilaksanakannya perbaikan-perbaikan atas kendala-kendala yang muncu dalam siklus1. Melalui prosedur siklus, maka proses pembelajaran inkuiri akan benar-benar sesuai dengan kondisi siswa dan guru, serta ditemukan proses pembelajaran yang paling efektif dan berhasil dalam rangka meningkatkan prestasi siswa untuk pembelajaran tata busana di sekolah.

DAFTAR PUSTAKA

Umedi, 1999. Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah, Jakarta: Direktorat Pendidikan Menengah Umum, Depdikbud
Made Pidarta, 1983. Management Pendidikan di Indonesia, Jakarta: Bina Aksara,
_______, 2004. Dasar-Dasar Perencanaan Pendidikan terbitan UNESCO, Jakarta: Logos
Nurochim. Peningkatan Mutu Sekolah. online. http://nurochim.multiply.com/journal/ item/1
Hanusek, Eric. 1981. Why Quality Metter in Education. New York: Harvard University
Isjoni. 2009. Cooperative Learning. Bandung : Alfabeta
Carin and Sund, 1980. Teaching Science Through. Discovery. Fourth Edition. Charles Merry. Publishing Co. Ohio. Coburn
Surachman, 1992. Pengajaran Inquiry. Jakarta: Rineka Cipta
Efraim, Turban. (1995). Decision support systems and expert system (4th ed.). Prentice-Hall International, Inc.
Ahmad Ochan, 2010. Pelaksanaan Pembelajaran yang Menyenangkan. Jakarta: Rineka Cipta
Wina Senjaya. 2008. Pembelajaran Berorientasi Standar Proses. Jakarta: Kencana Prenada Media Group
Soedanyo, 1990. Pembelajaran Inquiry.  Bandung: Rosda Kary
Wina Senjaya. 2008. Pembelajaran Berorientasi Standar Proses. Jakarta: Kencana Prenada Media Group

Soedanyo, 1990. Pembelajaran Inquiry.  Bandung: Rosda Karya

Untuk mendapatkan file skripsi / Thesis / PTK / PTS lengkap (Ms.Word),

hubungi : 08572 8000 963

PTK SMP 180 PEMBERIAN MOTIVASI PSIKOLOGIS UNTUK MENINGKATKAN PRESTASI BELAJAR TATA BUSANA


PEMBERIAN MOTIVASI PSIKOLOGIS UNTUK MENINGKATKAN PRESTASI BELAJAR TATA BUSANA PADA SISWA KELAS IX B SMP ........................
TAHUN PELAJARAN 2009/2010

ABSTRAK

PEMBERIAN MOTIVASI PSIKOLOGIS UNTUK MENINGKATKAN PRESTASI BELAJAR TATA BUSANA PADA SISWA KELAS IX B SMP ........................ TAHUN PELAJARAN 2009/2010

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui (1) Langkah-langkah pemberian motivasi belajar pada siswa kelas IX B untuk materi pembelajaran tata busana; (2) Besarnya peningkatan prestasi belajar siswa kelas IX B untuk materi pembelajaran tata busana setelah dilakukan upaya pemberian motivasi belajar.
Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas, yaitu penelitian yang dilakukan untuk meningkatkan kualitas proses pembelajaran dalam rangka melakukan perubahan pada diri siswa menuju arah yang lebih baik. Dalam penelitian ini, dilakukan uji coba tindakan pemberian motivasi psikologis kepada siswa sebagai upaya untuk meningkatkan prestasi belajar siswa. Pelaksanaan penelitian dilakukan di kelas IX B SMP ........................ tahun 2009/2010 semester genap. Analisis data dilakukan secara kualitatif.
Hasil penelitian adalah: (1) Pelaksanaan pemberian motivasi psikologis dalam pembelajaran tata busana dilakukan dengan (a) Memberikan harapan terbaik; (b) mempelajari kebutuhan dan mendukung tercapainya kebutuhan anak; (c) Mengkondisikan bahwa kegagalan bukanlah sesuatu yang fatal, akan tetapi justru menjadi petunjuk bahwa apa yang dilakukan merupakan hal yang tak boleh terulang.; (d) Menopang keinginan anak; (e) Menggunakan keteladanan; (f) Menggunakan keteladanan; (g) Memberikan pujian, meskipun terhadap keberhasilan yang sangat kecil; (h) Memadukan motivasi positif dan negative; (i) Membangun hasrat bersaing; (j) Menciptakan kerjasama; (2) Pemberian motivasi psikologis mampu meningkatkan prestasi tata busana siswa kelas IX B menjadi melenihi target yang ditetapkan guru, baik dari segi nilai rata-rata kelas siswa maupun dari segi ketuntasan belajar siswa.


BAB I
PENDAHULUAN

A.      Latar belakang Masalah
Sekolah sebagai satuan pendidikan merupakan ujung tombak bagi pengembangan sumber daya manusia bangsa Indonesia. Sekolah memiliki arti penting untuk membentuk atau mencetak kader-kader penerus yang berwawasan keilmuan serta memiliki pengalaman maupun keterampilan sehingga mereka mampu mengambil peranan nyata dalam pembangunan bangsa Indonesia, serta dalam turut meningkatkan daya saing bangsa Indonesia di dunia internasional. Dengan demikian, maka pengembangan kualitas dunia pendidikan di sekolah merupakan syarat utama dan pertama dalam rangka pengembangan daya saing bangsa Indonesia.
Guru yang profesional merupakan unsur yang utama dalam membangun kualitas pendidikan anak  karena guru merupakan sumberdaya manusia yang berperan dalam mengatur strategi penyelenggaraan proses pembelajaran untuk mengubah perilaku siswa menuju yang lebih baik melalui tranformasi pengetahuan, pengalaman, maupun dengan melakukan upaya-upaya pemecahan masalah yang terjadi dalam pendidikan. Pemahaman mengenai peran guru dalam mengajar bukan hanya sekedar melaksanakan kegiatan mentransformasi pengetahuan saja,  tetapi juga dalam  proses membimbing kegiatan belajar anak. Mulyasa (2006: 35) mengemukakan peran-peran guru dalam dunia pendidikan sebagai berikut:
1.    Guru sebagai pendidik. Sebagai pendidik, guru dianggap menjadi tokoh panutan, dan identifikasi bagi peserta didik dan lingkungannya.
2.    Guru sebagai pengajar. Guru memiliki tugas dalam suatu proses pembelajaran. Peran guru sebagai pengajar ini merupakan peran yang sangat umum dan dipahami oleh masyarakat, dimana guru memberikan pembelajaran materi-materi pada siswa yang sedang berkembang untuk mempelajari sesuatu yang belum diketahui siswa. Dalam hal ini, guru merupakan media pentransfer pengetahuan.
3.    Guru sebagai pembimbing. Guru dapat diibaratkan sebagai pembimbing perjalanan (journey) yang berdasarkan pengetahuan dan pengalamannya bertanggung jawab atas perjalanan tersebut. Perjalanan siswa dalam pendidikan bukanlah perjalanan dalam arti fisik, akan tetapi perjalanan dalam arti aspek mental, emosional, kreatifitas, moral, dan spiritual yang lebih dalam dan kompleks
4.    Guru sebagai pelatih. Proses pendidikan dan pembelajaran memerlukan adanya pelatihan ketrampilan, baik untelektual maupun motorik, sehingga menuntut guru untuk betrtindak sebagai pelatih.
5.    Guru sebagai penasehat. Guru adalah penasehat bagi peserta didik, bahkan bagi orang tua siswa, meskipun guru tidak melakukan pelatihan khusus untuk berperan sebagai penasehat professional.
6.    Guru sebagai pembaharu (innovator). Guru menterjemahkan pengalaman yang telah lalu ke dalam kehidupan yang bernakna bagi peserta didik.
7.    Guru sebagai model dan teladan.  Guru merupakan model atau teladan bagi peserta didik maupun bagi semua orang yang mengganggap dirinya sebagai guru. Sikap, tindakan, dan kepribadian guru merupakan suatu indikator yang sangat diperhatikan oleh peserta didik. Guru merupakan suatu acuan bagi perilaku siswa.
8.    Guru sebagai pribadi. Sebagai individu yang berkecimpung dalam dunia pendidikan,  guru harus memiliki kepribadian yang mencerminkan sebagai seorang pendidik
9.    Guru sebagai peneliti. Pembelajaran merupakan suatu seni yang memerlukan penyesuaian-penyesuaian terhadap kondisi lingkungan. Untuk itu diperlukan penelitian-penelitian pendidikan yang melibatkan guru. Keaktivan guru dalam mengembangkan penelitian kependidikan merupakan hal yang sangat penting bagi keberhasilan proses belajar-mengajar.
10.    Guru sebagai pendorong kreativitas. Kreativitas merupakan hal yang sangat penting dalam pembelajaran, dan guru harus memiliki kemampuan dalam mendemonstrasikan kreativitas. Dengan demikian, maka guru memiliki peranan dalam menunjukkan, memicu, mendorong, dan memunculkan kreativitas siswa.
11.    Guru sebagai pembangkit pandangan. Siswa belajar untuk mengetahui hal yang belum diketahuinya. Dalam hal ini, guru merupakan salah satu aktor utama yang memiliki peran dalam mentransfer pengetahuan serta memberikan pandangan-pandangan tentang suatu hal kepada siswa. Siswa yang belum memiliki cara pandang tersendiri terhadap suatu hal cenderung akan mengikuti bagaimana gurunya memandang suatu hal, oleh karena guru dianggap sebagai model atau sosok yang lebih memahami hal tersebut.
12.    Guru sebagai pekerja rutin. Guru bekerja dengan ketrampilan, dan kebiasaan tertentu serta kegiatan rutin yang sangat diperlukan.
Penjelasan-penjelasan tersebut mengindikasikan besarnya peran guru dalam menentukan keberhasilan proses pendidikan di sekolah. Kemampuan guru dalam menjalankan peranannya sebagai pendidik merupakan salah satu kunci bagi prestasi belajar siswa. Guru memiliki peranan dalam membimbing dan mendorong siswa menuju kreativitas belajar, sehingga guru dituntut untuk mampu mengembangkan berbagai langkah-langkah taktis dalam rangka mendorong siswa menunju prestasi belajar yang tinggi. Salah satu cara yang dapat dikembangkan guru dalam rangka mendorong siswa menunju proses pembelajaran yang penuh antusias untuk mencapai prestasi yang tinggi adalah dengan mengembangkan cara-cara pemberian motivasi psikologis pada siswa.
Menurut konsep yang dijelaskan oleh Makmun (2005: 37) motivasi dapat dipahami sebagai berikut:
Motivasi merupakan suatu kekuatan atau power atau tenaga (forces) atau daya atau suatu keadaan yang kompleks (complex states) dan kesiapsediaan (preparatory set) dalam diri individu untuk bergerak ke arah tujuan tertentu baik disadari maupun tidak. Motivasi timbul dan tumbuh berkembang dengan jalan datang dari dalam diri individu sendiri (intrinsik) dan datang dari lingkungan (ekstrinsik) Makmun (2005: 37).
Menurut Manullang (2009: 43), motivasi dapat digolongkan menjadi dua, yaitu motivasi materiil dan non materiil. Motivasi materiil merupakan motivasi yang diberikan dengan cara memberikan hal-hal yang bersifat fisik seperti uang atau penghargaan fisik lainnya sehingga seseorang menjadi lebih terdorong untuk melakukan suatu hal, sedangkan motivasi non materiil atau motivasi psikologis merupakan dorongan yang dilakukan dengan cara memberikan kepuasan-kepuasan tertentu seperti penghargaan sehingga seseorang menjadi lebih terdorong untuk melakukan suatu hal tertentu.
Di SMP ........................, khususnya pada siswa kelas IX B Tahun Pelajaran 2009/2010, fenomena rendahnya minat belajar siswa dalam pembelajaran tata busana sangat banyak dijumpai. Berdasarkan polling yang dilakukan, terdapat 46,7 siswa yang memiliki keinginan belajar yang rendah dalam pembelajaran tata busana. Rendahnya keinginan belajar tersebut menjadi faktor pengganggu terhadap keberhasilan proses pembelajaran keterampilan tata busana di kelas. Rendahnya minat belajar tersebut menunjukkan rendahnya motivasi belajar siswa yang dapat berdampak pada turunnya prestasi belajar siswa, sehingga hal ini perlu ditangani oleh guru dengan baik. Prestasi belajar tata busana siswa kelas IX B juga belum bagus, dimana nilai rata-rata kelas belum mencapai 7,5 dan ketuntasan belajar siswa belum mencapai 75% siswa yang tuntas belajar.
Berdasarkan atas hal-hal yang telah diuraikan, maka  dianggap perlu  untuk dilakukan penelitian yang berjudul “Upaya Pemberian Motivasi Psikologis untuk Meningkatkan Prestasi Belajar Tata Busana Pada Siswa Kelas IX B SMP ........................ Tahun Pelajaran 2009/2010”.
B.       Identifikasi Masalah
Bersadarkan atas latar belakang masalah yang telah dikemukakan, dapat diidentifikasi adanya masalah sebagai berikut:
1.    Di SMP ........................ Tahun Pelajaran 2009/2010, dijumpai fenomena rendahnya keinginan siswa dalam mempelajari materi pembelajaran tata busana di sekolah.
2.    Prestasi belajar tata busana siswa kelas IX B belum bagus, dimana nilai rata-rata kelas belum mencapai 7,5 dan ketuntasan belajar siswa belum mencapai 75% siswa yang tuntas belajar.

C.      Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang  masalah dan identifikasi masalah yang telah diuraikan, disusun rumusan masalah penelitian sebagai berikut:
1.    Bagaimanakah langkah-langkah pemberian motivasi psikologis pada siswa kelas IX B untuk materi pembelajaran tata busana?
2.    Seberapa besarkah peningkatan prestasi belajar siswa kelas IX B untuk materi pembelajaran tata busana setelah dilakukan upaya pemberian motivasi psikologis?
D.      Tujuan Penelitian
Adapun tujuan dari dilaksanakannya penelitian ini adalah untuk mengetahui hal-hal berikut:
1.      Langkah-langkah pemberian motivasi belajar pada siswa kelas IX B untuk materi pembelajaran tata busana.
2.    Besarnya peningkatan prestasi belajar siswa kelas IX B untuk materi pembelajaran tata busana setelah dilakukan upaya pemberian motivasi belajar.
E.       Kegunaan Penelitian
Kegunaan atau manfaat yang diharapkan dari dilaksanakannya penelitian ini meliputi beberapa aspek, diantaranya adalah sebagai berikut:
1.         Manfaat Teoritis
a.         Penelitian ini diharapkan dapat meningkatkan khasanah pengetahuan dalam bidang psikologi kependidikan, yang  secara khusus menyoroti upaya pemberian motivasi untuk meningkatkan prestasi belajar siswa.
b.        Penelitian ini juga diharapkan dapat menjadi landasan maupun referensi bagi penelitian psikologi kependidikan sejenis.
2.         Manfaat Praktis
a.         Penelitian ini diharapkan dapat menjadi memberikan dorongan bagi guru dalam mempelajari ilmu-ilmu yang mengarah pada fungsi guru yang lebih kompleks dari sekedar mengajar, dan diharapkan mampu menjadi sumber informasi bagi arti penting peranan guru  dalam dunia pendidikan. 
b.        Penelitian ini diharapkan dapat memberikan referensi bagi para pengambil keputusan di bidang pendidikan guna mengembangkan suatu system pendidikan yang tidak mengesampingkan arti penting peran guru tergadap perkembangan siswa.

DAFTAR PUSTAKA

Arikunto, Suharsimi. 2002. Prosedur Penelitian. Jakarta: Rineka Cipta
Barnadib, Sutari Imam. 1984. Pengantar Ilmu Pendidikan Sistematis. Yogyakarta: IKIP
DePorter, Bobby. 1999. Quantum Teaching. Jakarta: Kaifa
Greegory, Hansen. 1988. Motivation Technique in Education. New York, McGraw Hill.
Handerson, Van. 2002. Human Resource Development. Terjemahan Anwar Azhar. Jakarta: Gramedia.
Ismail dan Bambang Triyanto. 2007. Pedoman Menulis Skripsi. Sukoharjo: Univet Bantara Press
Makmun, H.A 2007. Psikologi Kependidikan. Bandung: Remaja Rosda Karya
Karini, Kartono. 1986. Psikologi Sosial dan Kenakalan Remaja. Jakarta: Rajawali
Yusuf, Mahmud, 2006. Pengantar Psikologi Anak dan Perkembangan. Jakarta: Ramadhani
Muhaimin, 1993. Pemikiran Pendidikan Islam. Kajian Filosofis dan
Kerangka Dasar Operasionalnya, Bandung: Triganda, 1993
Mulyasa, E. 2007. Menjadi Guru Profesional. Bandung: Remaja Rosda Karya
Majid, Abdul. 2007. Perencanaan Pembelajaran (Mengembangkan Standar Kompetensi Guru). Bandung: Remaja Rosdakarya.
Prasetya Irawan. 1994. Teori Belajar, Motivasi, dan Ketrampilan Mengajar Bahan Ajar. Jakarta: Dikti Depdikbud.
Purwanto, M. Ngalim. 1998. Ilmu Pendidikan Teoretis dan Praktis. Bandung: Remaja Rosda
Ridwan, Rifai.1992. Kamus Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka
Rini, Martina dan tasmin. 2002. Belajar Lebih Penting Daripada Bermain?  e-psikologi.
Rizky, A.M. 2009. Psikologi Anak dan Remaja. www.psikologi-perkembangan.blogspot.com. Diaskes 12 Januari, 2009
Simanjuntak, B. 1994. Latar Belakang Kenakalan Anak. Jakarta: Rineka Cipta
Sondang P. Siagian. 1995. Teori Motivasi dan Aplikasinya. Jakarta: Rineka Cipta
Soetomo.1993. Dasar-dasar Interaksi Belajar Mengajar. Surabaya: Usaha Nasional.
Tilaar, H.A.R. 2004. Paradigma Baru Pendidikan Nasional. Jakarta: Rineka Cipta.
Walgito, Bomo. 1993. Psikologi Umum. Yogyakarta: Andi Offset
Zuhairini, 1983. Metodik Khusus Pendidikan Agama. Surabaya : Usaha nasional.
Zuhairi, 1987. Guru dan Peranannya dalam Pendidikan. Jakarta: Ghalia

Untuk mendapatkan file skripsi / Thesis / PTK / PTS lengkap (Ms.Word),
hubungi : 08572 8000 963

PTK SMP 184 PENGGUNAAN MEDIA ALAT PERAGA UNTUK MENINGKATKAN PENGUASAAN MATERI TATA BUSANA

PENGGUNAAN MEDIA ALAT PERAGA UNTUK MENINGKATKAN PENGUASAAN MATERI TATA BUSANA
KELS IX C SMP ........................

ABSTRAK


Penggunaan Media Alat Peraga untuk Meningkatkan Penguasaan Materi Tata Busana Kels IX C SMP ........................


Tujuan dari diaksanakannya peneitian ini adalah untuk mengetahui: (1) Langkah-langkah penggunaan media alat peraga untuk meningkatkan penguasaan materi Tata Busana pada siswa Kelas IX C SMP Negeri 3 Nguter tahun pelajaran 2011/2012; (2) Besarnya peningkatan prestasi belajar yang dicapai siswa setelah penggunaan media alat peraga.
Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas (PTK) yang dilaksanakan dengan dua siklus pada semester gasal. Penelitian dilaksanakan di kelas IX C SMP Negeri 3 Nguter. Analisis data dilakukan dengan metode kualitatif, dengan jumlah sampel siswa 30 anak.
Hasil penelitian adalah sebagai berikut (1) Pelaksanaan pembelajaran tata busana dengan media alat peraga dilaksanakan dengan multi media yang menyajikan gambar diam dan bergerak (video). Pembelajaran dilakukan dengan menggunakan gambar diam dan bergerak untuk dua tahap penting, yaitu: (a) Tahap pengantar, dimana gGambar diam dan bergerak digunakan untuk menyajikan berbagai fakta sebelum diberikan konsep pembelajaran; (b) Tahap konsep, dimana gambar dan video digunakan untuk membantu menjelaskan konsep secara visual; (2) Penggunaan media alat peraga dipadukan dengan metode diskusi dan pengulangan konsep-konsep penting dalam setiap sesinya oleh guru; (3) Penggunaan media alat peraga yang memanfaatkan multi media dapat meningkatkan penguasaan materi siswa dalam bidang tata busana, yang diindikasikan dengan tercapainya target nilai dan KKM yang ditetapkan guru pada siklu II.


BAB I
PENDAHULUAN

A.  Latar Belakang Masalah
Bidang studi Tata Busana sampai saat ini masih menjadi masalah bagi siswa, dimana tidak banyak siswa yang dapat memperagakan pelatihan sendiri di rumah, sedangkan materi tata busana menuntut banyak adanya praktikum atau peragaan. Sebagai dampaknya, pembelajaran tata busana hanya menjadi hafalan, dan siswa kurang mampu mengetahui berbagai proses implementasi konsep dalam praktek nyata. Berdasarkan hasil wawancara survay awal yang dilakukan pada sejumlah siswa kelas IX C, sebagai dampak dari hal tersebut adalah sulitnya siswa mengerjakan test dan menyelesaikan permasalahan-permasalahan dalam bidang tata busana. Hal ini juga dapat dilihat dari angka ketuntasan belajar siswa Kelas IX C di SMP ........................, di mana dari 30 anak yang ada, baru 16 anak atau 53,3% siswa yang mencapai ketuntasan belajar. Hal ini menunjukkan bahwa bidang studi Tata Busana merupakan bidang studi yang sulit dan perlu mendapat perhatian khusus dari pendidik.
Bidang studi tata busana pada banyak melibatkan aspek-aspek visual yang menlibatkan indera pengihatan secara maksimal, seperti dalam materi tentang pemotongan kain, pembuatan pola pakaian, dan lainnya. Guru tata busana perlu untuk memiliki kemampuan atau  menggunakan media tertentu dalam menyampaikan informasi-informasi atau pengetahuan-pengetahuan yang dapat memberikan kejelasan bagi siswa, sehingga konsep-konsep yang seharusnya perlu melibatkan indera penglihatan dapat disampaikan secara optimal. Dengan demikian, maka dalam pembelajaran tata busana perlu dilakukan penggunaan media pembelajaran yang mampu memberikan gambaran yang jelas pada siswa terkait dengan visualisasi konsep, visualisasi proses, maupun visualisasi output pada siswa.
Pandangan tentang perlunya penggunaan media pembelajaran mengacu pada konsep yang menjelaskan bahwa proses pembelajaran merupakan proses komunikasi yang mengandung lima komponen yaitu komunikasi, guru (komunikator), bahan pembelajaran, media pembelajaran, siswa (komunikan), dan tujuan pembelajaran. Media pembeajaran merupakan salah satu komponen yang peru diperhatikan untuk mendukung tercapainya komunikasi yang efektif dari pendidik kepada siswa. Media pembelajaran adalah segala sesuatu yang dapat digunakan untuk menyalurkan pesan (bahan pembelajaran), sehingga dapat merangsang perhatian, minat, pikiran, dan perasaan siswa dalam kegiatan belajar untuk mencapai tujuan belajar (Santyasa, 2007). Ha ini juga sesuai dengan penjeasan dari Criticos (1996) yang mengemukakan bahwa media merupakan salah satu komponen komunikasi, yaitu sebagai sarana pembawa pesan dari komunikator menuju komunikan.
Alat peraga sifatnya lebih mampu memberikan pengalaman riil kepada siswa karena siswa dapat melihat, merasakan dan meraba alat peraga yang digunakan guru. Hal ini sejalan dengan pendapat Dale tentang kerucut pengalaman sebagaimana dikutip oleh Hamalik (1996) yang menjelaskan bahwa pengalaman berlangsung  dari tingkat yang konkrit naik menuju tingkat yang lebih abstrak.  Alasan lain adalah sebagaimana yang dikemukakan oleh Yulinda (2001) bahwa dalam pembelajaran Tata Busana selama ini dunia nyata hanya dijadikan tempat mengaplikasikan konsep-konsep semata. Siswa banyak mengalami kesulitan belajar Tata Busana di kelas. Akibatnya, siswa kurang menghayati atau memahami konsep-konsep Tata Busana, dan siswa mengalami kesulitan untuk mengaplikasikan Tata Busana dalam kehidupan sehari-hari. Pembelajaran Tata Busana di kelas perlu ditekankan pada keterkaitan antara konsep-konsep Tata Busana dengan pengalaman anak sehari-hari. Alasan lain khusnya terkait dengan materi  tata busana, materi ini merupakan materi yang lebih berhubungan dengan hal yang bersifat konkrit, yaitu membahas tentang berbagai konsep pakaian (fashion) yang banyak dijumpai daam kehidupan nyata. Dengan demikian, maka media pembelajaran diyakini cukup relevan untuk mendukung proses pembeajaran tata busana pada siswa.
Alat peraga yang digunakan merupakan benda-benda tiruan yang memiiki bentuk sesuai dengan benda aslinya. Kesesuaian yang dimaksud bukanah selalu sama persis dengan aslinya, akan tetapi lebih ditekankan pada kesesuaian elemen-elemen yang berperan dalam memberikan bentuk benda. Media benda konkrit dapat membantu siswa berfikir secara konkrit menuju pada tahap berfikir secara abstrak. Hal ini terjadi karena melalui media benda konkrit maka pendidik dapat menyampaikan tentang unsur-unsur yang menyusunnya dan bagaimana mematematisasi unsur-unsur tersebut untuk proses perhitungan yang bersifat abstrak.
Berdasarkan latar belakang masalah tersebut maka penulis mengadakan penelitian dengan judul “Penggunaan Media Alat Peraga untuk Meningkatkan Penguasaan Materi Tata Busana Pada Siswa Kelas IX C SMP Negeri 3 Nguter”.

B.   Rumusan Masalah
Rumusan masalah penelitian ini adalah:
1.    Bagaimanakah penggunaan media alat peraga untuk meningkatkan penguasaan materi Tata Busana pada siswa Kelas IX C SMP Negeri 3 Nguter tahun pelajaran 2011/2012?”
2.    Bagaimanakah peningkatan prestasi belajar yang dicapai siswa setelah penggunaan media alat peraga?

C.   Tujuan Penelitian
Adapun tujuan dari diaksanakannya peneitian ini adalah untuk mengetahui:
1.    Langkah-langkah penggunaan media alat peraga untuk meningkatkan penguasaan materi Tata Busana pada siswa Kelas IX C SMP Negeri 3 Nguter tahun pelajaran 2011/2012.
2.    Besarnya peningkatan prestasi belajar yang dicapai siswa setelah penggunaan media alat peraga.

D.  Manfaat Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat sebagai berikut:
1. Manfaat Teoretis
Hasil penelitian diharapkan dapat menambah khasanah pengetahuan tentang penggunaan alat peraga dalam bidang studi Tata Busana.
2. Manfaat Praktis
Secara praktis, hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat antara lain sebagai barikut:
a. Bagi Guru
Hasil penelitian diharapkan dapat  memberikan sumbangan pemikiran kepada guru tentang cara pembelajaran dengan menggunakan media konkrit untuk materi tata busana.
b. Bagi sekolah
Hasil penelitian diharapkan dapat menambah kekayaan referensi tentang strategi pembelajaran dalam bidang studi Tata Busana.

DAFTAR PUSTAKA

Zulkiyah Ahmad. 2009.  Problematika Pembelajaran Keterampilan Tata Busana. www.azizgr.blogspot.com
Arief S .Sadiman. 1986. Media Pendidikan,  Jakarta: Rajawali
Ari Asnaldi. 2008. Teori-Teori Belajar Proses Perubahan. www.multiply.com
Criticos, C. 1996. Media selection. Plomp, T., & Ely, D. P. (Eds.): International Encyclopedia of Educational Technology, 2nd edition. New York: Elsevier Science, Inc.
Heru Subiyantoro. 2008. Hasil Belajar dan Pengukurannya. Jakarta: Rineka Cipta
Ibrahim, H., Sihkabuden, Suprijanta, & Kustiawan, U. 2001. Media pembelajaran: Bahan sajian program pendidikan akta mengajar. FIP. UM.
Ingridwati Kurnia. 2007. Perkembangan belajar Peserta DidKi. Jakarta: Dirjen Dikti Departeman Pendidikan Nasional.
I Wayan Santyasa. 2007. Media Pembelajaran. Workshop Media Pembelajaran bagi Guru-Guru SMA Negeri Banjar Angkan. Pada tanggal 10 Januari 2007 . Bandung: Universitas Ganesha
Moedjiono. 1981. Media pendidikan III: Cara pembukaan media pendidikan. Jakarta: P3G. Depdikbud.
Oemar Hamalik. 1996. Strategi Belajar Mengajar. Bandung: Pustaka martina
Slametto. 1995. Belajar dan Faktor-Faktor yang mempengaruhinya. Jakarta: Rineka Cipta
Sadiman, A.S. 1986. Media pendidikan: pengeratian, pengembangan, dan pemanfaatannya. Jakarta: Cv. Rajawali.
 Surachman, 1992. Pengajaran Inquiry. Jakarta: Rineka Cipta
Efraim, Turban. (1995). Decision support systems and expert system (4th ed.). Prentice-Hall International, Inc.
Ahmad Ochan, 2010. Pelaksanaan Pembelajaran yang Menyenangkan. Jakarta: Rineka Cipta
Wina Senjaya. 2008. Pembelajaran Berorientasi Standar Proses. Jakarta: Kencana Prenada Media Group
Soedanyo, 1990. Pembelajaran Inquiry.  Bandung: Rosda Karya

Untuk mendapatkan file skripsi / Thesis / PTK / PTS lengkap (Ms.Word),
hubungi : 08572 8000 963

PTK SMP 185 IMPLEMENTASI MODEL PEMBELAJARAN KETERAMPILAN PROSES UNTUK MENINGKATKAN PRESTASI BELAJAR TATA BUSANA


IMPLEMENTASI MODEL PEMBELAJARAN KETERAMPILAN PROSES UNTUK MENINGKATKAN PRESTASI BELAJAR
TATA BUSANA SISWA KELAS VIII G

BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang Masalah
Undang-Undang Sisdiknas Tahun 2003 yang diterapkan saat ini merumuskan adanya perubahan sistem pendidikan nasional ke arah otonomi pendidikan. Perubahan mendasar yang dicanangkan dalam Undang-undang Sisdiknas tersebut antara lain adalah demokratisasi dan desentralisasi pendidikan, peran serta masyarakat, tantangan globalisasi, kesetaraan dan keseimbangan, jalur pendidikan, dan peserta didik. Konsep demokratisasi dalam pengelolaan pendidikan yang dituangkan dalam UU Sisdiknas 2003, BAB III tentang prinsip penyelenggaraan pendidikan (pasal 4) dijelaskan bahwa pendidikan diselenggarakan secara demokratis dan berkeadilan, serta tidak diskriminatif dengan menjunjung tinggi hak asasi manusia, nilai keagamaan, nilai kultural, dan kemajemukan bangsa (ayat 1) (UU Nomor 20 Tahun 2003).
Sementara itu, kondisi yang terjadi di Indonesia saat ini adalah dilanda krisis politik, krisis ekonomi, hukum, kebudayaan, yang secara serempak membentuk krisis multi dimensional. Menurut Tilaar (2004: 9) aspek pendidikan adalah unsur yang kuat dalam membentuk budaya bangsa, sistem hukum, dan kepemerintahan. Dengan demikian, maka saat ini sangat dituntut adanya pengembangan dan pemberdayaan pendidikan dalam konteks yang luas, dalam rangka membantu menyelesaikan krisis multidimensional di Indonesia. Disisi lain, perkembangan dunia global terus maju pesat, dipelopori dengan pengembangan-pengembangan keilmuan, ekonomi, sistem politik, dan pendidikan di Negara-negara maju.  Pasar bebas dan kerjasama regional serta internasional telah dan sedang dikembangkan. Dengan demikian, maka persaingan semakin ketat dalam hampir seluruh aspek kehidupan. Instansi-instansi internasional mulai masuk secara bebas ke Indonesia. Kondisi ini merupakan motivasi bagi bangsa Indonesia untuk meningkatkan mutu persaingan.
Peningkatan mutu persangan dapat diartikan sebagai peningkatan kualitas individu yang mampu menghasilkan hasil karya yang diperoleh dari kompetisi tersebut (Tilaar, 2004). Apabila dikaji lebih dalam, maka peningkatan kempetisi dihasilkan oleh pendidikan yang kondusif bagi lahirnya individu-individu yang kompetitif, dalam arti positif.  
Salah satu hal penting dalam rangka meningkatkan kualitas proses pembelajaran adalah dengan mengembangkan berbagai pendekatan pembelajaran modern yang lebih sesuai dengan sifat manusiawi siswa, lebih sesuai dengan kondisi siswa, guru, dan sekolah, serta lebih memperhatikan kondisi kejiwaan siswa dalam melakukan proses belajar. Menurut Slameto (1999: 26), proses pelaksanaan pendidikan di sekolah merupakan salah satu factor eksternal yang berpengaruh terhadap prestasi belajar siswa. Hal ini menjadi dasar bagi dikembangkannya pendekatan pembelajaran yang bermutu dengan tujuan untuk meningkatkan prestasi belajar siswa.
Berdasarkan atas uraian tersebut, maka dianggap perlu untuk dilaksanakannya penelitian tindakan kelas yang berjudul “Implementasi Model Pembelajaran Keterampilan Proses untuk Meningkatkan Prestasi Belajar Tata Busana Siswa Kelas VIII G

B.    Identifikasi Masalah
Berdasarkan atas latar belakang masalah yang telah diuraikan, dapat diidentifikasi adanya permasalahan sebagai berikut:
1. Selama ini proses pembelajaran tata busana kelas VIII G di SMP Negeri 3 Nguter masih dikembangkan dengan pendekatan ekspositori, yaitu pendekatan yang berorientasi pada interaksi satu arah dimana guru memegang semua kendali atas proses pembelajaran sedangkan siswa berperan sebagai pihak yang hanaya secara pasif menerima pengetahuan dalam bentuk sudah matang dari guru.
2. Siswa kurang memahami tentang proses diperolehnya konsep, tidak berkesempatan berinteraksi secara mengembang dengan konsep, dan kurang mampu menggunakan konsep untuk sumber analisis atas masalah-masalah yang muncul dalam mengimplementasikan konsep pada masalah riil.
3. Mayoritas siswa kurang memahami materi pembelajaran akibat pembelajaran yang mengarah pada sifat hafalan semata, sehingga mudah hilang dari ingatan karena siswa tidak faham dengan hakikat dari konsep yang ada, latar belakang munculnya konsep, cara perolehan konsep, maupun asal-usul konsep.
4. Prestasi  belajar siswa  masih sangat rendah, dimana nilai tata boga rata-rata dibawah 7,5., dengan  ketuntasan belajar yang juga masih dibawah 75%, sedangkan target KKM yang ditetapkan guru adalah 75% siswa tuntas belajar.
C.    Pembatasan Masalah
Pelaksanaan penelitian ini terbatas pada masalah-masalah sebagai berikut:
1.   Proses pelaksanaan pembelajaran tata busana dengan model pembelajaran keterampilan proses  pada siswa kelas VIII G SMP Negeri 3 Nguter.
2.   Peningkatan prestasi belajar siswa yang dicapai setelah dikembangkan model pembelajaran keterampilan proses pada siswa kelas VIII G SMP Negeri 3 Nguter.

D.   Rumusan Masalah
Berdasarkan atas latar belakang masalah, identifikasi masalah, dan pembatasan masalah yang telah diuraikan, dibuat rumusan masalah penelitian sebagai berikut:
1.   Bagaimanakan pelaksanaan proses pembelajaran dengan model pembelajaran keterampilan proses dalam pembelajaran tata busana untuk siswa kelas VIII G SMP Negeri 3 Nguter?
2.   Seberapa besarkah peningkatan prestasi yang dicapai siswa kelas VIII G SMP Negeri 3 Nguter dalam pembelajaran tata busana setelah dikembangkan proses pembelajaran dengan model pembelajaran keterampilan proses?

E.    Tujuan dan Manfaat Penelitian
1.   Tujuan Penelitian
Tujuan dari pelaksanaan penelitian ini adalah untuk mengetahui hal-hal sebagai berikut:
a.   Deskripsi tentang proses pelaksanaan pembelajaran dengan model pembelajaran keterampilan proses dalam pembelajaran tata busana untuk siswa kelas VIII G SMP Negeri 3 Nguter.
b.   Deskripsi tentang besarnya peningkatan prestasi yang dicapai siswa kelas VIII G SMP Negeri 3 Nguter dalam pembelajaran tata busana setelah dikembangkan proses pembelajaran dengan model pembelajaran keterampilan proses dalam pembelajaran tata busana.
2.   Manfaat Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberi manfaat dalam dua aspek sebagai berikut:

1)   Manfaat Teoretis
Hasil penelitian diharapkan dapat menambah pustaka pengetahuan kependidikan tentang perbaikan proses pembelajaran di kelas, khususnya dalam pendekatan pembelajaran keterampilan proses untuk bidang keterampilan.
2)   Manfaat Praktis
a)   Bagi guru
Hasil penelitian diharapkan dapat menjadi masukan bagi guru untuk terkait dengan langkah-langkah yang efektif dalam melaksanakan proses pembelajaran keterampilan tata busana dengan model pembelajaran keterampilan proses.
b)   Bagi siswa
Hasil penelitian yang dilaksanakan di sekolah diharapkan dapat meningkatkan efektifitas belajar siswa, meningkatkan minat belajar siswa, dan meningkatkan prestasi belajar siswa dalam bidang studi tata busana.
c)   Bagi sekolah
Hasil penelitian diharapkan dapat menjadi referensi bagi sekolah untuk dikembangkannya proses pembelajaran yang berorientasi pada proses, bukan hanya pada tersampaikannya materi, sehingga terjadi dampak yang berupa peningkatan output pendidikan di sekolah.

F.    Cara Pemecahan Masalah
Perbaikan pembelajaran dengan model pembelajaran ketrampilan proses pada prinsipnya dilaksanakan dengan melibatkan siswa secara langsung untuk mengelola pengetahuan dan pengalaman yang didapat dalam kegiatan belajar mengajar (KBM) yang memberikan kesempatan seluas-luasnya pada siswa untuk mengamati, menggolongkan, menafsirkan, meramalkan, menerapkan, merencanakan pengamatan maupun penelitian, dan mengkomunikasikan hasil perolehan tersebut.  Guna menemukan langkah pelaksanaan model pembelajaran keterampilan proses yang terbaik, dilakukan dengan prosedur siklus, yang dalam penelitian ini dilaksanakan 2 siklus, yaitu siklus I dan siklus II. Siklus 1 merupakan pelaksanaan proses pembelajraan keterampilan proses tahap awal sebagai bentuk perbaikan atas  proses pembelajaran sebelumnya, sedangkan siklus 2 merupakan tahap perbaikan atas siklus 1 yang dilaksanakan dengan cara mempertahankan aspek-aspek yang menguntungkan selama pelaksanaan siklus 1 dan menghilangkan aspek-aspek yang merugikan selama pelaksanaan siklus 1, serta dilaksanakannya perbaikan-perbaikan atas kendala-kendala yang muncu dalam siklus1.
Akhir dari siklus dalam penelitian tindakan kelas untuk model pembelajaran keterampilan proses diharapkan merupakan temuan atas prosedur pembelajaran yang memiliki banyak keuntungan-keuntungan dengan minimalnya factor-faktor pengganggu, sehingga diharapkan prestasi belajar siswa menjadi lebih baik dari sebelum dilaksanakan penelitian tindakan kelas.

DAFTAR PUSTAKA

Sumarsono, 1992: 9) Arah  Kebijakan dan Program Pembinaan dan Pengembangan Kesiswaan (Jakarta: Mini Jaya, 1992), h. 9
Umedi, 1999. Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah, Jakarta: Direktorat Pendidikan Menengah Umum, Depdikbud
Made Pidarta, 1983. Management Pendidikan di Indonesia, Jakarta: Bina Aksara,
_______, 2004. Dasar-Dasar Perencanaan Pendidikan terbitan UNESCO, Jakarta: Logos
Nurochim. Peningkatan Mutu Sekolah. online. http://nurochim.multiply.com/journal/ item/1
Hanusek, Eric. 1981. Why Quality Metter in Education. New York: Harvard University
Isjoni. 2009. Cooperative Learning. Bandung : Alfabeta
Carin and Sund, 1980. Teaching Science Through. Discovery. Fourth Edition. Charles Merry. Publishing Co. Ohio. Coburn
Surachman, 1992. Pengajaran Inquiry. Jakarta: Rineka Cipta
Efraim, Turban. (1995). Decision support systems and expert system (4th ed.). Prentice-Hall International, Inc.
Ahmad Ochan, 2010. Pelaksanaan Pembelajaran yang Menyenangkan. Jakarta: Rineka Cipta
Wina Senjaya. 2008. Pembelajaran Berorientasi Standar Proses. Jakarta: Kencana Prenada Media Group
Soedanyo, 1990. Pembelajaran Inquiry.  Bandung: Rosda Karya

Untuk mendapatkan file skripsi / Thesis / PTK / PTS lengkap (Ms.Word),

hubungi : 08572 8000 963

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites