Paksa Messenger

Kami Menyediakan Referensi, Kami Membantu, Kami Menolak PLAGIATISME

Sabtu, 28 Mei 2011

TK 001 - UPAYA PEMBERIAN MOTIVASI OLEH GURU UNTUK MENGURANGI KENAKALAN ANAK DI TAMAN KANAK-KANAK

UPAYA PEMBERIAN MOTIVASI OLEH GURU UNTUK MENGURANGI KENAKALAN ANAK DI TAMAN KANAK-KANAK TRI BHAKTI SRAGEN TAHUN PELAJARAN

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk: (1) Bentuk-bentuk kenakalan anak dalam fase masa kanak-kanak awal (early chilhood) di Taman Kanak-Kanak Tri Bhakti Sragen, (2) Model-model upaya pemberian motivasi yang dilakukan guru untuk mengurangi kenakalan anak di Taman Kanak-Kanak Tri Bhakti Sragen.

Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian tindakan kelas (PTK) dengan menggunakan prosedur siklus. Penelitian dilaksanakan di Taman Kanak-Kanak Tri Bhakti Kabupaten Sragen, pada tahun pelajaran 2009/2010.

Hasil penelitian yang diperoleh adalah: (1) Bentuk kenakalan anak di Taman Kanak-Kanak Tri Bhakti Sragen meliputi kebiasaan mengumpat, gemar berkata bohong dan mengarang ceritera palsu, menyerang secara fisik atau melakukan tindak kekerasan, suka marah-marah dan mudah putus asa, sombong dan merendahkan orang lain, otoriter, serta sifat suka merusak, (2) Upaya motivasi yang diberikan meliputi: (a) Tindakan untuk kebiasaan mengumpat, melatih berdiplomasi dan cara membujuk yang baik sehingga tidak perlu mengumpat, menunjukkan manfaat berdiplomasi, menunjukkan dampak buruk mengumpat, dan memberikan insentif, (b) Tindakan untuk kebiasaan berbohong dan mengarang ceritera palsu, diakukan dengan meatih menemukan (mengingat) pengalaman nyata untuk diceriterakan, menunjukkan manfaat berkata jujur, menunjukkan resiko berbohong, dan memberikan insentif (c) Tindakan untuk tindakan menyerang secara fisik diakukan dengan melatih bersaing secara positif melalui lomba olah raga untuk dapat menjadi ketua regu, menunjukkan dampak buruk suka berbuat kekerasan (menyerang), menunjukkan manfaat bersaing psoitif, dan memberikan insentif, (d) Tindakan untuk anak yang suka marah dan mudah putus asa dilakukan dengan menumbuhkan semangat anak untuk melakaukan hal-hal baru hingga tak perlu putus asa, menjelaskan manfaat perlombaan, menunjukkan dampak buruk dari kebiasaan putus asa, memberikan insentif, (e) Tindakan untuk anak yang sombong dan merendahkan orang lain dilakukan dengan melatih rendah hati dan menunjukkan manfaatnya, menunjukkan dampak buruk bersikap sombong, memberikan insentif, (f) Tindakan untuk anak yang otoriter dilakukan dengan melatih bersikap demokratis atau melatih bermusyawarah, melatih menjadi pemimpin kelompok, menunjukkan manfaat musyawarah (demokratis), menunjukkan resiko otoriter, dan memberikan insentif, (g) Tindakan untuk anak yang perusak dilakukan dengan melatih mengungkapkan keinginan yang berhasil, menunjukkan manfaat mengungkapkan keinginan, menunjukkan resiko gemar merusak, dan memberikan insentif.

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar belakang Masalah

Pendidikan yang baik adalah pendidikan yang mampu memberikan kontribusi terhadap peningkatan kualitas sumberdaya manusia. Mulyasa (2006: 3) mengemukakan bahwa sedikitnya terdapat tiga syarat utama yang harus diperhatikan dalam pembangunan pendidikan agar mampu memberikan kontribusi terhadap peningkatan kualitas SDM, yaitu (1) sarana gedung, (2) bahan atau buku yang berkualitas, (3) guru dan tenaga kependidikan yang profesional.

Guru yang profesional merupakan unsur yang utama dalam membangun kualitas pendidikan anak karena guru merupakan sumberdaya manusia yang berperan dalam mengatur strategi penyelenggaraan proses pembelajaran untuk mengubah perilaku siswa menuju yang lebih baik melalui tranformasi pengetahuan, pengalaman, maupun dengan melakukan upaya-upaya pemecahan masalah yang terjadi dalam pendidikan. Pemahaman mengenai peran guru dalam mengajar bukan hanya sekedar melaksanakan kegiatan mentransformasi pengetahuan saja, tetapi juga dalam proses membimbing kegiatan belajar anak. Mulyasa (2006: 35) mengemukakan peran-peran guru dalam dunia pendidikan sebagai berikut:

1. Guru sebagai pendidik. Sebagai pendidik, guru dianggap menjadi tokoh panutan, dan identifikasi bagi peserta didik dan lingkungannya.

2. Guru sebagai pengajar. Guru memiliki tugas dalam suatu proses pembelajaran. Peran guru sebagai pengajar ini merupakan peran yang sangat umum dan dipahami oleh masyarakat, dimana guru memberikan pembelajaran materi-materi pada siswa yang sedang berkembang untuk mempelajari sesuatu yang belum diketahui siswa. Dalam hal ini, guru merupakan media pentransfer pengetahuan.

3. Guru sebagai pembimbing. Guru dapat diibaratkan sebagai pembimbing perjalanan (journey) yang berdasarkan pengetahuan dan pengalamannya bertanggung jawab atas perjalanan tersebut. Perjalanan siswa dalam pendidikan bukanlah perjalanan dalam arti fisik, akan tetapi perjalanan dalam arti aspek mental, emosional, kreatifitas, moral, dan spiritual yang lebih dalam dan kompleks

4. Guru sebagai pelatih. Proses pendidikan dan pembelajaran memerlukan adanya pelatihan ketrampilan, baik untelektual maupun motorik, sehingga menuntut guru untuk betrtindak sebagai pelatih.

5. Guru sebagai penasehat. Guru adalah penasehat bagi peserta didik, bahkan bagi orang tua siswa, meskipun guru tidak melakukan pelatihan khusus untuk berperan sebagai penasehat professional.

6. Guru sebagai pembaharu (innovator). Guru menterjemahkan pengalaman yang telah lalu ke dalam kehidupan yang bernakna bagi peserta didik.

7. Guru sebagai model dan teladan. Guru merupakan model atau teladan bagi peserta didik maupun bagi semua orang yang mengganggap dirinya sebagai guru. Sikap, tindakan, dan kepribadian guru merupakan suatu indikator yang sangat diperhatikan oleh peserta didik. Guru merupakan suatu acuan bagi perilaku siswa.

8. Guru sebagai pribadi. Sebagai individu yang berkecimpung dalam dunia pendidikan, guru harus memiliki kepribadian yang mencerminkan sebagai seorang pendidik

9. Guru sebagai peneliti. Pembelajaran merupakan suatu seni yang memerlukan penyesuaian-penyesuaian terhadap kondisi lingkungan. Untuk itu diperlukan penelitian-penelitian pendidikan yang melibatkan guru. Keaktivan guru dalam mengembangkan penelitian kependidikan merupakan hal yang sangat penting bagi keberhasilan proses belajar-mengajar.

10. Guru sebagai pendorong kreativitas. Kreativitas merupakan hal yang sangat penting dalam pembelajaran, dan guru harus memiliki kemampuan dalam mendemonstrasikan kreativitas. Dengan demikian, maka guru memiliki peranan dalam menunjukkan, memicu, mendorong, dan memunculkan kreativitas siswa.

11. Guru sebagai pembangkit pandangan. Siswa belajar untuk mengetahui hal yang belum diketahuinya. Dalam hal ini, guru merupakan salah satu aktor utama yang memiliki peran dalam mentransfer pengetahuan serta memberikan pandangan-pandangan tentang suatu hal kepada siswa. Siswa yang belum memiliki cara pandang tersendiri terhadap suatu hal cenderung akan mengikuti bagaimana gurunya memandang suatu hal, oleh karena guru dianggap sebagai model atau sosok yang lebih memahami hal tersebut.

12. Guru sebagai pekerja rutin. Guru bekerja dengan ketrampilan, dan kebiasaan tertentu serta kegiatan rutin yang sangat diperlukan.

Hal-hal tersebut diatas merupakan sebagian dari peran penting guru dalam pendidikan. Konsep peran guru tersebut secara jelas mengemukakan bahwa peran guru bukan hanya dalam aspek membimbing untuk mempelajari suatu materi, akan tetapi juga membimbing perkembangan kejiwaan siswa menuju manusia yang memiliki iman-taqwa (imtaq) dan berkualitas baik. Pembentukan siswa menjadi insan berkualitas merupakan salah satu tugas pendidik, dimana siswa dibimbing agar memiliki prestasi akademik dan memiliki kualitas perilaku atau kejiwaan yang sesuai dengan norma-norma agama dan sosial. Guru memiliki peran yang kuat dalam membentuk moralitas, kejiwaan atau psikology siswa, kepribadian, serta dalam kualitas akademik siswa.

Mengenai kenakalan anak, Yusuf (2006 :34) menjelaskan sebagai berikut:

Kenakalan anak merupakan suatu perilaku yang dianggap menyimpang dari aspek moral, kesusilaan, maupun agama. Kenakalan siswa memiliki tingkatan yang berbeda-beda, dari tingkat ringan, sedang, sampai berat. Kenakalan dalam tingkatan yang ringan belum membahayakan dan pada umumnya masih mudah untuk ditanggulangi. Kenakalan dalam tingkat sedang merupakan kenakalan yang apabila dibiarkan akan mengakibatkan dampak yang sangat buruk bagi siswa maupun lingkunganm akan tetapi tingkatan ini masih mudah untuk ditanggulangi. Sedangkan kenakalan dalam tingkat berat merupakan kenakalan yang dianggap serius, sangat berbahaya bagi perkembangan siswa dan lingkungan, serta sulit ditanggulangi. Seberapapun tingkatan suatu kenakalan, hal ini merupakan suatu kondisi yang sangat perlu untuk segera ditanggulangi, demi masa depan siswa dan kenyamanan lingkungan belajar siswa (Yusuf, 2006: 34).

Sementara itu, secara psikologis, anak tingkat sekolah taman kanak-kanak berada dalam fase masa kanak-kanak awal (early chilhood). Hal ini sebagaimana dijelaskan Rizky (2009 :3) sebagai berikut:

Awal masa kanak-kanak berlangsung dari dua sampai enam tahun. Masa ini dikatakan usia pra kelompok karena pada masa ini anak-anak mempelajari dasar-dasar perilaku sosial sebagai persiapan bagi kehidupan sosial yang lebih tinggi yang diperlukan untuk penyesuaian diri pada waktu masuk ke fase berikutnya. Menurut Pieget, pada usia ini anak memiliki sifat egosentris, sehingga berkesan ingin menang sendiri karena ia tidak bisa melihat dari sudut pandang orang lain. Anak tersebut juga memiliki kecenderungan untuk meniru orang di sekelilingnya. Sedangkan pada saat berusia 6-7 tahun mereka sudah mulai mengerti motivasi, namun mereka tidak mengerti cara berpikir yang sistematis-rumit (Rizky, 2009: 3).

Berdasarkan konsep tersebut, maka dalam membimbing anak yang masih dalam fase belajar awal dengan karakteristik egosentris, masih dalam tahapan meniru, dan belum mampu berfikir rumit bahkan untuk sekedar membedakan baik dan buruk ini diperlukan adanya penanganan khusus yang sesuai dengan fase perkembangannya oleh guru. Bimbingan yang dilakukan dengan menggunakann pendekatan untuk anak remaja dan orang dewasa tidak akan sesuai untuk anak dalam fase ini.

DAFTAR PUSTAKA

Arikunto, Suharsimi. 2002. Prosedur Penelitian. Jakarta: Rineka Cipta

Barnadib, Sutari Imam. 1984. Pengantar Ilmu Pendidikan Sistematis. Yogyakarta: IKIP

Greegory Hansen. 1988. Motivation Technique in Education. New York, McGraw Hill.

H.A. Syamsudin Makmun. 2007. Psikologi Kependidikan. Bandung: Remaja Rosda Karya

Mahmud Yusuf, 2006. Pengantar Psikologi Anak dan Perkembangan. Jakarta: Ramadhani

Mulyasa. 2007. Menjadi Guru Profesional. Bandung: Remaja Rosda

Majid, Abdul. 2007. Perencanaan Pembelajaran (Mengembangkan Standar Kompetensi Guru). Bandung: Remaja Rosdakarya.

Prasetya Irawan. 1994. Teori Belajar, Motivasi, dan Ketrampilan Mengajar Bahan Ajar. Jakarta: Dikti Depdikbud.

Purwanto, M. Ngalim. 1998. Ilmu Pendidikan Teoretis dan Praktis. Bandung: Remaja Rosda

Ridwan, Rifai.1992. Kamus Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka

Sondang P. Siagian. 1995. Teori Motivasi dan Aplikasinya. Jakarta: Rineka Cipta

Soetomo.1993. Dasar-dasar Interaksi Belajar Mengajar. Surabaya: Usaha Nasional.

Tilaar, H.A.R. 2004. Paradigma Baru Pendidikan Nasional. Jakarta: Rineka Cipta.

Untuk mendapatkan file skripsi / Thesis / PTK / PTS lengkap (Ms.Word), hubungi : 08572 8000 963

0 komentar:

Posting Komentar

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites