Paksa Messenger

Kami Menyediakan Referensi, Kami Membantu, Kami Menolak PLAGIATISME

Senin, 22 Agustus 2011

PTK SMA 079 PELAKSANAAN MODEL PEMBELAJARAN TOTALLY PHYSICAL RESPONSE (TPR) UNTUK MENINGKATKAN PRESTASI BELAJAR SPEAKING DALAM BAHASA INGGRIS SISWA KELAS X-B SMA ______


PELAKSANAAN MODEL PEMBELAJARAN TOTALLY PHYSICAL RESPONSE (TPR) UNTUK MENINGKATKAN PRESTASI
BELAJAR SPEAKING DALAM BAHASA INGGRIS
SISWA KELAS X-B SMA ______

ABSTRAK
..........., NIP ........ Pelaksanaan Model Pembelajaran Totally Physical Response (TPR) Untuk Meningkatkan Prestasi Belajar Speaking dalam Bahasa Inggris Siswa Kelas X-B SMA______. 2008/2009


Penelitian dilaksanakan dengan tujuan untuk mengetahui: (1) Langkah-langkah pelaksanaan pembelajaran speaking dalam bahasa Inggris dengan model pembelajaran Totally Physical Response (TPR) pada siswa kelas X-B SMA ____; (2) Besarnya peningkatan prestasi siswa kelas X-B untuk speaking dalam bidang bahasa Inggris setelah dilaksanakan proses pembelajaran dengan model pembelajaran Totally Physical Response (TPR).
Jenis penelitian adalah penelitian tindakan kelas (classroom action research) dengan metode analisis kualitatif. Penelitian dilaksanakan pada semester genap tahun pelajaran 2008/2009 di kels X-B SMA _____
Hasil penelitian adalah: (1) Proses pembelajaran speaking dengan model pembelajaran TPR dilakukan dengan memasukkan aspek respon grakan tubuh, aspek respon koordinasi gerakan dengan lisan, dan aspek respon balikan. Pembelajaran TPR dilakukan dengan memasukkan teknik diskusi, demonstrasi, knowledge sharing, dan problem solving. Pembelajaran speaking dengan TPR diperkuat dengan memasukkan penguatan perbendaharaan kata pada siswa dan tata bahasa pada siswa yang sesuai dengan tema materi pembelajaran speaking; (2) Peningkatan prestasi belajar setelah dilaksanakannya pembelajaran speaking dengan TPR cukup besar, dimana pada pra penelitian tindakan nilai speaking siswa hanya 6,26 dan meningkat sedikit menjadi 6,6 pada siklus I, kemudian meningkat secara drastic menjadi 7,3 pada siklus II, dan meningkat lagi menjadi 7,51 pada siklus III. Jumlah siswa yang tuntas belajar juga mengalami peningkatan, dimana pada pra pelaksanaan penelitian hanya 18 siswa (45%) siswa tuntas belajar, pada siklus I meningkat sedikit menjadi 19 siswa (47,5%) tuntas belajar, pada siklus II meningkat pesat menjadi 28 siswa (70%) tuntas belajar, dan pada siklus III sudah mencapai 33 orang atau 82,5% siswa tuntas belajar. Jumlah ini sudah lebih besar dari target yang ditetapkan guru, yaitu lebih dari 75% siswa tuntas belajar dengan target nilai rata-rata kelas 7,5.


BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang Masalah
Pemberlakuan sistem desentralisasi pendidikan akibat pemberlakuan Undang-Undang No.22 Tahun 1999 tentang otonomi pemerintahan daerah, memberi dampak terhadap pelaksanaan pada manajemen pendidikan yaitu manajemen yang memberi ruang gerak yang lebih luas kepada pengelolaan pendidikan untuk menemukan strategi berkompetisi dalam era kompetitif mencapai output pendidikan yang berkualitas dan mandiri. Kebijakan desentralisasi, menurut Manullang (2010: 1) akan berpengaruh secara signifikan dengan pembangunan pendidikan, setidaknya ada 4 dampak positif untuk mendukung kebijakan desentralisasi pendidikan, yaitu : 1) Peningkatan mutu, yaitu dengan kewenangan yang dimiliki sekolah maka sekolah lebih leluasa mengelola dan memberdayakan potensi sumber daya yang dimiliki; 2) Efisiensi Keuangan hal ini dapat dicapai dengan memanfaatkan sumber-sumber pajak lokal dan mengurangi biaya operasional; 3) Efisiensi Administrasi, dengan memotong mata rantai birokrasi yang panjang dengan menghilangkan prosedur yang bertingkat-tingkat; 4) Perluasan dan pemerataan, membuka peluang penyelenggaraan pendidikan pada daerah pelosok sehingga terjadi perluasan dan pemerataan pendidikan.
Otonomi pendidikan yang berdampak pada kewenangan yang luas pada tiap satuan pendidikan untuk mengembangkan manajemen dan mutu sekolah berakibat pada munculnya persaingan-persaingan antar satuan pendidikan dalam rangka meningkatkan kualitas pendidikan di sekolah masing-masing untuk menumbuhkan minat masyarakat dalam mengakses layanan pendidikanyang diberikan sekolah. Peningkatan mutu pendidikan sangat diperlukan untuk setiap sekolah yang didirikan dengan misi mencerdaskan kehidupan bangsa dan menumbuhkan kreativitas dan inovasi siswa, dengan demikian, manajemen mutu pendidikan di sekolah dalam rangka membentuk sistem pengajaran yang professional dan bersaing merupakan suatu tuntutan yang mutlak harus dipenuhi bagi dunia pendidikan sekolah yang otonomis.
Pendidikan bahasa Inggris, menurut BSNP (BSNP, 2007: 75), menjadi komponen wajib dalam kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP) untuk tingkat sekolah menengah. Kebijakan pendidikan dan kurikulum memberikan cakupan konteks serta harapan yang bisa mendorong proses pembelajaran menuju masa depan siswa yang lebih baik. Disisi lain, bahasa Inggris yang di ajarkan di SMA sebagai bekal siswa, menurut Lie saat ini dirasakan masih belum memuaskan. Sangat sedikit lulusan SMA yang mampu berkomunikasi secara intens menggunakan bahasa Inggris. Dalam penelitian tentang kebijakan pendidikan dan penerapan kurikulum bahasa Inggris sebagai bahasa asing, Lie mengungkapkan bahwa harus ada sebuah komitmen dari pihak sekolah untuk menyelenggarakan pembelajaran bahasa Inggris secara lebih baik dengan mengacu pada metoda-metoda pengajaran yang bertujuan untuk meningkatkan nilai ujian para siswa (Mulyanto dan Syahman, 2009: 1).
Pelksanaan pembelajaran bahasa Inggris di SMA ___ kelas X selama ini masih dilaksanakan dengan hanya banyak memanfaatkan indera pendengaran siswa. Guru lebih banyak ceramah dengan berfokus pada penjelasan-penjelasan naratif tentang konsep bahasa Inggris. Aktivitas siswa lebh banyak dalam kegiatan mendengarkan dan membaca. Berdasarkan survey awal yang dilakukan di kelas X-B, didapat fakta-fakta sebagai berikut:
1.      Terdapat 15% siswa yang jenuh dalam pembelajaran bahasa Inggris karena hanya mendengarkan guru yang berceramah.
2.      Terdapat 67% siswa yang menganggap pembelajaran bahasa Inggris, khususnya untuk speaking cukup sulit, sehingga mereka kurang berminat dan merasa kurang mampu dalam menguasainya.
3.      Prestasi belajar bahasa Inggris siswa  khususnya untuk speaking cukup rendah, dengan nilai rata-rata kelas 6,26 dengan 45% siswa tuntas belajar, sedangkan target yang ditetapkan dalam KKM adalah 70% siswa tuntas belajar, dengan nilai rata-rata kelas minimum adalah 7,5.
Kondisi tersebut menuntut kreativitas guru dalam pelaksanaan proses pembelajaran, sehingga masalah-masalah tersebut dapat dikurangi atau dihilangkan.
Salah satu model pembelajaran yang dapat diterapkan untuk menyelesaikan masalah kualitas pembelajaran adalah model Totally Physical Response (TPR). Menurut Richards J dalam bukunya Approaches and Methods in Language Teaching, TPR didefinisikan sebagai
cara pembelajaran bahasa yang disusun pada koordinasi perintah (command), ucapan (speech) dan gerak (action); dan berusaha untuk mengajarkan bahasa melalui aktivitas fisik (motor). Metode TPR ini sangat mudah dan ringan dalam segi penggunaan bahasa dan juga mengandung unsur gerakan aktivitas sehingga dapat menghilangkan stress pada peserta didik karena masalah-masalah yang dihadapi dalam pelajarannya terutama pada saat mempelajari bahasa asing, dan juga dapat menciptakan suasana hati yang positif pada peserta didik yang dapat memfasilitasi pembelajaran sehingga dapat meningkatkan motivasi dan prestasi siswa dalam pelajaran tersebut. Makna atau arti dari bahasa sasaran dipelajari selama melakukan aksi.
Atas dasar latar belakang dan pemikiran tersebut, maka dirasa perlu untuk dilaksanakan penelitian yang berjudul “Pelaksanaan Model Pembelajaran Totally Physical Response (TPR) untuk Meningkatkan Prestasi Belajar Speaking dalam Bahasa Inggris Siswa Kelas X-B SMA______

B.     Identifikasi Masalah
Berdasarkan atas latar belakang masalah yang telah diuraikan, dapat diidentifikasi adanya permasalahan-permasalahan sebagai berikut:
1.      Proses pembelajaran bahasa Inggris di kelas X SMA ___ selama ini masih banyak menggunakan model ceramah yang berfokus pada indera pendengaran siswa, sehingga siswa kurang aktif dalam keterlibatanya berfikir dan bertindak sesuai dengan materi pembelajaran yangh disampaikan.
2.      Prestasi belajar bahasa Inggris siswa, khususnya untuk speaking, masih rendah, dengan nilai rata-rata kelas hanya 6,0 dan hanya 65% siswa yang tuntas belajar.
3.      Terdapat siswa yang mudah jenuh dengan pembelajaran bahasa Inggris dan cukup banyak siswa yang menganggap bahawa materi pembelajaran speaking cukup sulit, sehingga siswa merasa kurang berminat dengan materi bahasa Inggris.

C.    Pembatasan dan Rumusan Masalah
1.    Pembatasan Masalah
Penelitian ini dilaksanakan terbatas pada masalah-masalah sebagai berikut:
a.         Pelaksanaan pembelajaran bahasa Inggris pada siswa kelas X-B dengan model pembelajaran TRP untuk materi speaking.
b.         Besarnya peningkatan prestasi belajar siswa kelas X-B untuk speaking dalam  bahasa Inggris setelah dilakanakan proses pembelajaran dengan model TPR.
2.    Rumusan Masalah
Berdasarkan atas latar belakang masalah, identifikasi masalah, dan pembatasan masalah yang telah diuraikan, dibuat rumusan masalah penelitian sebagai berikut:
1.      Bagaimanakah pelaksanaan pembelajaran bahasa Inggris untuk materi speaking  dengan model pembelajaran Totally Physical Response (TPR) pada siswa kelas X-B SMA ____?
2.      Seberapa besarkah peningkatan prestasi siswa kelas X-B untuk speaking dalam bahasa Inggris setelah dilaksanakan proses pembelajaran dengan model pembelajaran Totally Physical Response (TPR)?

D.    Tujuan Penelitian
Tujuan dari dilaksanakannya penelitian ini adalah untuk mengetahui hal-hal sebagai berikut:
1.         Langkah-langkah pelaksanaan pembelajaran speaking dalam bahasa Inggris dengan model pembelajaran Totally Physical Response (TPR) pada siswa kelas X-B SMA ____.
2.         Besarnya peningkatan prestasi siswa kelas X-B untuk speaking dalam bidang bahasa Inggris setelah dilaksanakan proses pembelajaran dengan model pembelajaran Totally Physical Response (TPR).
E.     Manfaat Hasil Penelitian
Hasil penelitian diharapkan dapat memberikan manfaat dalam dua aspek sebagai berikut:
1.      Aspek Teoretis
Hasil penelitian diharapkan dapat meningkatkan khasanah pengetahuan dibidang teknologi kependidikan, khususnya terkait dengan model pembelajaran bahasa Inggris.
2.      Aspek Praktis
Hasil penelitian diharapkan dapat memberikan manfaat bagi:
a.       Sekolah
Guna memberikan masukan pada sekolah tentang arti penting pengembangan teknologi kependidikan dalam proses pembelajaran bahsa Inggris dalam rangka meningkatkan kualitas proses pembelajaran di sekolah sehingga diharapkan dapat mendukung tercapainya peningkatan output sekolah maupun daya saing sekolah.
b.      Bagi Guru
Guna memberikan masukan pada guru tentang prosedur pelaksanaan model pembelajaran TPR dalam bidang bahasa Inggris dalam rangka meningkatkan prestasi belajar siswa.
c.       Bagi Siswa
Hasil penelitian diharapkan dapat membantu siswa dalam memproleh kemudahan belajar bahasa Inggris di kelas, sehingga prestasi siswa dapat ditingkatkan lebih baik.

DAFTAR PUSTAKA

. Setia Mulyanto dan Luciana Syahman, 2009. Pengembangan Kompetensi Bahasa Inggris di SMA dengan Menggunakan Pendekatan Inquiry Melalui Kegiatan “Independent Movie Festival: Anti Bullying Campaign”. Jurnal Penelitian, No 1, Vol. 9, Edisi April 2009.
Sudibyo Manullang, 2010. Otonomi Pendidikan: Suatu Analisis Implementasi Manajemen Pendidikan. Pidato Pengukuhan Guru Besar Universitas Negeri Yogyakarta. Yogyakarta: UNY
Lasti Nur Satiani, 2012. Efektivitas Pembelajaran Totally Physical Response dalam Meningkatan Kemampuan Menyimak Bahasa Jepang (Eksperimen Terhadap Mahasiswa Jurusan Bahasa Inggris di STIBA Satya Wacana). Jurnal Teknologi Pembelajaran, No 1, Vol 1, Edisi Januari, 2012. Yogyakarta: UNY. Tidak diterbitkan
Richard, Jack and Theodore. 1986. Approach and Methods in Language Teaching. Cambridge: Cambridge University Press.

Makmun, H.A., Samsudin. 2007. Psikologi Kependidikan. Jakarta: Rineka Cipta

Miles, J.A dan Huberman, P. 2001. Metode Penelitian Kualitatif. Jakarta: UI Press

Lexy J, Moeloeng. 2007. Penelitian Tindakan Kelas. Bandung: Remaja Rosdakarya

  

Untuk mendapatkan file skripsi / Thesis / PTK / PTS lengkap (Ms.Word),
hubungi : 085 728 000 963

0 komentar:

Posting Komentar

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites