Paksa Messenger

Kami Menyediakan Referensi, Kami Membantu, Kami Menolak PLAGIATISME

Minggu, 01 Januari 2012

PTK SMP 169 MENINGKATKAN KETERAMPILAN MENULIS CERPEN MELALUI PENDEKATAN CTL

MENINGKATKAN KETERAMPILAN MENULIS CERPEN MELALUI PENDEKATAN CTL PADA KELAS IX – B SMP NEGERI 1 WADO
 

BAB 1

PENDAHULUAN
 1.1 Latar Belakang
Dalam peraturan pemerintah Nomor 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan BAB V Standar Kompetensi Lulusan Pasal 25 ayat (3) dijelaskan bahwa kompetensi lulusan untuk mata pelajaran bahasa (termasuk bahasa Indonesia) menekankan kepada kemampuan membaca dan menulis yang sesuai dengan jenjang pendidikan. Dalam hal membaca, pada akhir pendidikan di SMP/MTs, peserta didik diharapkan telah membaca sekurang-kurangnya sembilan buku sastra dan tiga buku nonsastra.
Pelaksanaan tentang standar isi dan standar kelulusan diatur dalam peraturan pemerintah No. 24 tahun 2006 mengenai panduan penyusunan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan dan Silabus Bahasa Indonesia. Dalam bab pendahuluan dikemukakan bahwa Bahasa Indonesia merupakan sarana komunikasi dan sastra merupakan salah satu hasil budaya yang menggunakan bahasa sebagai sarana kreativitas. Oleh karena itu bahasa dan sastra Indonesia seharusnya diajarkan kepada siswa melalui pendekatan yang sesuai menekankan aspek kinerja atau keterampilan berbahasa dan fungsi bahasa adalah pendekatan komunikatif, sedangkan pendekatan pembelajaran sastra yang menekankan apresiasi sastra adalah apresiatif.
Dalam kehidupan sehari-hari, bahasa adalah alat komunikasi untuk berbagai keperluan, baik secara lisan maupun tertulis. Pada saat pelaksanaannya tentu harus mengikuti aturan-aturan yang benar sehingga tidak terjadi kesalahpahaman.
Sementara itu, sastra adalah satu bentuk sistem karya seni yang menggunakan media bahasa. Sastra ada yang untuk di baca, dinikmati dan dipahami serta untuk dimanfaatkan sebagai pengembangan wawasan dalam kehidupan. Jadi pembelajaran sastra seharusnya ditekankan pada kenyataan bahwa sastra merupakan salah satu bentuk seni yang dapat diapresiasi. Oleh karena itu, pembelajaran sastra harus bersifat apresiatif.
Kenyataan di sekolah tidak setiap siswa menyukai sastra, lebih-lebih menulis sastra dalam bentuk cerpen. Banyak siswa beranggapan bahwa menulis atau berkarya di bidang sastra adalah bakat. Kenyataan inilah yang menjadi motivasi kami untuk melaksanakan penelitian tindakan kelas, sehingga anggapan siswa pada umumnya ini sedikit demi sedikit dapat ditepis. Selain itu adalah sudah kewajiban guru untuk mengupayakan jalan keluar agar siswa mencintai sastra, lebih jauhnya lagi menguasai.
Seperti dijelaskan di atas bahwa dalam pembelajaran bahasa Indonesia diantaranya materi yang harus dikuasai untuk menumbuhkan pemahaman keanekagaraman budaya Indonesia melalui khasanah kesastraan Indonesia adalah pembelajaran mengarang. Salah satunya tertera pada Kompetensi Dasar. Menulis kembali cerita pendek bertolak dari peristiwa yang pernah dialami (8.2).

1.2 Rumusan Masalah dan Batasan Masalah
1.2.1  Rumusan Masalah
Masalah adalah kesulitan yang menuntut pencarian jalan keluar untuk penyelesaiannya. Hal yang sedang dihadapi perlu dirumuskan agar jelas maka berdasarkan uraian pada latar belakang di atas, penulis merumuskannya sebagai berikut:
1.   Apakah siswa mampu mengembangkan ungkapan sebagai sumber tema dalam cerpen?
2.   Apakah pendekatan CTL efektif sebagai pendekatan kegiatan pembelajaran menulis cerpen?
1.2.1  Batasan Masalah
Agar masalah yang diteliti ruang lingkupnya tidak luas, maka penulisan membatasi hanya pada pembelajaran keterampilan menulis cerpen pengembangan ungkapan. Adapun yang digunakan adalah pendekatan CTL (Contextual Teaching and Learning).

1.3 Tujuan penelitian
Sesuai dengan perumusan dan pembatasan masalah maka penulis menetapkan tujuan sebagai berikut:
a.   Untuk mengetahui pemahaman siswa dalam menulis karangan bentuk narasi.
b.   Untuk mengetahui efektivitas ungkapan sebagai bahan inspirasi pembuatan cerpen.
c.   Untuk efektivitas pendekatan CTL pada pembelajaran bahasa Indonesia, khususnya menulis.
d.   Untuk mengetahui kendala yang dihadapi siswa saat mengarang bentuk cerpen serta mencari jalan keluarnya.
e.   Untuk menambahkan wawasan guru dalam menciptakan suasana pembelajaran yang menyenangkan dan bermakna.
1.4 Manfaat Penelitian
Hasil penelitian ini menyampaikan teman-teman yang terdapat saat berlangsung KBM, dan mendeskripsikan hasil analisis cerpen dengan metode pengembangan ungkapan, menggunakan pendekatan CTL. Kami sebagai peneliti berharap penelitian ini bermanfaat, baik bagi siswa maupun guru demi tercapainya cita-cita luhur yang mencerdaskan bangsa.
Menurut pendapat kami hasil penelitian ini bermanfaat bagi siswa, guru juga sekolah.
1.4.1  Manfaat bagi Siswa
a.   Siswa dapat mengungkapkan pengalaman, gagasan, pesan, perasaan, sesuai kebutuhan;
b.   Siswa mampu menulis cerpen berdasarkan peristiwa yang dialaminya dengan mempertahankan unsure intrinsic dalam karya sastra
c.   Melalui pendekatan CTL, siswa terbiasa bertukar pikiran dalam memecahkan permasalah yang dihadapi dengan kegiatan belajar yang bermakna dan menyenangkan.
1.4.2  Adapun manfaat bagi guru, diantaranya adalah:
a.   Guru dapat melakukan pendekatan yang lebih tepat pada pendekatan KBM;
b.   Guru dapat mengetahui bakat siswa dalam menulis, khususnya menulis cerpen sumber tema ungkapan.
c.   Guru dapat mengetahui keunggulan dan kelemahan pendekatan CTL dalam pembelajaran menulis.
d.   Guru dapat menemukan variasi belajar yang kreatif dan inovatif.
1.4.3  Dan manfaat bagi sekolah
a.   Menciptakan budaya meneliti kalangan guru, sehingga diharapkan profesionalisme guru lebih meningkat.
b.   Sekolah akan makin maju bila guru dan siswa berdaya optimal
c.   Sekolah akan lebih bermutu bila guru-guru profesional


Untuk mendapatkan file skripsi / Thesis / PTK / PTS lengkap (Ms.Word), hubungi :
08572 8000 963

0 komentar:

Poskan Komentar

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites